Mohon tunggu...
Reni Pebriyani
Reni Pebriyani Mohon Tunggu... Saintis yang lagi belajar nulis

Seneng guyon

Selanjutnya

Tutup

Muda Artikel Utama

Baca Ini Sebelum Memutuskan Jadi Analis Kimia!

30 Januari 2017   21:30 Diperbarui: 31 Januari 2017   20:04 0 8 8 Mohon Tunggu...
Baca Ini Sebelum Memutuskan Jadi Analis Kimia!
Sumber: Wisegeek.com

Di artikel sebelumnya, kita telah mebahas mengenai apa saja yang dipelajari dan yang dikerjakan oleh seorang analis kimia. Akan menjadi mudah untuk menjadi analis kimia kalo memang passion kita di sana. Tapi, kalo kamu bakatnya di sosial jangan coba-coba deh mau jadi analis kimia.

Sumpah, kalian akan menyesal ketika kalian masuk ke dalam dunia ini tanpa ada motivasi yang jelas. Karena, kalo aku perhatiin orang manapun yang gak punya passion di suatu bidang ia geluti, kerjanya kaya belum piknik 5 tahun gitu. Males malesan, butuh hiburan, kasih sayang, perhatian. Euah, banyak ngeluhnya, deh. Beda sama orang yang punya motivasi atau passion, kerjanya pasti oke. Diulang berapa kali juga hayu hayu aja.

Lantas, kenapa sih orang orang sampai tergiur untuk bersekolah atau menyekolahkan anaknya di analis kimia?

Pertama yang menjadi pertanyaan adalah kenapa orang orang mau maunya bekerja?

Pastinya cari uang.
Entah uang nya dipakai buat nyewa dangdut hajatan, ngasih makan anak istri, beli lipstik, beli joger, biar ganteng/cantik, uang menjadi alasan nomor satu kenapa masyarakat bekerja. Hal ini juga yang menjadi alasan klasik orang-orang mau menjadi seorang analis kimia. Karena, kalo aku boleh buka hal yang sensitif, ya apalagi kalo bukan soal finansial, menjadi analis kimia bisa menjadi jawabannya.

Ditambah lagi dalam pandangan masyarakat, kimia itu sulit. Sehingga berbanding lurus dengan peminatnya yang sedikit. Akhirnya, berbanding terbalik dengan peluang kerja yang lebih luas. Jadi sainggannya dikit, juga banyak duit. Gitu sih.

Sebenarnya jadi analis juga ga keren keren amat sih. Status analis kimia kamu dalam suatu industri ya tetep aja buruh. Tapi, buruhnya ya buruh terhormat gitu, yang pastinya digajinya relatif lebih besar daripada buruh-buruh lainnya. Kalo buruh lain gajinya se-UMR aja, yang bisa dibilang sekitar 2-3 jutaan lah. Kalo analis kimia bisa sampai 15 juta per bulan apalagi kalo lembur. Uuuuh, mantap kan?

Nah, mau ga jadi analis kimia? Lumayan kan buat beli sesuap berlian.

Tapi, udah jadi hukum alamnya tiap profesi ada enak dan gaenaknya. Kamu jangan sampai mau jadi analis kimia karena gajinya gede aja. Nanti kaya aku jadi nyesel :(

So you have to know gimana ga enaknya jadi analis, tapi ini versi aku yah.

  • Kesehatan kamu kemungkinan besar akan terganggu.
    Ini hal yang yang terpenting, tapi sering juga terabaikan. Menjadi analis kimia tidak akan lepas dari bahan bahan kimia yang banyak tingkah, ada yang bisa bikin kulit kamu bolong, paru paru kamu berdarah, bikin kamu mabok, bikin bom bali(?), dan lain lain. Gini sih, kalo kamu menggunakan alat pelindung diri yang lengkap, kemungkinan ga akan terkontaminasi zat zat bahaya yang ada di laboratorium. Tapi, kalo kamu bandel, yah tunggu saatnya lah.

    Perlu diperhatikan juga, meskipun kamu udah pake APD lengkap, tapi kalo terus terusan terpapar zat yang berbahaya, bisa jadi terakumulasi menjadi penyakit penyakit orang kaya semodel kanker gitu. Mending rorombeheun aja sih aku mah daripada kanker:(

  • Cepat bosan
    Kerjaan apapun yang dikerjakan terus terusan tanpa dinamika itu bikin kita bosen, ia ga? Apalagi analis kimia. Kalo kamu orangnya cepet bosenan apalagi gapunya passion di bidang eksak, mohon jangan ikuti jejak sayah :(

    Kalo kamu di suatu industri, kamu akan ditempatkan di suatu bidang analisa. Misalnya di industri pengolahan susu, yang kamu analisis pasti ga jauh dari lemak, protein, dan karbohidrat. Kamu akan terus terusan menganalisis ituuuuuu tiap hari. Kebayang kan kerjaannya itu lagi, itu lagi. Iwwwh, kalo aku sih bakal jenuh yah. Kayanya liburnya harus 6 hari dalam semingu gitu. Bagus, kalo kamu pindah-pindah divisi jadi ada kerjaan baru gitu tiap periodenya. Kalo engga? Berbulan-bulan atau sampai bertahun tahun ngerjain hal yang sama. Uh.. makan tuh analis :(

  • Ga Boleh Ga Sabaran
    Kalo di sekolah aku sih yah, khususnya analisis konvensional, kalo kamu ga sabaran sebaiknya jangan jadi analis. Karena analis kalo ga sabaran bisa bahaya. Dalam proses analisis konvensional kaya titrimetri dan gravimetri (kalo di sekolah aku) data diusahakan konstan. Misalnya, sekarang kamu nimbang zat yang beratnya x, 15 menit selanjutnya harus tetap x. Toleransi beratnya cuman 5% dari si x ini. Atau kalo gravimetri biasanya data 1 dengan data yang lainnya diperbolehkan berbeda hanya 0,0002 gram. Lebih dari itu, ya kerjaan kamu harus diulang. Percayalah angka 0,0002 gram itu sangat kecil, lebih kecil dari daki udel kamu. Yah, bayangin sendiri aja deh keselnya gimana. Karena sekali pengerjaan ga bisa 1-2 menit, rata-rata 30 menit-an, bahkan lebih dengan data minimal harus konstan 2-3 kali pengerjaan. Kalo kamu ga sabaran, kamu suka kreatif gitu, bawaanya pengen manipulasi dataaaaa terus.

    Sekali lagi kalo kamu bukan orang yang bisa sabaran, mending jangan, nanti dosa :(

    Seriusan, kalo nanti sikap manipulasi kamu terbawa hingga kelak kamu udah di dunia kerja, dosa mah ga keliatan fisiknya. Tapi nyawa orang yang dipertaruhkan. Kaya di farmasi, beda berapa mg aja yang asalnya obat, bakal jadi racun yang membunuh. Dan sayangnya kalo kamu ketahuan dan dilaporkan ke piihak yang berwajib, kamu akan dikenakan undang undang pasal perlindungan konsumen. Serem kan? :(

  • Relatif mahal
    Ini lumayan ngeri. Selain ga sabaran, kalo kamu orangnya teledor dan slebor. Jangan jadi analis kimia. Percayalah, alat dan bahan yang kami gunakan sebagai analis kimia harganya bervariasi ada yang dari gopean sampe gope juta juga ada.

    Menjadi analis kimia, kamu pasti ada aja glassware yang dibutuhin. Kamu tau buret? Orang sih ga banyak yang tau, tapi itu senjata andalan kami. Konsep dasar menjadi analis kimia salah satunya adalah titrimetri dengan alatnya yang utama yaitu, buret. Selama saya hidup saya sudah memecahkan 3 buret berukuran 50 ml. Dan satuan harganya lumayan juga, sekitar setengah juta yang paling murah dan ada yang sampe jutaan. Woooh, rasanya mantap kalo udah mecahin/ngerusak alat mahal. Gamau praktik, pengennya ngunci diri dalam kamar :(

    Dan ajaibnya, semakin kecil ukurannya semakin mahal harganya, karena sulit sekali membuatnya.

    Itu baru glassware, gais! belum alat instrumennya seperti spektrofotometer, potensiometer, AAS, HPLC, sampe vurnice. Kalo boleh dijual dan jadi hak milih, udah bisa bikin kos-kosan itu mah :( Kalo kalian ga percaya cek aja di online shop atau google dengan kata kunci ‘chemical laboratory equipment price’ pasti harganya lumayan yah hmhm.

    Begitu pula, dengan bahannya. Kalian tau perak? Saking borju nya anak analis, abis dipake praktikum, langsung dibuang. HA! Swag banget kan kita? Bahan yang kita pake juga gabisa diremehin. Ada yang 1 botol (-+ 1kg) harganya 4 juta ada juga yang 1 gramnya 800 K rupiah. Kan kalo dipikir pikir mah mending beli emas batangan yah :(

    Jadi, kalo kamu nanti di industri buang buang zat, entah salah terus dalam proses analisis atau iseng iseng campur ini campur itu. Yah, siap-siap aja digantiin analis kimia yang lain, atau dengan kata lain Anda dipecat :’)

Tapi ada enaknya juga jadi analis, sekali lagi ini menurut aku ya:

  • Kamu keren karna ga semua orang bisa ngerti tentang kimia,
  • Kamu keren karna bisa ngucapin dan nulis phenolphthalein dengan benar,
  • Kamu keren karna analis kmia itu tercetak sabar dan nurut,
  • Kamu keren karna pake jas lab. Karna kalo kamu narik becak gamungkin pake jas lab kan?
  • Kamu keren karna gaji kamu lebih tinggi dari pegawai yang lain,
  • Kamu keren karna pake alat dan bahan yang mahal, udah kaya sosialita kan?
  • Kamu keren karna dianggap ilmuwan, padahal engga juga,
  • Kamu keren karna tahu kualitas suatu benda dari ilmu kimia kamu (kalo nerep sih ilmunya).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x