Mohon tunggu...
Rionanda Dhamma Putra
Rionanda Dhamma Putra Mohon Tunggu... Penulis - Ingin tahu banyak hal.

Seorang pembelajar yang ingin tahu Website: https://rdp168.video.blog/ Qureta: https://www.qureta.com/profile/RDP Instagram: @rionandadhamma

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Menjaga Religiositas Seiring Pembangunan Ekonomi

29 Juli 2020   19:57 Diperbarui: 29 Juli 2020   20:01 127
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Korelasi/hubungan tersebut terjadi antara PDB per kapita tahun 2019 dengan persepsi keterikatan agama-moral. PDB per kapita adalah variabel X dan persepsi di atas adalah variabel Y. Hubungan keduanya bersifat negatif/inverse dengan korelasi sebesar 0,86. Akibatnya, kenaikan 1% dari PDB per kapita menurunkan persepsi keterikatan agama-moral sebesar 0,86% dan sebaliknya, ceteris paribus.

Angka-angka ini diperoleh dari analisis regresi data 34 negara yang disurvey. Perhatikan letak Indonesia dalam scatter plot ini (Pew Research Center, 2020:7):

www.pewresearch.org
www.pewresearch.org
Dari plot di atas, dapat ditarik bahwa Indonesia memiliki nilai persepsi yang tinggi. Akan tetapi, PDB per kapita Indonesia tahun 2019 masih rendah dibandingkan 34 negara yang lain. Sehingga, pemerintah berusaha mengejar ketertinggalan ini lewat pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Pembangunan inilah yang menaikkan PDB per kapita Indonesia di masa depan.

Dalam model ini, kenaikan PDB per kapita akan menurunkan nilai persepsi keterikatan agama-moral. Artinya, the wealthier a nation gets, its citizen become less religious. Menurut hemat penulis, tren ini harus kita hindari. Jangan sampai kita menjadi seperti Swedia, makmur namun tidak religius.

Setidaknya, kita harus bisa menyamai pencapaian Amerika Serikat. Rakyatnya memiliki PDB per kapita terbesar. Namun, tingkat persepsi keterikatan agama-moralnya kuat dibandingkan advanced economies lainnya. Paduan keduanya membentuk keseimbangan material wealth dan spiritual health.

Lantas, bagaimana cara mencapainya? Pertama, masukkan pelajaran pembangunan karakter (character building/education) dalam kurikulum sekolah dasar. Kedua, wajibkan ibadah sebelum memulai sekolah setiap hari. Padanan keduanya dapat mempertahankan internalisasi nilai agama dan moral.

Apa itu pelajaran character building? Mata studi ini adalah sebuah pembelajaran yang memperkenalkan peserta didik terhadap perilaku benar untuk menjadi warga negara yang berguna. Perilaku yang benar tersebut berlandaskan nilai-nilai etika dasar. Nilai-nilai tersebut adalah tanggung jawab, rasa hormat, keadilan, dan lain sebagainya (talkingtreebooks.com, 2020).

Melalui pembelajaran ini, sisi moral dari peserta didik diperkuat. Mereka dibentuk menjadi generasi penerus bangsa yang sadar akan nilai moral. Sehingga, mereka akan mengambil tindakan berdasarkan nilai-nilai moral tersebut. Bukan hanya untuk material gain semata. Ketika mereka dikumpulkan, maka akan terbentuk konstruksi masyarakat yang sesuai nilai moral.

Sementara, solusi kedua berfokus pada internalisasi nilai dan praktek agama. Jika kita ingin mempertahankan religiusitas, maka ibadah harus diwajibkan dalam proses pendidikan. Dengan praktek ini, unsur agama akan menjadi bagian dari kehidupan akademik peserta didik. Diharapkan, integrasi praktek agama akan menanamkan nilai-nilai agama secara efektif.

Kesimpulannya, predikat Indonesia sebagai negara paling religius di dunia harus dipertahankan. Namun, dia tidak perlu dipertahankan dengan mengurangi derap pembangunan ekonomi. Justru, kita bisa melakukan keduanya melalui pendidikan dengan internalisasi agama yang intensif. Dampaknya, pendidikan akan menjadi katalisator positif bagi kemakmuran dan religiusitas.

Kita tetap membangkitkan mobilitas sosial-ekonomi yang memicu kenaikan PDB per kapita. Namun, pelaku mobilitas tersebut tidak akan lupa akan nilai moral-agama yang pernah dipelajarinya. Molding wealth creators with strong moral values, that's what we must do.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun