Mohon tunggu...
Ridho Ary Azhari
Ridho Ary Azhari Mohon Tunggu... Konsultan - Mahasiswa

Tak ada yang berubah ketika cuma berdiam diri

Selanjutnya

Tutup

Politik

Rokok dan Pembangunan

3 Mei 2019   16:09 Diperbarui: 3 Mei 2019   16:20 217
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Apa yang anda pikirkan ketika mendengar kata rokok atau tembakau? Jelas yang terbesit dalam pikiran kita adalah tentang bau asap yang tidak enak, penyakit pernafasan, penyakit jantung dan penyakit-penyakit lainnya. Dan tahukah anda mengapa rokok tidak dilarang secara tegas oleh pemerintah, dan masih dibiarkan saja beredar layaknya coklat yang ada di toko retail seluruh Indonesia.

Mengapa tidak dijual secara tertutup saja jika memang rokok adalah sumber penyakit dan sebab dari kesengsaraan di masyarakat? Semua pertanyaan itu tadi akan kita jawab melalui beberapa ulasan yang mungkin membuat anda sedikit mengkerutkan dahi karena terheran-heran. Akhir-akhir ini kejadian tentang perokok dibawah umur banyak disoroti oleh pemerhati kesehatan serta elemen masyarakat lainnya, karena dianggap mengancam masa depan bangsa dan sangat berbahaya bagi kesehatan generasi muda bangsa.

Mungkin karena kita sedang memasuki era digitalisasi yang sangat masif dan agaknya sedikit brutal. Mengapa saya sebut brutal, karena bisa dibilang dengan merambaknya era pemakaian smartphone yang sangat terjankau dan mudahnya penggunaan internet atau sosial media, kita sebagai konsumen tidak dibatasi untuk menggunakan gadget tersebut untuk hal yang positif ataupun negatif. Karena itu memang adalah sebuah dampak dari kebebasan masyarakat yang hidup di sebuah negara demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat. Informasi yang benar ataupun salah sulit untuk dibendung agar masyarakat tidak mengkonsumsi berita-berita hoax. Tapi sebenarnya itu akan bisa kita tanggulangi ketika kita memiliki filter bijaksanaan yang bisa menyaring informasi tersebut.

Tetapi dibalik semua itu, ada sebuah informasi atau berita-berita yang menghantui masyarakat, yaitu bahaya rokok dan angka kematian akibat rokok. Ditambah dengan berita-berita tentang bahaya rokok bagi orang yang berada disekitar perokok tersebut. Berbagai macam kebijakan yang diterapkan pemerintah untuk menanggulangi hal tersebut seakan tidak sedikitpun berpengaruh pada masyarakat itu sendiri dan si perokok tersebut. Salah satu yang di terapkan pemerintah adalah menaikan harga agar masyarakat berpikir ulang untuk membeli rokok. Kebijakan tersebut didukung oleh hasil survey Komnas Pengendalian Tembakau dan Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia bahwa 88% responden mendukung kenaikan harga rokok agar anak-anak tidak dapat membeli rokok lagi. Keresahan masyarakat yang anti pada rokok juga saat berada dilingkungan perokok, rasa kenyamanan untuk menghirup udara segar seakan direnggut oleh para perokok.

Di balik berbagai macam berita dan kabar yang mengulas bahaya rokok bagi kesehatan masayarakat terdapat sebuah fenomena bahwa cukai rokok termasuk salah satu pemasukan APBN terbersar bagi negara, yaitu sebesar Rp 205,5 triliyun pada tahun 2018. Bahkan juga mempekerjakan tenaga kerja sebesar 6,1 juta masyarakat. Yang mana ketika pabrik rokok di indonesia dihilangkan, akan menjadi sebuah kehilangan salahsatu pendapatan terbesar negara, dan bahkan itu akan berakibat pada terhambatnya pembangunan negara.

Sebagai negara agraris indonesia sangat mengandalkan pertanian sebagai mata pencaharian masyarakat dan berperan penting bagi perekonomian negara. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, jumlah produksi tembakau secara nasional mencapai kisaran 190.000 -- 200.000 ton per tahun, masih jauh dari kebutuhan industri yakni 320.000 -- 330.000 ton tembakau per tahun dengan jumlah luas lahan tembakau di Indonesia sebesar 195.620 hektar. Serta ada petani tembakau yang menggantungkan hidup dari industri tembakau sebesar 527.688 orang. Tetapi sigma yang muncul dikalangan masyarakat tentang produsen rokok atau industri tembakau telah di cap jahat karena dianggap sebagai sumber penyebab penyakit jantung seperti apa yang tercantum pada iklan-iklan di TV maupun sosial media. Bahwa rokok tidak sedikitpun memberikan manfaat yang baik bagi manusia.

Dengan propaganda di media rokok adalah sumber malapetaka dimasyarakat, kita menjadi sangat benci kepada industri rokok seperti halnya mereka adalah penjahat berdarah dingin, yang selalu siap mencari mangsa dari si perokok aktif. Memang benar riset banyak menunjukan bahwa rokok berakibat pada kematian dan penyakit yang sangat kronis. Tapi banyak yang lupa dan tidak tahu bahwa uang yang dialirkan oleh Kementrian Keuangan kepada pemerintah kota/kabupaten yang terkadang digunakan untuk pembangunan daerah bahkan gajih pegawai yaitu berasal dari dana cukai rokok. Yaitu Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT). Bahkan yang lebih paradoks adalah pemanfaat Cukai Rokok untuk menutup defisit keuangan Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Kalau kita analogikan dalam sebuah kegiatan hutang piutang, kita sedang mengembalikan hutang untuk kembali berhutang. Pada sektor perekonomian juga perlu kita timbang seberapa besar peranan tembakau dalam penopang keberlangsungan hidup masyarakat. 

ika kita melihat data pada Tahun 2017, Produksi Perkebunan  Rakyat di Provinsi penghasil tembakau, luas area yang dipakai rakyat untuk perkebunan tembakau adalah 205.608 Ha dan dapat memproduksi 997 Kg/Ha. Serta melibatkan 568.908 jiwa petani dalam proses penanaman sampai produksi tembakau. Namun itu masih pada sebuah sistem perekonomian rakyat. Lebih lanjut jika kita melihat data dari perkebunan yang dikelola langsung oleh negara di tahun yang sama 2017, ada 823 Ha lahan yang digunakan untuk perkebunan tembakau dan menghasilkan 802 Kg/Ha. Serta melibatkan 9.124 jiwa petani. Ditambah dengan perkebunan tembakau yang dikelola oleh swasta di tahun yang sama 2017, yaitu lahan sebesar 196 Ha dan menghasilkan 1.600 Kg/Ha tembakau. Serta juga melibatkan 320 jiwa petani. Jika dijumlah secara keseluruhan, ada 578.352 jiwa petani dan buruh tani yang menggantungkan hidup dari perkebunan tembakau.

Tentu bukan jumlah yang kecil dan tak dapat disepelekan. Jelas jika harga tembakau dinaikan, perusahaan tembakau akan memangkas pengeluaran untuk buruh dan hasil para petani agar tetap mendapatkan keutungan. Maka yang pertama merasakan dampak dari kenaikan harga rokok atau tembakau adalah seorang petani dan buruh tani tembakau. Terlepas dari roda perekonomian, kita juga perlu melihat dari sudut pandang lain. Perlulah kita juga melihat dibalik semua propaganda yang ada di media sosial, di TV dan semua riset-riset yang telah di keluarkan lembaga penelitian. Perlulah juga kita menimbang tentang siapa dibalik propaganda bahwa rokok sangat berbahaya dan mematikan.

Mungkin tidak banyak yang membaca tulisan Wanda Hamilton yang berjudul "NICOTINE WAR, Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat" karena terlalu skeptis dan sudah menjadi dogmatis bahwa rokok membahayakan bagi kesehatan. Serta banyaknya produk yang bertebaran untuk mengatasi konsumsi rokok berbentuk permen karet, koyok, pil dan sebagainya. Seakan melegitimasi bahwa tak sedikitpun hal positif yang ada pada rokok atau tembakau. Jika kita sedikit menengok sejarah kebelakang, nikotin pernah dipasok dalam jumlah besar untuk serdadu Perang Dunia I dan II, agak aneh bukan mengapa negara barat mau mengirim pasokan rokok untuk para serdadu perang mereka. Beberapa penelitian juga menemukan bahwa nikotin memiliki kemungkinan bagi pengobatan, untuk merawat penyakit tertentu.

Mereka sudah mengetahui bahwa nikotin meningkatkan konsentrasi dan kontrol syaraf motorik, bahwa nikotin meningkatkan ambang batas rasa sakit pada orang-orang tertentu, bahwa nikotin membantu menangkal rasa lapar. Logis bukan ketika alasannya seperti itu jika negara barat mau mengirimkan pasokan nikotin kepada para serdadu mereka. Bahkan yang lebih mencengangkan adalah nikotin mampu mengobati penyakit alzheimer yang mana suatu penyakit yang memilki keluhan pada penurunan daya ingat, kemampuan berpikir dan berbicara, serta perubahan perilaku secara bertahap. Dan juga mampu untuk mengobati penyakit parkinson yang mengalami keluhan pada kegelisahan, depresi dan demensia atau penurunan fungsi otak.

Dengan fakta-fakta tadi bisa kita ambil kesimpulan bahwa tidak sepenuhnya nikotin berdampak buruk bagi kesehatan manusia. Hal yang menarik bagi dunia farmasi untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan bahwa keadaan yang ada sekarang nikotin di "cap buruk" bagi masyarakat tentang dampak yang ditimbulkan. Tetapi nikotin hanya bisa diperoleh dari dari tanaman tembakau, tomat, kentang, dan sayur-sayur lainnya. Karena itulah perusahaan farmasi sangat tertarik menjadikan nikotin sebagai sumber pendapatan yang memang perilaku konsumsi rokok sangat besar di dunia.

Ibarat seseorang melihat buah yang sudah matang dan tinggal dipetik menggunakan kayu yang panjang, itulah keadaan perusahaan farmasi tersebut. Keadaan yang sudah sangat menguntungkan untuk merebut pundi-pundi uang hasil dari penjualan tembakau dan rokok yang mengandung nikotin tersebut sudah di depan mata. Data-data yang beredar di masyarakat tentang kematian akibat rokok itu sangat bersifat positivistik, sangat tidak menciptakan sebuah bentuk penyelesaian dari permasalahan penyakit jantung.

Tidak dapat menyimpulkan bahwa rokoklah penyebab utama tingginya angka kematian di masyarakat dan terlalu bersifat politik-ekonomi, sangat banyak faktor-faktor lain yang juga menybabkan penyakit jantung, salah satunya dari konsumsi makanan yang terlalu banyak mengandung kolesterol. Hal itu terbukti dengan giatnya perusahaan farmasi memproduksi nikotin dalam bentuk selain rokok, yang mana produk tersebut menjadi sebuah anti-tesis dari rokok tersebut. Jelaslah terlihat kemana arahnya perusahaan-perusahaan farmasi tersebut.

Pada tahun 1990-an  perusahaan farmasi mulai membangun kemitraan dengan lembaga-lembaga kesehatan publik. Pada 1991, Robert Wood Johnson Foundation (RWJF), pemegang saham tunggal terbesar Johnson & Johnson, memulai program hibah anti-tembakau, mendanai program anti-tembakau dan riset kecanduan nikotin. Pada tahun 1995 seorang wakil RWJF duduk di komite Antarlembaga AS untuk Rokok dan Kesehatan, membantu mengoordinasikan program pengendalian tembakau nasional, dan seiring berjalannya waktu semakin banyak pula lembaga yang mendanai dan mendukung program anti tembakau serta menciptakan produk penanggulangan pecandu tembakau.

Ditambah dengan makin kuatnya perusahaan-perusahaan farmasi dan lembaga-lembaga pendukung program anti-tembakau keetika bekerja sama dengan World Health Organization (WHO), menjadi kekuatan yang sangat besar untuk menumbangkan kekuatan industri tembakau diseluruh dunia. Namun bukan itu yang hendak saya soroti, beberapa fakta tadi cukup untuk membukakan mata kita yang selama ini terlelap oleh propaganda melalui media tentang mengapa rokok telah menjadi momok yang menakutkan bagi kesehatan maupun lingkungan. Tapi yang perlu kita lihat adalah dampak bagi pembangunan bangsa dan negara. Memang saya tidak menampik banyak dampak negatif dari perokok yang sedikit banyaknya merenggut kenyaman bernafas orang-orang yang tidak merokok.

Terbukti dalam Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 30/PMK.07/2018 tentang Rincian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau menurut Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota Tahun Anggaran 2018 mencatat bahwa tiap Provinsi minimal 5,7 triliun Rupiah. Tidak lupa kita harus sadar juga bahwa dana BPJS Kesehatan yang mengalami defisit, juga dibantu oleh pendapatan cukai tembakau dan pajak rokok sebesar 5 triliun Rupiah. Yang artinya setiap pembangunan di daerah kita, gajih pegawai serta belanja daerah, sebagian aliran dananya adalah hasil pendapatan cukai rokok yang selama ini kita hujat mati-matian karena terhasut oleh survey penenlitian bahaya merokok, iklan TV dan media sosial tentang bahaya rokok tanpa melihat sisi sebaliknya dari dampa positif rokok atau tembakau.

Dengan sebagai perokok aktif saya bukan berbangga diri dan menjustifikasi bahwa saya melakukan hal yang paling benar dan mengatakan saya adalah seorang pahlawan tanpa tanda jasa seperti guru, karena telah turut menyumbang untuk pembangunan dan menutup defisit keuangan BPJS Kesehatan. Bukan bermaskud untuk melakukan pembelaan terhadap perokok dan mencoba untuk melegitimasi perilaku merokok adalah sebuah kebaikan. Perlu bagi kita melihat dari berbagai sudut pandang agar lebih objektif dalam menilai sesuatu, dan tidak mendeskreditkan para perokok.

Tetapi perlu saya terangkan kita tidak bisa menutup mata jika selama ini kita menikmati fasilitas publik yang salah satu sumber dananya dari cukai tembakau dan pajak rokok. Maka dari itu sebagai warga negara yang baik haruslah kita mematuhi regulasi yang telah mengatur perokok agar tidak menggangu kenyamanan masyarakat yang tidak merokok, agar bisa saling tenang dalam melakukan aktifitas sehari-hari.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun