Mohon tunggu...
Refo Torai
Refo Torai Mohon Tunggu... -

@sedang belajar menulis@

Selanjutnya

Tutup

Puisi

(MPK) Pondok Kasih Dokter Sonya

11 Juni 2011   13:51 Diperbarui: 26 Juni 2015   04:37 227
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

“Teman-teman menjuluki saya Si Penjegal, Bu...”. Itulah kata-kata Sonya kepada Bu Erry di sela-sela isak tangisnya, yang kuingat hingga saat ini.

‘Penjegal’ adalah julukan dari teman-teman sekelas Sonya saat SMP. Sonya tergolong cerdas, namun dia kurang mampu bekerja dengan kelompok. Jika Guru Bahasa Indonesianya, Bu Erry, memberi tugas kelompok, maka seketika murid-murid yang lain menjadi was-was, seakan berdoa agar tidak sekelompok dengan Sonya.

Bagi anak-anak yang malas, bisa satu kelompok dengan Sonya adalah surga. Sonya akan dengan senang hati mengerjakan dan menyelesaikan tugas kelompok seorang diri. Teman-teman kelompoknya hanya akan menumpang nama di lembar cover makalah. Sayangnya, Sonya berada di kelas unggulan, kumpulan murid-murid pandai dan aktif.

Julukan ‘Penjegal’ pertama kali muncul di awal tahun ajaran, saat Sonya menghapus pekerjaan teman-teman satu kelompoknya dan mengganti tugas itu dengan versinya sendiri.

Kala itu Bu Erry memberi tugas kelompok menganalisa unsur intrinsik cerpen. Setiap kelompok terdiri dari enam siswa. Untuk mempermudah menyelesaikan tugas, mereka membagi pekerjaan. Ada yang mendapat tugas menganalisis penokohan, latar, dan seterusnya. Setelah masing-masing menyelesaikan tugas, hasilnya akan disatukan sebagai bahan presentasi di depan kelas. Sonya menawarkan diri untuk menjilid dan mengperbanyak makalah kelompoknya.

Pagi itu dengan semangat Bu Erry melangkah menuju kelas. Di kelas, ia melakukan pengundian untuk menentukan giliran presentasi. Ketika tiba giliran kelompok Sonya, terlihat betapa Sonya memonopoli presentasi kelompoknya. Setiap pertanyaan dari kelompok lain selalu Sonya yang menjawab. Anggota kelompoknya hanya memandangi makalah dan terlihat kurang bersemangat.

Selesai presentasi, seperti biasa Bu Erry selalu melakukan evaluasi. Saat itulah anggota kelompok Sonya mengadu, mereka tidak mampu menjawab pertanyaan, sebab isi makalah telah berubah dan mereka baru mengetahuinya pagi itu sebelum presentasi.

*******

Rintik hujan mengiringi langkah Bu Erry menuju toko buku. Sesampainya di pintu toko, dikibas-kibaskan bajunya yang sedikit basah. Tiba-tiba seseorang mendekatinya.

“Bu Erry...,” gadis manis berambut lurus ala iklan sampo menyapanya. Ia mencoba mengingat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun