Mohon tunggu...
Ridwan Saleh Fadillah
Ridwan Saleh Fadillah Mohon Tunggu... Freelancer - Mahasiswa Jurnalistik

Saat ini sedang belajar di Jurnalistik Unpad. Menyukai tema mengenai budaya, kuliner, teknologi, dan olahraga

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

School from Home, Dilema bagi Guru dan Orangtua

14 April 2020   13:51 Diperbarui: 14 April 2020   14:01 1382
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi school from home. Insider.com

Dunia saat ini sedang diserang wabah Covid-19. Kondisi ini menuntut berbagai negara di dunia untuk melakukan tindakan guna mencegah wabah penyakit ini menular. Singapura contohnya, seperti dilansir dari Kompas.com, meskipun tidak melakukan lockdown tetapi pemerintah Singapura mewajibkan pengukuran dan pelaporan suhu tubuh 2 kali sehari untuk semua yang aktif bekerja, baik pemerintahan maupun swasta. 

Pengukuran suhu tubuh juga diwajibkan sebelum masuk ke tempat umum seperti; restoran, rumah makan, bioskop, kantor pos, sarana olahraga seperti gym, tempat asuh anak, dan lainnya. Warganya juga dibebaskan dari biaya kesehatan yang berkaitan dengan gejala virus corona.

Tak hanya Singapura, Indonesia pun mengambil beberapa kebijakan untuk mencegah Covid-19 terus menyebar di Indonesai. Salah satunya adalah penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB. Presiden Joko Widodo, seperti dilansir oleh CNBCIndonesia.com, mengeluarkan kebijakan PSBB untuk menekan penyebaran virus corona. Keputusan itu tertulis dalam Peraturan Pemerintah Nomor Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang PSBB dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19.

Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto pun menerbitkan ketentuan tentang PSBB melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19. Dalam pedoman PSBB tersebut tertulis bahwa pemerintah akan membatasi aktivitas sekolah dan tempat kerja, kegiatan keagamaan, kegiatan di tempat atau fasilitas umum. Kemudian, kegiatan sosial dan budaya serta moda transportasi.

Pemberlakuan PSBB ini tentu saja berpengaruh ke banyak lapisan masyarakat, salah satunya adalah pelajar dan mahasiswa. Para pelajar dan mahasiswa diwajibkan untuk meninggalkan segala aktivitas belajar mengajar di sekolah atau kampusnya. Sehingga pembelajaran pun beralih ke pembelajaran daring. Walaupun banyak pro kontra mengenai perkuliahan daring, namun mau tak mau para pelajar dan mahasiswa ini tetap melakukannya demi mencegah penyebaran Covid-19.

Fania (19) salah satu mahasiswa Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Padjadjaran ini mengaku lebih senang jika perkuliahan tetap diadakan secara tatap muka. Dirinya mengaku jadwal kuliah selama perkuliahan daring ini menjadi tidak jelas. "Dosen jadi seenaknya memindahkan jadwal kuliah," tutur Fania saat dihubungi via chat Line.

Dengan keadaan yang seperti ini, semua jadwal perkuliahan dialihkan menggunakan beberapa aplikasi, seperti Google Classroom, Zoom, dan melalui email, Fania mengaku dirinya harus bisa belajar mandiri tanpa bantuan penjelasan dari dosennya.

Hal yang sama diungkapkan oleh Sultan (19), mahasiswa Jurusan Peternakan, Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran. Karena keadaan yang mengharuskan dirinya untuk tetap berada dirumah, semua perkuliahan Sultan dialihkan via daring, mulai dari kegiatan pematerian sampai praktikum pun ia lakukan via daring.

Sebagai mahasiswa peternakan, tentu saja normalnya Sultan dihadapkan pada praktikum yang menuntutnya untuk kontak langsung dengan hewan. Tetapi dengan adanya kebijakan dari Fakultas, semua praktikum tersebut ditiadakan. "Kalau seluruh praktikum yang berhubungan dengan kontak hewan dan manusia dihentikan. Sebagai gantinya, praktikumnya sendiri itu sekarang ini disi oleh pematerian saja tanpa adanya praktek langsung," kata Sultan.

Tentu saja, walaupun menuai pro kontra, para mahasiswa tetap bisa mengerjakan tugasnya secara mandiri tanpa adanya bantuan, termasuk dari orang tuanya. Karena kebanyakan dari mahasiswa tentu sudah diberikan gawai oleh orang tuanya, sehingga mereka tidak bergantung pada bantuan orang tua. Lalu bagaimana pelaksanaan school from home bagi siswa Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun