Mohon tunggu...
Sri Rejeki Kiki
Sri Rejeki Kiki Mohon Tunggu... Guru - Guru SDIT Anak Sholeh Sedayu Yogyakarta

Ibu dari tiga anak yang tak bosan belajar. Penyayang anak. Penuh semangat. Selalu punya mimpi untuk menjadi hamba yang lebih baik dan membawa manfaat.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Cerita di Balik Nama Kita

1 Desember 2022   08:00 Diperbarui: 1 Desember 2022   08:18 181
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Apa arti sebuah nama? Ungkapan ini kadang terucap dari seseorang. Mungkin sebagian beranggapan apa ya arti nama yang diberikan orang tua kita. Seberapa bermaknanya nama pemberian orang tua kita. Atau ada cerita apa dibalik nama kita?

Setiap bayi yang lahir semestinya menjadi anugerah terindah bagi orang tuanya. Terlebih bagi pasangan yang menunggu lama kehadiran seorang bayi. Kehadiran seorang anak dalam suatu keluarga diharapkan jadi perlengkap kebahagian keluarga. Tentunya tidak hanya ayah ibu sang bayi. Banyak juga calon kakek nenek yang begitu menanti kehadiran sang cucu. Belum lagi om, tante atau kerabat yang turut bahagia atas kelahiran si baby.

Ketika bayi lahir ke dunia, tentunya perlu label yang disematkan padanya. Mungkin jaman kakek nenek kita dulu beda dengan sekarang. Nama anak generasi milenial tentunya beda dengan nama orang-orang tua kita jaman dulu. Orang tua dulu memberi nama yang begitu sederhana. Atau nama yang singkat saja. Nama yang singkat namun sarat makna. Meski tidak semua nama pendek seperti itu. Ada juga generasi lampau yang namanya panjang.

Generasi milenial biasanya mempunyai nama yang panjang. Ada yang mempunyai nama lebih dari lima kata. Rasanya kalo belum panjang namanya belum afdol saja. Bahkan proses pemberian nama bayipun cukup panjang. Dari mempersiapkan buku nama-nama bayi. Ada yang memadukan nama tokoh atau artis idolanya. Atau calon orang tua searching Google nama-nama bayi. Rasanya kehadiran bayi menjadi sesuatu yang istimewa. Seistimewa nama yang dipersiapkan oleh ayah bundanya.

Pernah ada teman yang cerita, nama anaknya adalah gabungan dari beberapa nama pilihan. Eyangnya nitip nama. Om tantenya ikut kasih nama. Ayahnya andil kasih nama. Sang ibu tak mau ketinggalan kasih nama pilihannya. Jadilah nama gabungan generasi milenial yang panjang kayak kereta api. Dan ejaan dan lafal namanya juga kadang sulit. Itulah uniknya generasi milenial.

Kalo ayah ibu atau simbah-simbah kita dulu namanya tidak sepanjang nama anak-anak jaman sekarang. Nama yang sederhana. Biasanya ada kisah dibalik pemberian nama anaknya. Misal nama Pak Kliwon, Bu Wage, nama mengikuti weton Jawa. Ada Pak Senin, karena lahir di hari Senin. Nama Slamet, berharap anaknya selalu dilindungi dan dalam keselamatan selalu. Ada tetangga yang namanya Bu Brojol. Menurut cerita, nama itu diberikan karena saat mau persalinan, si jabang bayi sudah mbrojol sebelum dukun bayi datang. Nama Sulung, karena anak pertama. Atau Ragil karena anak terakhir. Lucunya ada teman yang memberi nama Ragil untuk anaknya. Harapannya ini sudah yang bonthot, gak nambah anak lagi. Ternyata di luar rencana, si ibu kebobolan. Orang Jawa menyebut kebobolan karena tidak sengaja si ibu hamil lagi. Bisa jadi karena KB kalender yang meleset. Atau KB yang gagal. Tapi itulah cerita hidup. Tentulah harus terus disyukuri. Karena anak adalah rezeki, anak adalah anugerah.

Kalo anak-anak sekarang, nama-nama mereka panjang dan indah. Orang tua tinggal pilih-pilih nama. Cari di google atau buku. Nama-nama indah komplit dengan artinya sudah tersedia. Nama-nama mereka juga biasanya sulit dilafalkan. Nach mungkin kalian ada yang baca sambil senyam-senyum sendiri. Mungkin kalian juga punya cerita dari nama kita, anak-anak kita atau cucu kita. Seperti nama saya. Sri Rejeki. Nama sederhana  sebagai salah satu nama generasi dahulu. Inget cerita ibu mengapa koq namaku Sri Rejeki. Jawaban yang lucu menurutku waktu itu. Tapi menarik dan menginspirasi. Kata ibu ketika saya masih di kandungan, jualan ibu ramai sekali. Sampai uangnya banyak. Orang Jawa bilang rejekinya turah-turah. Ibu lalu bilang, kalo jabang bayi ini lahir perempuan kuberi nama Sri Rejeki, kalo lahir laki-laki kuberi nama Marjuki. Alhamdulillah saya lahir perempuan. Nama indah sarat do'a kusandang sampai kini. Coba kalo aku lahir laki-laki,  mungkin saat ini aku dipanggil Pak Marjuki. Senyum sendiri ingatnya. Nach bagaimana dengan kalian. Apa cerita dibalik namamu? Yuk boleh cari tahu ke ayah ibu kalian.

Sedayu, 1 Desember 2022
Kiki S.Rejeki

Mengingat cerita dibalik nama yang mungkin lucu-lucu.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun