Humaniora

Minggu yang Mengubah Mindset

18 Juli 2017   00:40 Diperbarui: 18 Juli 2017   10:57 98 0 0
Minggu yang Mengubah Mindset
misbar1-png-596cf83b4fc4aa4bd62eb3a2.png

Minggu 09 Juli 2017, hari dimana saya merasa semangat yang selama ini hilang entah kemana kembali saya dapatkan. Hari itu, adalah hari dimana saya bertemu sosok yang dapat menginspirasi hidup saya, bersama ratusan pemuda yang hadir di acara tersebut kita membicarakan tentang banyak hal yang dapat mengangkat derajat hidup menjadi lebih baik, khususnya tentang bisnis. 

Sebelumnya, selama 4 (empat) tahun saya hidup di Palembang, saya hanya menghabiskan waktu untuk bekerja, mengerjakan perintah dari atasan, tanpa pernah saya tahu apa manfaat yang saya dapat dari pekerjaan tersebut selain untuk mendapatkan gaji bulanan. 4 tahun saya hidup di Palembang saya hanya bergantung pada gaji tersebut untuk memenuhi kebutuhan saya setiap harinya. 

Sejujurnya nyaris selama 4 tahun saya itu, saya tidak mengerti bagaimana cara untuk berkembang menjadi lebih baik dari hanya sekedar mendapat gaji, saya awam untuk mencari penghasilan lebih. Bisa jadi karena saya adalah pendatang yang tidak terlalu paham keadaan kota Palembang. Saya sering merasa tidak ada peluang, tak ada keberanian untuk berwirausaha walaupun dalam hati kecil saya ingin melakukannya, saya selalu merasa bahwa untuk memulai bisnis harus dengan modal yang besar, pemahaman seperti itulah yang kemudian menyurutkan langkah saya. 

Keseharian saya disibukkan oleh pekerjaan, kemudian pulang dalam keadaan lelah, saya kurang bersentuhan dengan dunia sekitar, saya tidak begitu peduli dengan isu-isu yang beredar di media, saya hanya peduli pada media sosial yang saya miliki.  

Tiga bulan terkahir, mata saya mulai awas, tidak jarang saya melihat foto-foto calon Walikota Palembang yang terpampang di jalanan kota. Terdapat salah satu baliho yang mencuri perhatian saya setiap dalam perjalan menuju tempat kerja, di baliho itu terdapat foto seorang laki-laki yang mengenakan kacamata dan juga terdapat kopiah hitam di atas kepalanya, bertuliskan H. Mularis Djahri calon Walikota Palembang 2018 dengan slogan "Menuju Palembang Baru Cerdas Kotanya Sejahtera Warganya", sejak hari itu saya mulai penasaran dengan nama tersebut, karena orang ini adalah seseorang yang akan menjadi Walikota Palembang selanjutnya, maka sudah sepantasnya saya mencari tahu tentang dirinya. 

Beberapa teman yang saya tanyai tentang sosok Mularis Djahri tidak jarang memberikan kesan buruk padanya, ada yang berkata bahwa ia adalah orang yang sombong, tidak ramah, dan pernah mencalonkan diri juga sebelumnya namun kalah. Saya memberikan pertanyaan kepada teman-teman saya, "apakah kalian pernah bertemu dengannya?" mereka semua menjawab tidak pernah, oleh karena itu saya merasa tidak puas dengan jawaban mereka. Tidak pernah bertemu kok memberi penilaian begitu.  

Siapa Dia? 

Saya lalu mencari sendiri melalui internet yang sebelumnya hanya saya gunakan untuk menghabiskan waktu bermalas-malasan. Dari internet inilah saya merasa mendapatkan penjelasan yang merinci tentang sosok Mularis Djahri. Ternyata ia adalah seorang pengusaha. Putera daerah Sumsel. Ia sukses membangun usahanya dan banyak memberi pekerjaan pada banyak orang. Karyawannya ribuan! 

Ketika ada teman memgajak saya hadir untuk bertemu dengan tokoh ini, saya sambut gempita. Saya hadir di acara MISBAR akronim dari Minggu Sharing Bareng. Banyak teman muda yang hadir di acara tersebut dengan tujuan yang sama, sekian banyak pemuda di acara tersebut membutuhkan dorongan dan motivasi dari seseorang yang tepat. 

Ternyata, apa yang dikatakan teman-teman saya tentang Mularis Djahri itu tidak benar, kenyataannya setelah saya bertemu dengannya secara langsung, saya jadi tahu bahwa Pak Mularis adalah sosok yang wibawa, agamis, murah hati  dan mengayomi. Ia suka dialog, tidak seperti kebanyakan tokoh yang sukanya didengar tapi tak mau mendengar. Kami bisa ngobrol, bisa dapat banyak tips, ilmu dan tahu pengalamannya membangun sebuah usaha. Jujur saja buat saya Pak Mularis hebat, salut saya dan mau sukses seperti itu. 

Saya Setuju Smart City  

Pak Mularis menjelaskan kepada kita, anak-anak muda tentang pentinganya menjadikan Palembang sebagi smart city. Kata dia, smart city itu penting karena itu merupakan sebuah konsep tatanan kota yang menggunakan teknologi digital untuk meningkatkan peforma dan kesejahteraan. Dalam hal ini, kata kunci sektor-sektor 'cerdas' melibatkan transportasi, energi, layanan kesehatan, pengelolaan air, dan pengelolaan limbah. Jadi ternyata yang dimaksud "Cerdas Kotanya" dalam baligho yang saya baca itu bukan soal pendidikan semata tapi soal pelayanan dan penggunaan teknologi terkini khususnya teknologi informasi. 

Kami yang muda ini melongo dan kagum. Ini orang tua, mau dia adaptasi sama teknologi mutakhir, dan yang lebih keren lagi, dia mau bikin Palembang kaya Singapur. 

Kota cerdas atau smart city memang impian hampir semua Negara di dunia. Dengan smart city, berbagai macam data dan informasi yang berada di setiap sudut kota dapat dikumpulkan melalui sensor yang terpasang di setiap sudut, itu keren.  

Berkat pertemuan tersebut, saya berani memulai bisnis saya, tidak hanya kerja, kerja, kerja dan menunggu gaji. Wirausaha saya jalankan, saya buka bisnis online. Saya ikut apa kata Pak Mularis, syarat sukses itu adalah mau bekerja keras, konsisten dan fokus. 

Dituturkan Syafrizal kepada saya, untuk di-share pada kompasianer