Mohon tunggu...
Parliza Hendrawan
Parliza Hendrawan Mohon Tunggu... -

sy, laki-laki 32 tahun tinggal di Palembag (ini data 2010) ketika baru bergabung

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Masjid Nurul Jannah dan Tekad Warga Palem Kencana

28 Mei 2017   08:54 Diperbarui: 28 Mei 2017   09:28 1019
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

MASJID Nurul Jannah, terletak persis ditengah komplek Griya Palem Kencana (GPK), Talang Kelapa, Palembang. Usianya belum genap tiga tahun semenjak dilakukan peletakan batu pertama pada 30 Oktober 2015 silam. Meskipun demikian, patut disyukuri masjid dengan bangunan utama 9x9 m sudah bisa digunakan untuk shalat dan kegiatan keagamaan lainnya. Ini merupakan tahun kedua warga yang tinggal di RT 99 RW08 dan penduduk sekitarnya bertaraweh berjamaah.

Dibandingkan tahun sebelumnya, jamaah jauh lebih nyaman berada di masjid. Rumah ibadah yang dibangun secara swadaya warga, dermawan dan tanpa bantuan dari anggaran negara ini telah dilengkapi 4x1,5 PK pendingin ruangan. Selain itu bangunan utamanya sudah dipasang dinding kaca. Tidak hanya itu, masjid dengan konsep minimalis ini, pula dilengkapi dengan kamar mandi dan tempat wudhu akhwat dan ikhwan. Sedangkan untuk kenyamanan jamaah yang mengurusi masjid, panitia juga telah membangun kamar dan dapur untuk marbot serta tak ketinggalan ada ruang kantor yang juga dilengkapi pendingin ruangan.

Kondisi Masjid Nurull Jannah terbaru
Kondisi Masjid Nurull Jannah terbaru
Sejarah Pembangunan

Masjid Nurul Jannah sudah cukup lama menjadi angan-angan warga setempat. Bahkan Yulius, seorang warga berinisiatif menyewa konsultan untuk membuat gambar sekalian detail bahan dan perkiraan dana yang dibutuhkan. Namun meskipun siteplan sudah ada, rencana tetaplah tinggal rencana karena mimpi itu sulit diwujudkan dengan alasan minimnya dana. Maklum dibutuhkan dana sekitar Rp1,2 miliar untuk menuntaskan proyek akhirat ini. Obrolan ringan terus dihangatkan pada setiap konkow-konkow warga dan disela-sela hajatan warga misalnya. Hingga satu saat, warga bersepakat untuk membentuk panitia pembangunan yang dinakhodai oleh Widi Asmono, Toni Efendi, M. Paisal, Hisyam, Mahlar, Sulaiman (alm), HM Sanan, Selamat Sunarlis serta segenap warga.

Peletakan batu pertama pada 30 Oktober 2017
Peletakan batu pertama pada 30 Oktober 2017
Mereka ini memiliki latar belakang yang mumpuni. Widi misalnya lama bergerak dalam bidang property, Tony dan Mahlar serta Sulaiman jago dalam mencari sumber pendanaan. Sedangkan Hisyam dan HM Sanan merupakan ulama serta Paisal dan Selamat merupakan personal yang memahami administrasi kependudukan dan pemerintahan. Setelah melakukan pematangan rencana, pada satu hari persisnya akhir Oktober 2015, dilakukanlah peletakkan batu pertama dengan mengundang lurah, pengembang dan seluruh warga disana. Perlu dicatat diawal proyek berjalan, panitia pembangunan tidak memiliki dana yang memadai. Persisnya ketika itu warga hanya bermodalkan tekad dan keyakinan bila masjid akan segera terwujud. Benar saja, begitu tukang mulai bekerja, antusiasme warga untuk berinfaq dan berodaqoh sangat tinggi.

Tiga bulan setelah peletakkan batu pertama
Tiga bulan setelah peletakkan batu pertama
"Donatur" ini tidak hanya berasal dari internal GPK akan tetapi berasal dari luar komplek bahkan dari luar kota. Pernah satu ketika, seorang warga berinisiatif untuk membeli beberapa truk batu bata, pasir, koral dan puluhan sak semen setelah mendengar bila proyek hampir dihentikan karena ketiadaan dana untuk membeli material. Infaq warga yang berlatar belakang tauke atau pebisnis karet ini bukan hanya sekali akan tetapi telah berkali. Panitia juga memanfaatkan jaringan keluarga, kerabat, profesi dan kolega. Cara tersebut terbukti efektif tanpa harus bolak-balik memasukkan proposal dari kantor ke kantor.

Kendala Dan Solusi

Pembangunan tidak selalu mulus sesuai dengan keinginan. Bahkan sempat beberapa waktu kegiatan dihentikan karena kas di rekening pembangunan sedang kosong. Pada waktu bersamaan hutang di toko bangunan sudah mencapai puluhan juta. Sebagai salah satu momen yang sempat direkam itu terjadi pada awal tahun lalu. Ketika itu, panitia berencana membangun dua kamar mandi dan tempat wudhu untuk ibu-ibu dan bapak-bapak. Panitia sempat “panik” karena khawatir jamaah taraweh harus berwudhu di rumah karena dimasjid belum ada sarana penunjangnya. Namun ketakutan itu sirna karena semenjak beberapa pekan sebelum ramadhan tiba, fasilitas penunjang itu sudah selesai.

Mengajai di masjid Nurul Jannah
Mengajai di masjid Nurul Jannah
Panitia dan warga yang dimotori bendahara masjid ini berhasil memecahkan kebuntuan itu. Mereka berhasil mendapatkan dana segar dalam jumlah yang besar dari beberapa orang kerabat dan kolega. Bahkan untuk biaya pembangunan dua unit kamar mandi dan tempat wudhu ikhwan dan ikhwat, kantor dan ruang marbot ditanggung oleh seseorang yang tak lain merupakan dulur  dari salah seorang panitia sendiri. Awalanya saya sempat ragu mendengar bisik-bisik bila ada yang berkomitmen menanggung seluruh biaya karena saya tahu bangunan yang berada persis di bagian depan dan belakang masjid ini akan menghabiskan dana lebih dari Rp 100 juta.

Dari momen diatas, sekali lagi saya harus katakan bahwa memanfaatkan jaringan keluarga, kerabat, profesi dan kolega jauh lebih efektif. Meminta bantuan dari pemerintah tidak dilarang namun sejauh ini belum panitia lakukan karena berbagai alasan. Akan tetapi dalam waktu yang akan datang bukan tidak mungkin hal itu dilakukan demi kebaikkan bersama.

Tugas Berikutnya

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun