Mohon tunggu...
Rudi
Rudi Mohon Tunggu... Halo salam kenal dari penulis amatiran!

Terima kasih telah membaca artikel saya!

Selanjutnya

Tutup

Hobi

Analisis Majas atau Gaya Bahasa dari Novel "Heart of Darkness" Karya Joseph Conrad

27 Maret 2021   08:55 Diperbarui: 27 Maret 2021   09:01 305 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Analisis Majas atau Gaya Bahasa dari Novel "Heart of Darkness" Karya Joseph Conrad
Sumber: IMDb

Heart of Darkness adalah novel pendek yang ditulis oleh Joseph Conrad pada tahun 1899. Novel ini menceritakan Charles Marlow sebagai narator yang menceritakan kepada teman-temannya tentang pengalamannya selama menjadi kapten sebuah kapal uap dalam perjalanan di tengah jantung benua Afrika, tepatnya Sungai Kongo. Novel ini mengambil tema kolonialisme dan rasisme yang merupakan bagian dari imperialisme bangsa Eropa. Inti dari novel Jopesh Conrad ini adalah gagasan bahwa ada sedikit perbedaan antara orang beradab dan mereka yang digambarkan sebagai orang biadab. Novel ini juga tak luput dari struktur penyusunnya yang begitu lengkap dan detail, salah satunya gaya bahasa yang digunakan dalam cerita, terlebih Joseph Conrad yang selalu menggunakan bahasa kiasan yang tinggi dalam karyanya.

Majas merupakan bahasa kiasan yang dapat menghidupkan sebuah karya sastra dan menimbulkan konotasi tertentu. Majas pada umumnya memiliki empat jenis antara lain majas perbandingan, majas pertentangan, majas sindiran dan majas penegasan. Pertama, majas perbandingan adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menyandingkan atau membandingkan suatu objek dengan objek lain melalui proses penyamaan, pelebihan, ataupun penggantian. Gaya bahasa yang termasuk dalam majas perbandingan seperti personifikasi, simile, metafora, dan lain-lain. Kedua, majas pertentangan adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata kias yang bertentangan dengan maksud asli yang penulis curahkan dalam kalimat tersebut. Gaya bahasa yang termasuk majas pertentangan seperti paradoks, litoses, dan antitesis. Ketiga, majas sindiran adalah kata-kata kias yang memang tujuannya untuk menyindir seseorang ataupun perilaku dan kondisi. Gaya bahasa yang termasuk majas sindiran seperti ironi, sinisme, dan sarkasme. Yang terakhir, majas penegasan yaitu jenis gaya bahasa yang bertujuan meningkatkan pengaruh kepada pembacanya agar menyetujui sebuah ujaran ataupun kejadian. Gaya bahasa yang termasuk seperti repetisi, retorika, dan klimaks. Sementara itu, majas yang digunakan Joseph Conrad dalam cerita Heart of Darkness hanyalah dua jenis, yaitu majas perbandingan dan majas sindiran.

Gaya bahasa sendiri adalah sebuah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu yang membuat sebuah karya sastra semakin hidup, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis. Gaya bahasa digunakan dalam penulisan karya sastra seperti puisi dan prosa. Dalam puisi biasanya menggunakan lebih banyak majas dibandingkan dengan prosa. Sedangkan dalam prosa seperti novel, gaya bahasa hanya digunakan untuk penggambaran suasana tertentu. Dari gaya bahasa inilah, para pembaca dalam berimajinasi lebih luas mengenai isi dari sebuah cerita novel. Gaya bahasa dalam karya sastra memiliki manfaat, antara lain menghasilkan imaji tambahan sehingga hal-hal yang abstrak menjadi konkrit sehingga dapat dinikmati pembaca, menambah intensitas perasaan pengarang dalam menyampaikan makna dan sikapnya, dan mengkonstrasikan makna yang hendak disampaikan.

Gaya bahasa pertama yang digunakan adalah metafora. Metafora adalah meletakkan sebuah objek yang bersifat sama dengan pesan yang ingin disampaikan dalam bentuk ungkapan. Metafora yang terlihat jelas dalam cerita ini adalah pada bagian judulnya, yaitu Heart of Darkness. Dari judul tersebut telah menyampaikan pesan tersendiri, yaitu lokasi atau setting dari cerita. Heart di judul memiliki arti jantung atau pusat dan Darkness merujuk pada benua Afrika, yang rata-rata masyarakatnya berkulit hitam. Lebih singkatnya di jantung atau tengah-tengah benua Afrika konflik dalam cerita terjadi. Kemudian pada kalimat berikut juga mengandung metafora "...the sunshine made him look extremely gay and wonderfully neat withal...(hlm. 48). Kalimat ini menjelaskan bahwa "the sunshine" menerangkan tokoh "him" seperti gay dan rapi.

Selanjutnya, gaya bahasa imagery, yaitu menggambarkan suasana sekitar, baik gerakan maupun bunyi dengan kata-kata agar kalimatnya terasa hidup. Berikut imagery yang ada dalam cerita antara lain "In the offing The sea and the sky were welded together without a joint and in the space, the tanned sails of the barges, drifted along the rough, ocean waves"( hlm. 1), kalimat tersebut memberi gambaran suasana di awal cerita yang kondisinya cukup tenang setelah perahu mereka melewati ombak; "The sun set; the dusk fell on the stream, and lights began to appear along the Shore"(hlm. 4) yang menggambarkan pemandangan senja di sekitar pantai; "She wore a starched white affair on her head, had a wart on one cheek, and silver-rimmed spectacles hung on the tip of her nose" (hlm. 10) yang mendeskripsikan bagaimana penampilan si tokoh wanita tersebut atau bisa disebut dengan vsiualisasi tokoh; dan "Yes; I respected his collars, his vast cuffs, his brushed hair. His appearance was certainly that of a hairdresser's dummy; but in the great demoralization of the land he kept up his appearance. That's backbone. His starched collars and got-up shirt-fronts were achievements of character" (hlm. 16) yang mendeskripsikan apa yang dilihat dan pikirkan oleh Marlow.

Personifikasi yaitu gaya bahasa yang menggantikan fungsi benda mati yang dapat bersikap layaknya manusia. Personifikasi yang ada dalam cerita antara lain "Flames glided in the river, small green flames, red flames, white flames, pursuing, overtaking, joining, crossing each other--then separating slowly or hastily" (hlm. 6) yang menjelaskan kepada pembaca bagaimana api bergerak dan seberapa cepat menyebar; "The snake had charmed me" (hlm. 7) yang memiliki arti bagaimana seseorang bisa percaya ular itu tidak akan melukai apapun, tetapi membawa konflik dalam kehidupan manusia serta ini juga menunjukkan bagaimana Marlow percaya pada tempat yang dikunjunginya itu, tetapi malah menyimpan banyak kejahatan; "The steamer seemed at her last gasp" (hlm. 35) yang memiliki arti salah satu rekan Marlow sedang sekarat, "The great wall of vegetation, an exuberant and entangled mass of trunks, branches, leaves, boughs, festoons, motionless in the moonlight, was like a rioting invasion of soundless life, a rolling wave of plants, piled up, crested, ready to topple over the creek, to sweep every little man of us out of his little existence" (hlm. 27) yang menjelaskan tembok besar vegetasi yang dimaksud adalah hutan, yang mana memang benar tidak dapat bergerak di bawah sinar bulan; dan "The woods were unmoved, like a mask--heavy, like the closed door of a prison--they looked with their air of hidden knowledge, of patient expectation, of unapproachable silence"(hlm. 52) memilki arti bahwa hutan seperti penjara yang menyimpan banyak hal-hal misterius.

Selanjutnya gaya bahasa simbolik dan onomatopoeia. Simbolik adalah haya bahasa yang membandingkan manusia dengan sikap makhluk hidup lainnya dalam ungkapan. Gaya bahasa ini dalam cerita antara lain "The offing was barred by a black bank of clouds, and the tranquil waterway leading to the uttermost ends of the earth flowed somber under an overcast sky--seemed to lead into the heart of an immense darkness" (hlm. 72) lewat kalimat tersebut pembaca dapat mengetahui bagaimana gambaran dari akhir cerita yang disampaikan oleh naratornya, yaitu Charles Marlow dan pada bagian "a black bank of clouds and the tranquil waterway" benar-benar melambangkan betapa buruknya keadaan di dalam hutan Afrika ; dan  "The snake had charmed me" (hlm. 7), selain masuk ke dalam personifikasi, kalimat tersebut juga masuk ke simbolik karena melambangkan sinonom dari kejahatan dan kelicikan seperti ular. Sedangkan onomatopoeia adalah gaya bahasa yang menuliskan bunyi sesuatu secara spesifik, seperti pada kalimat berikut "A slight clinking behind me made me turn my head" (hlm. 14) yang menjelaskan bunyi denting kecil di belakangnya yang membuatnya menoleh.

Simile adalah gaya bahasa yang menggunakan kata hubung bak, seperti, dan bagaikan untuk membandingkan sesuatu dengan ungkapan. Dalam cerita Heart of Darkness ini, Joseph Conrad menggunakan banyak sekali simile antara lain "Looking at the river on the map is like I am looking at a snake on the paper" (hlm. 9), lewat kalimat tersebut penulis menyampaikan sungai yang ada di peta panjang dan berliku-liku seperti ular; "I slipped through one of these cracks, went up a swept and ungarnished staircase, as arid as a desert, and opened the first door I came to" (hlm. 9) yang menjelaskan hal yang tak masuk akal yaitu tangga yang gersang seperti gurun; "And the river was there--fascinating--deadly--like a snake. And the river was there--fascinating--deadly--like a snake" (hlm. 9), yang memiliki arti sungai yang mempesona tetapi mematikan seperti ular dan tentunya berbahaya; "She rang under my feet like an empty Huntley & Palmer biscuit-tin kicked along a gutter" (hlm. 26) yang membandingkan kapal uap dengan kaleng kosong; "It was very simple, and at the end of that moving appeal to every altruistic sentiment it blazed at you, luminous and terrifying, like a flash of lightning in a serene sky"(hlm. 46) yang menggambarkan sang tokoh tenang tetapi bisa saja menyambar seperti kilta jika marah; dan "Instantly, in the emptiness of the landscape, a cry arose whose shrillness pierced the still air like a sharp arrow flying straight to the very heart of the land" (hlm. 54) menggambarkan sebuah teriakan yang nyaring hingga berbentuk runcing seperti anak panah sehingga dapat menembus udara.

Yang terakhir, ironi dan sinisme. Kedua jenis bahasa ini merupakan majas sindiran. Ironi adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menentang fakta-fakta yang ada. Sebagai contohnya "The horror! The horror!" (hlm. 63), ini adalah kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Kurtz. Namun, Marlow memutuskan untuk memberi tahu Intended bahwa kata terakhir adalah namanya dan sebenarnya Marlow sangat tidak menyukai pembohong dan gagasan untuk berbohong. Hal tersebut menimbulkan pertentangan dalam dirinya. Sedangkan, sinisme adalah sindiran yang disampaikan secara langsung. Sebagai contohnya "A lot of people, mostly black and naked, moved about like ants" (hlm. 14). Kalimat tersebut mengatakan kurang lebih bahwa orang Afrika yang berkulit hitam dan telanjang berjalan seperti semut. Ini merupakan sindiran sarkasme yang benar-benar diucapakan di depan orang-orang Afrika secara langsung.

Gaya bahasa telah menjadi unsur penting dalam karya sastra, terlebih menggunakan kata-kata kiasan yang indah. Selain memperindah karya sastra, setiap gaya bahasa dalam kalimat memiliki pesan tersendiri. Pesan yang tersirat tersebut bisa memilki banyak makna karena setiap pembaca tentunya memiliki pandangan mereka masing-masing. Jika kita membaca sebuah kalimat yang bermajas, pemahaman yang kita peroleh belum tentu sama dengan si penulis gambarkan. Gambaran yang penulis sampaikan lewat kata-kata inilah yang terkadang membuat pembaca merasakan apa yang dirasakan si penulis. Dalam cerita Heart of Darkness, Joseph Conrad lebih menekankan pada penggambaran setting seperti ular yang menciptakan konflik. Bukan hanya itu, ular dalam cerita ini memiliki banyak arti seperti sungai, hutan yang mulus, dan kejahatan. Dari pemilihan kata ular tersebut, pembaca telah menemukan berbagai arti dan pesan tersendiri. Jadi, kita sebagai pembaca harus benar-benar jeli dalam mengartikan gaya bahasa sehingga dapat menemukan garis cerita yang tepat.

VIDEO PILIHAN