Mohon tunggu...
Ribut Achwandi
Ribut Achwandi Mohon Tunggu... Penulis - Penyiar radio dan TV, Pendiri Yayasan Omah Sinau Sogan, Penulis dan Editor lepas

Penyuka hal-hal baru yang seru biar ada kesempatan untuk selalu belajar.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Tukar Kado

24 Juni 2023   03:10 Diperbarui: 24 Juni 2023   03:13 131
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Tukar kado: Saya dan Mbak Budi Rahayu saat bertukar kado di Studio Radio Kota Batik (dok.pribadi)

Jumat sore, ketika kumandang azan Magrib terdengar dari corong masjid seberang jalan. Dari balik pintu kaca kantor Radio Kota Batik tampak seorang perempuan berjaket jin warna biru tua dengan kerudung merah muda berjalan mendekat. Lantas, membuka pintu. Saya yang saat itu tengah di ruang lobi segera menyambut kehadiran perempuan itu dan menanyakan keperluannya.

"Mau mengambil hadiah dari Kojah Sastra Giveaway," jawabnya.

Otomatis, saya langsung menanggapi. Lebih-lebih karena saya adalah pengasuh program siaran Kojah Sastra yang telah saya kawal selama tiga tahun. Saya persilakan perempuan itu duduk dan segera saya ambilkan bingkisan kecil dari Kojah Sastra yang tergolek di atas meja resepsionis.

"Silakan, mbak Budi Rahayu. Ini mohon diterima dengan seikhlasnya, karena mohon maaf saya belum bisa memberikan hadiah yang pantas untuk karya njenengan. Hanya bingkisan kecil ini yang baru bisa saya upayakan," kata saya sambil menyorongkan amplop berwarna cokelat.

Perempuan yang saya kenal namanya dari kiriman puisinya ke redaksi Kojah Sastra itu tersenyum. Lalu, ia bilang, "Ah, saya itu sudah sangat senang lho puisi saya bisa dibacain di Kojah Sastra. Lha ini kok ya alhamdulillah dapat apresiasi yang begini rupa."

Setelah mengucapkan itu, mbak Budi Rahayu kemudian merogoh tas dompetnya. Dari dalam tas itu saya melihat sebuah buku yang masih terbungkus plastik transparan di tangannya. Ia kemudian menyorongkan buku itu kepada saya.

"Ini mas, saya juga mau memberikan kado buat mas Ribut. Ya, karya kecil-kecilan sih. Masih belum sempurna," ucapnya.

Oleh pemberian itu, saya benar-benar merasa tersanjung. Saya merasa jika program Kojah Sastra yang saya bawakan tiap Kamis malam di Radio Kota Batik itu telah menancap kuat di hati mbak Budi Rahayu. Apalagi ia tidak hanya sekali berkirim karya. Namun, baru edisi bulan Juni ini karya mbak Budi Rahayu beruntung mendapatkan apresiasi.

"Wah, ini buku antologi puisi karya mbak?" tanya saya.

"Iya. Sebenarnya ada beberapa sih antologi yang saya terbitkan. Tapi, saya sengaja pilihkan yang itu," katanya.

Wow! Saya takjub. Ternyata, orang yang saya menangkan di Kojah Sastra Giveaway itu seorang penulis yang sudah sangat berpengalaman. Bagaimana tidak, ada belasan buku antologi puisi yang telah ia terbitkan. Bahkan, novel juga pernah ia terbitkan beberapa judul.

Pemberian mbak Budi Rahayu ini tentu membuat saya merasa sangat terhormat. Sebab, yang saya lakukan sebenarnya bukanlah hal besar. Saya hanya ingin memberikan tempat kepada para penulis, darimana pun asalnya, yang benar-benar memiliki semangat untuk memelihara kepenulisannya. Tidak peduli, apakah dia senior atau yunior. Apakah karyanya bagus atau tidak. Saya hanya ingin mengapresiasi atas semangat mereka.

Atas keterangan mbak Budi Rahayu itu, lalu saya tawarkan kepada beliau untuk bersiaran bersama. "Kapan ada waktu, bisa ya mbak, njenengan ikut siaran bareng saya? Kita ngobrol santai saja soal proses kreatif yang njenengan lakoni," tawaran saya kepada mbak Budi Rahayu.

"Wah, saya masih belum pede, mas. Masih malu kalau harus tampil," katanya agak malu-malu.

"Tenang, mbak. Akan saya pandu kok nanti. Dan, memang itu tujuan Kojah Sastra. Memberikan panggung kepada orang-orang seperti mbak Budi Rahayu untuk tampil. Supaya masyarakat Pekalongan dan masyarakat di luar sana tahu, bahwa di Pekalongan ada banyak penulis yang produktif seperti mbak Budi Rahayu," bujuk saya.

"Karya saya masih jauh mas dari kata layak," ucapnya berendah hati.

"Layak atau tidak, bukan saya yang mengukur. Juga bukan panjenengan sendiri yang mengukurnya. Tetapi, siapa tahu dengan njenengan tampil, masyarakat menjadi merasa perlu tahu dan ingin lebih tahu tentang njenengan dan karya njenengan. Eman-eman kalau karya hanya jadi koleksi pribadi," saya masih saja membujuk beliau.

Mbak Budi Rahayu sejenak terdiam. Lalu, ia berkata, "Coba nanti ya, mas? Kita kontak-kontakan, berbagi kabar."

Usai mengucapkan itu, mbak Budi Rahayu segera pamit. Buru-buru untuk mengejar magrib. Namun, sebelum ia pamit, saya meminta kesediaan beliau berfoto bersama. Beliau tak keberatan. Saya pun merasa lega dan bahagia.

Ya, pertemuan singkat itu benar-benar membuat saya bisa sedikit bernapas lega. Sebab, apa yang saya rintis sejak tiga tahun lalu secara perlahan-lahan mulai menumbuhkan hasil. Setidaknya, semakin saya tahu bahwa sesungguhnya ada banyak penulis di luar sana yang patut saya hormati. Ini sungguh pengalaman yang sama sekali berbeda dengan tempat kerja saya sebelumnya.

Di sana, untuk menggelar ajang perlombaan jauh lebih mudah. Sementara di sini, saya masih harus merangkak pelan. Menatanya dengan saksama dan mengelolanya dengan sebaik-baik mungkin. Meski begitu, saya sangat mensyukurinya. Apalagi ketika saya dipertemukan dengan orang-orang yang mungkin saja tak bergelar sarjana, namun produktif dan kreatif dalam berkarya. Salut untuk mereka. Hormat untuk semangat dan keteguhan hati mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun