Mohon tunggu...
Rionanda Dhamma Putra
Rionanda Dhamma Putra Mohon Tunggu... Penulis - Ingin tahu banyak hal.

Seorang pembelajar yang ingin tahu Website: https://rdp168.video.blog/ Qureta: https://www.qureta.com/profile/RDP Instagram: @rionandadhamma

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Takut Kok Sama Komunis?

31 Juli 2019   13:03 Diperbarui: 31 Juli 2019   13:09 508
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sejak 30 September 1965, bangsa kita dilanda sebuah ketakutan. Sebuah ketakutan yang tidak sirna sampai saat ini. Ia hanya terkubur ketika situasi politik kebangsaan kita sedang bergembira. Namun, ketakutan itu muncul kembali ketika situasi politik kita memungkinkan.

Termasuk sekarang ini. Ketakutan ini muncul dalam bentuk pembubaran acara syukuran HUT ke 23 Partai Rakyat Demokratik (PRD) oleh ormas-ormas tertentu (Iswinarno dalam jatim.suara.com, 2019). Pembubaran ini dilakukan karena partai ini dianggap "Neo-PKI". Padahal, partai ini adalah salah satu pelopor gerakan Reformasi di Indonesia.

Dulunya, partai ini memiliki haluan Sosial Demokrasi Kerakyatan (Sosdemkra). Populist social democracy, which is not communism. Mirip seperti Workers' Party di Brazil. Tetapi, pada tahun 2010, haluan ini diganti menjadi Pancasila. Penggantian ini menunjukkan masuknya PRD ke dalam politik mainstream di Indonesia.

Tetapi, ketika para warganet melihat kibaran bendera partai ini, stigma lama muncul kembali. Wah, ada bendera partai berlambang bintang dan gerigi! Warnanya merah-emas lagi! Wah, komunis! Padahal, lambang demikian adalah simbolisme gerakan kiri yang lebih moderat. Bukan lambang komunisme.

Ketakutan ini belum berhenti. Ia berlanjut ke dalam bentuk razia buku. Kemarin di Probolinggo, dua pegiat literasi ditangkap. Penangkapan itu dilakukan karena mereka menyediakan buku D.N. Aidit di lapak baca gratis.

Padahal, sweeping buku sudah dilarang oleh Mahkamah Konstitusi (Prabowo dalam tirto.id, 2019). Ini sama saja dengan pelanggaran hukum yang dilakukan penegak hukum. Sebuah pelanggaran yang dilakukan karena paranoia semata. Paranoia yang tidak ada dasarnya sama sekali.

Mengamati kedua peristiwa di atas, semestinya kita malu. Malu karena kita masih takut terhadap bayang-bayang ilusi sejarah. Takut kepada komunisme yang sudah menjadi abu pasca Perang Dingin usai. Padahal, kita adalah bangsa yang besar dan kuat. Masa takut sama komunis yang sudah hancur lebur sejak 1991?

Sudah bukan waktunya lagi kita takut dengan komunisme. Mestinya, kita jauh lebih takut terhadap tiga masalah utama yang mencengkram bangsa kita. Pertama, masalah kurangnya literasi. Kedua, masalah hoaks di media sosial. Ketiga, masalah ekstremisme agama.

Mari kita kuliti masalah-masalah ini. Dimulai dari masalah kurangnya literasi.

Kurangnya literasi adalah alasan utama mengapa paranoia komunis masih eksis. Masalah ini membuat banyak rakyat Indonesia tidak mampu memisahkan PKI, komunisme, dan gerakan kiri secara umum. Padahal, ketiganya adalah entitas yang sama sekali berbeda. Peristiwa G30S/PKI terjadi karena kepentingan jahat PKI sebagai partai politik. Bukan karena komunisme per se.

Kurangnya literasi adalah penyebab mengapa tokoh Mandra di Si Doel Anak Sekolahan berkesimpulan ada masa penjajahan Siti Nurbaya. Ini juga yang menyebabkan banyak warganet mengecap PRD sebagai PKI Baru. Keduanya adalah hubungan yang tidak ada relevansi sama sekali.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun