Mohon tunggu...
Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Mohon Tunggu... Menebus bait

Karyawan swasta dan penulis. Menulis sejak 1989 sampai sekarang

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | [Lorong Rona] Hari Kedua

2 April 2020   13:29 Diperbarui: 2 April 2020   13:28 42 9 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen | [Lorong Rona] Hari Kedua
sumber ilustrasi : pixabay

Hari Pertama

Rumah 02 itu tak ada otak. Sombong! Rumah lain pada akur menghadap lorong, tapi dia menghadap dinding rumah tetangga. Setali tiga uang, pemiliknya juga rada sombong. Lelaki bernama Rama yang sama sekali tak ramah. Dia berkulit sehitam  kuali, berkacamata plus hampir setebal pantat botol.

Setiap fajar, dia rutin berdiri di samping rumahnya yang menghadap lorong, sekadar membuang ludah. Terkadang ditambah bonus kentut. Apakah dia senyum ketika ada orang yang melintas di depannya? Jangan harap! Wajahnya kaku seperti tembok. Dia tak pernah berbincang, sehingga orang mengira dia bisu. Dia tak  mau kumpul-kumpul dengan tetangga untuk hajat apapun. Apalagi hajat yang mengharuskan keluar duit atau tenaga. Pokoknya dia persis seperti patung kodok di depan lorong. Dia ada atau tidak, orang seakan tak memperhatikan. Menyebutkan namanya saja orang merasa rugi. Jangankan pula menyapa.

Kabarnya dulu dia penulis kawakan  di sebuah penerbitan. Hari-hari dilewatinya hanya dengan menulis. Di kantor menulis, di rumah menulis, di ruang makan, dapur, kamar mandi, kakus tetap menulis, bahkan orang menebak, saat dia sedang tidur, dia tetap menulis meski berupa mimpi. Tapi seiring banyak penerbitan  yang gulung tikar, termasuk penerbitan tempat dia bekerja, akhirnya dia dirumahkan. 

Kata orang---ini kata orang---dia masih tetap menulis. Bila dulu di badan kertas, sekarang di badan tembok, yakni di dinding sebelah  dalam rumahnya. Tak ada lagi tempat lowong kecuali diisi tulisan carut-marut.  Lalu, apakah sekarang,  maksudnya saat saya menulis kisah ini, dia juga masih betah menulis di badan tembok? Saya sendiri tak tahu dan tak mau tahu dan tak ingin mencari tahu. 

Dia  mulai jarang keluar rumah sejak ada wabah melanda kota. Bahkan sekadar meludah ke samping rumahnya yang menghadap lorong, pun tak pernah dia lakukan. Mungkin dia takut disuruh warga menjilat ludahnya sendiri, asbab apapun yang keluar dari mulut adalah wabah, kuman.
Sehari, dua hari, tiga hari, tak ada yang kehilangan dia, meski batang hidungnya tak pernah kelihatan. Seminggu, dua minggu, tiga minggu, tetap saja warga tak perduli. Lalu, minggu keempat ada lalat hijau yang mengarah rumahnya. Dari sedikit, hingga bergerombol. Bau busuk perlahan menyeruak, membuat warga Lorong Rona ingin muntah.

"Bagaimana ini, Bu Rt Ona? Kita harus menggerebek rumahnya!"

"Emangnya dia bandar narkoba? Lagipula untuk apa kita menggerebek rumahnya?"

"Siapa tahu dia terkena wabah, lalu mati. Lalu kuman-kuman beralih menyerang warga. Bu Rt Ona mau tanggung jawab?"

"Hus!"

Atas kesepakan warga, rumah Rama akhirnya digrebek. Ada bangkai tikus di ruang tamunya. Di kamar tidur ada bangkai bebek. Bangkai kecoak tak terhitung. Bangkai cicak lebih tak terhitung. Bangkai Rama mana? Warga saling tatap. Mereka membersihkan bangkai di rumah itu sekalian mencari Rama. Hanya saja hingga rumahnya bersih dan licin, Rama sama sekali tak ditemukan. Di manakah dia? Apakah dia sebenarnya jin  atau setan?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x