Mohon tunggu...
Renni Suhardi
Renni Suhardi Mohon Tunggu...

I am the one in waiting... when is everyone could give up something for the other person then we all could live happily

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Moody Feeling: Do Aware and Let's Fight It

1 Desember 2010   10:21 Diperbarui: 26 Juni 2015   11:08 1139 0 1 Mohon Tunggu...

Minggu pagi acara brunch (breakfast and lunch) di Eastern,IP, dengan Mariani dan Roy sekeluarga. Seperti biasa kalau ngobrol dengan mereka tidak pernah hanya sekedar "ngalor ngidul" tanpa isi. Aku selalu mendapatkan sesuatu yang berharga, baik untuk diri sendiri maupun aku share dengan orang lain. Salah satu topik yang langsung membuat aku membuka komputer dan menulis adalah MOODY FEELING. Selanjutnya aku sebut "moody" saja.

Sudah beberapa hari aku sedang mengeksplor isue ini, terakhir karena "gadis kecil ku" juga mengatakan bahwa dia itu orangnya moody banget! baik penilaian dirinya sendiri maupun orang lain. Oops.. not another one! itu yang langsung di dalam benak ku. I have to do something.

Mengapa? Kasus lain, satu orang mahasiswa bimbinganku gagal menyelesaikan Tugas Akhirnya, yang akhirnya tidak saja merugikan dirisendiri tapi juga merugikan pemberi project, pembimbing dan jurusan. Faktor utama kegagalannya adalah tidak bisa mengatasi Moody nya ini. Banyak mahasiswa mempunyai rentang nilai yang besar antara ujian tengah semester, Ujian akhir dan Quiz. Saat aku panggil dan aku tanyakan, alasannya "aku waktu itu sedang moody banget Bu. Gimana dong?". Wah..! Beberapa pekerjaan juga terlantar karena pada saat-saat genting orangnya menghilang. Alasannya "maaf Bu, mood ku tidak enak. habis di rumah sih bla bla bla...!" Di jalanan? Mobilku di tabrak dari orang lain dari samping dan malahan dia yang marah. Aku diamkan dulu dan akhirnya dia minta maaf dengan mohon maklum "Maaf ya, aku memang sedang ndak enak moodnya, jadi bawaannya kesel" oops.. kenapa aku harus ikut menanggung rugi? Satu contoh lagi, anak ABG sekarang jika sedang bete bertengkar dengan pacarnya maka akan curhat pada Ibu nya, sambil marah-marah dan berlangsung terus sampai betenya hilang. Sementara itu orang tua harus dengan sabar (kadang berhari-hari) "kena getahnya" dan menunggu betenya hilang. Jaman saya dulu, ya silahkan bete sendiri, orang tua tidak ada urusan :-)

Dari diskusi pagi ada beberapa hal yang kami bicarakan. Kalau kita perhatikan, tanpa menghitung dengan statistik, anak muda sekarang cenderung lebih moody daripada saya seumur mereka. Beberapa hal yang kami coba identifikasi adalah
Satu, Keluarga sekarang cenderung keluarga kecil sehingga anak terbiasa mendapatkan semua untuk dirinya sendiri. Mereka kurang berbagi seperti kami jaman dulu keluarga dengan 5 anak dan harus selalu berbagi. Akibatnya, anak merasa sangat comfortable. Begitu zona comfortnya diganggu, maka dia akan marah atau moody.
Kedua, Ibu bekerja sudah sangat umum. Baik karena pilihan karir atau karena terpaksa. Akibatnya mereka cenderung tidak sabar (atau telaten) untuk mengajari beberapa hal penting untuk disiplin anak, misalnya anak makan. Kalau anak makan dan tidak habis, dulu kami akan harus menghabiskan, tidak peduli berapa lama harus Ibu menunggu. Sekarang ini, maka disuruhnya cepat pergi saja, makanannya ditinggal atau dihabiskan Ibunya.

Mengapa aku sangat concern dengan moody ini? aku pernah melalui hari-hari yang sulit karena sifat moody saya yang sangat kuat, yaitu pada saat merantau sekolah ke Inggris. Di Indonesia, aku adalah anak perempuan pertama dan di rumah mempunyai zona comfort yang paling luas. Maklum, anak perempuan pertama, defautl-nya adalah kesayangan ayahnya (umumnya!). Sifat moody ini kubawa ke dormitory, di rumah kontrakan dan di laboratorium. Lingkungan baru dan sama sekali berbeda membuat aku "panik", semua terasa tidak bersahabat. Ini aku rasakah perlahan-lahan sampai akhirnya saya merasa bahwa aku harus melakukan semuanya sendiri. Teman dekat (sekali) saja yang mau sharing. Sahabatku tidak tahan dengan sifat moody ku sampai dia memutuskan pindah tempat kost menjauhi aku. Sampai suatu hari rekan kerja ku Anas Fauzi mengajak berbicara empat mata. Intinya, sebagai rekan kerja di lab yang setiap hari berjumpa, dia merasa sangat terganggu dengan sifat moody ku. Banyak pekerjaan, yang harus dilakukan bersama gagal karena pada saat harus dikerjakan saya moody. Dia minta aku mulai bertoleransi dengan lingkungan, mulai bisa menerima bahwa aku harus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan bukan sebaliknya. Dan yang lebih mengena, Anas katakan bahwa moody adalah salah satu ciri pribadi egois. kalau aku mau tetap pelihara sifat ini, jangan harap aku meraih prestasi di masyarakat. Disuruhnya aku berkarya saja di gunung, sendiri, yang tidak ada orangnya. Aku masih ingat ingat pada waktu itu mukaku merah padam, karena malu dan marah (tentu saja ada penolakan sebagai reaksi yang pertama).

Pagi ini Mariani sharing bahwa pada saat rekrutmen di perusahaan tempat dia bekerja, nilai dll menjadi pertimbangan kedua. Pertama adalah wawancara langsung untuk melihat sejauh mana kestabilan emosi calon pegawai, termasuk mengidentifikasi apakah dia moody atau tidak. IQ bukan menjadi pertimbangan nomor satu lagi.

Tidak mudah menghilangkan sifat moody. Aku beruntung bahwa saat aku bertekad untuk memperbaiki diri, aku banyak dibantu oleh teman-teman dan sahabatku (Terima kasih sahabat, dan sampai hari ini kami masih menjadi sahabat di dalam suka dan duka. Terima Kasih Tuhan). Pencarian yang panjang, memberikan aku kesadaran bahwa moody suatu bentuk ketidakmampuan kita mengendalikan diri. Dengan demikian emosi kita diatur atau ditentukan oleh faktor eksternal, misalnya orang lain.

Mengapa kita tidak coba ajarkan kepada anak-anak kita Mind Management.? The mind is a wonderful servant but a terrible master. Winston Churchill mengatakan "The price of greatness is responsibility over each of your thoughts". Dengan demikian, kita harus mengendalikan mindsetting yang kita miliki saat ini atau masih dicari. Remember, the mind truly is like any other muscle in your body. Use it or Lose it.

Aku tidak akan menuliskan secara rinci kiat-kiat untuk membantu anak, keponakan, adik kita untuk melatih "mind management" ini karena banyak pakar yang menawarkan jurusnya. Saya hanya ingin "mengingatkan" jangan sampai generasi yang akan datang di dominasi oleh Moody person.

Last but not least, do realize that mind management is the essence of life management.

(Inspired by Yogi Raman in Robin Sharma book's)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x