Mohon tunggu...
Resi Aji Mada
Resi Aji Mada Mohon Tunggu... Tulisan pribadi

Pernah menjalani pendidikan bidang studi Administrasi Negara di perguruan tinggi negeri di kota Surakarta. Pemerhati isu-isu sosial, politik, dan pemerintahan.

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Tugas Strategis Sang Maestro Opisisi

23 November 2020   12:00 Diperbarui: 24 November 2020   07:38 1075 15 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tugas Strategis Sang Maestro Opisisi
Waketum Gerindra Fadli Zon di di Restoran Raden Bahari, Jakarta, Jumat (27/12/2019). (Foto: KOMPAS.com/TSARINA MAHARANI)

Ketika mendengar nama Fadli zon, apa yang pertama kali muncul di benak anda semua? Beberapa orang atau bahkan mungkin sebagian besar orang akan langsung berpikir tentang sosok oposisi yang sering kali mengkritik pemerintahan Joko Widodo.

Tidak heran karena selama periode pertama pemerintahan presiden Jokowi, sosok satu ini bersama satu lagi sosok Fahri Hamzah selalu menjadi buah bibir masyarakat. Mereka berdua seolah menjadi garis depan pasukan oposisi dalam melakukan kontrol dan kritik terhadap berbagai kebijakan yang dibuat pemerintah.

Tetapi ketika periode kedua pemerintahan Jokowi kembali terpilih, peta perpolitikan kembali berubah. Memang kita tahu bahwa peta perpolitikan selalu berjalan dinamis seiring kepentingan setiap partai politik dan tokoh-tokohnya yang juga berubah secara dinamis.

Kita melihat gebrakan seorang presiden Joko Widodo untuk mengangkat Prabowo Subianto yang sebelumnya merupakan lawan dalam perebutan kursi RI 1 menjadi seorang menteri pertahanan dibawah pimpinannya.

Tak pelak masuknya Prabowo kedalam pemerintahan membuat partai Gerindra juga mulai mengurangi kontrol dan kritik kemudian mulai bekerja untuk mendukung pemerintahan secara umum dan menteri pertahanan Prabowo Subianto secara khusus.

Tak ada yang aneh dengan keadaan ini, dalam politik setiap kemungkinan bisa saja terjadi. Tetapi ada satu yang menarik, seorang Fadli Zon yang merupakan tokoh penting dalam Gerindra ternyata tidak mengurangi kontrol dan kritik kepada pemerintahan.

Bahkan ketika seorang Fahri Hamzah, "partner in crime"nya pada periode lalu keluar dari PKS kemudian berfokus pada partai barunya termasuk dalam menjalin relasi dengan pemerintah, Fadli Zon tetaplah Fadli Zon, seorang oposisi.

Kita dengan mudah dapat menemukan pemberitaan mengenai kritikannya terhadap pemerintah. Termasuk yang terbaru ketika Fadli Zon terlihat dekat dengan Habib Rizieq, mengkritik Pangdam Jaya yang membersihkan baliho sang habib. Padahal tentunya seorang Pangdam Jaya ada dalam "kendali" sang menteri pertahanan yang tak lain adalah bos dan Ketua Umumnya sendiri.

Ada apa gerangan dengan seorang Fadli Zon? Mengapa dia seolah berbeda jalan dengan partainya Gerindra termasuk dari Ketua Umumnya sendiri, Prabowo? Apakah ada maksud di balik kukuhnya seorang Fadli Zon untuk menjadi oposisi?

Untuk menjawab jawaban ini mungkin ada banyak argumentasi maupun sudut pandang yang bisa diambil. Penulis pernah membaca sebuah artikel yang bisa menjawab pertanyaan di atas. 

Pada intinya dalam artikel itu menjelaskan jika seorang Fadli Zon memiliki pengaruh yang cukup besar atas lahirnya Gerindra sehingga sang Ketua Umum sendiri sungkan untuk menegur ketika Fadli Zon berbeda arah pemikiran.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN