Politik

AHY dan Obat Galau Kaum Milenial

14 November 2017   15:51 Diperbarui: 14 November 2017   18:07 594 0 1
AHY dan Obat Galau Kaum Milenial
sumber: edupublik.com


Salahkah jika saya menuliskan judul diatas?, rasanya tidak. Cobalah hari ini membaca situs jejaring pertemanan di media sosial. Sosok putra pertama Presiden RI ke 6 itu memang menjadi sosok yang pantas disebut sebagai sosok yang pantas dikedepankan dan dibahas sebagai seorang politii muda "Obat Galau Kaum Milenial"


Hasil survey lembaga riset CSIS beberapa waktu lalu menempatkan pria berumur 39 tahun itu sebagai politisi muda yang mendapatkan tempat dihati pemilih pemula (baca; kaum milenial). AHY menjelma dan sukses menjalani transformasi dari seorang perwira militer berpangkat Mayor dari kesatuan Infanteri menjadi seorang politisi yang digandrungi anak seusianya.

Lalu, kenapa saya sebut AHY sebagai "Obat Galau". Jadi begini awalnya. Era reformasi yang sudah berjalan hampir dua puluh tahun ternyata belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. Tujuan awal dari reformasi adalah menciptakan iklim politik yang kondunsif, kritis dan dinamis telah beralih arah menjadi penuh intrik dan saling serang satu dengan lainnya. Pasca reformasi, terlebih pasca Pilpres 2014, politik Indonesia seakan bergerak menjauh dari cita cita itu.

Nuansa dan iklim demokrasi juga seperti mengalami penurunan. Praktik bullying, caci maki dan ujaran penuh kebencian seakan menjadi santapan setiap hari, terlebih sejak media media sosial seakan menjadi sarana untuk itu.

Disinilah kemunculan AHY, ditengah dua kutub yang saling serang satu dengan lainnya, lulusan terbaik Akmil tahun 2000 itu hadir dengan tawaran rekonsiliasinya. Pasca Pilkada DKI yang diikutinya, AHY menjadi motor rekonsiliasi politik nasional. Memang masih jauh perjalanan menuju tercapainya rekonsiliasi itu, namun Dia sudah memulai saat yang lain masih saja bersitegang urat leher soal siapa yang paling benar dalam berdemokrasi.

Kaum milienal atau generasi X saat ini sudah jelas sangat jenuh dengan keributan politik, korupsi dan banyaknya ujaran kebencian yang memenuhi ruang ruang maya dan nyata. Mereka membutuhkan figur yang mampu membawa angin segar bagi demokrasi.

Nah, disinilah AHY muncul, Ia membawa pesan damai demokrasi. Bahwa kalah dan menang dalam sebuah pemilihan bukan kiamat dalam sebuah perjalanan politik. Ia mengakui kekalahan dengan gagah dan ksatria. Hal itu jauh dari sikap yang selama ini dipertontonkan oleh para politisi.

Bahkan pada saat lain, AHY juga aktif komunikasi dengan kalangan lain. Ia datang ke Pelantikan Gubernur DKI Jakarta di Istana Negara. Esoknya, dalam diam, diam diam dia mengunjungi kompetitornya Basuki Tjahaja Purnama di Mako Brimob Kelapa Dua Depok. Tak lama berselang, Ia mengunjungi Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto yang juga sahabat ayahnya. Sebuah langkah yang tak lazim ditengah kemarut politik saat ini.

Bagi Jadi, masih sanksi, AHY itu obat galau generasi milenial?