Mohon tunggu...
Rizky C. Saragih
Rizky C. Saragih Mohon Tunggu... Administrasi - Public Relations

Lihat, Pikir, Tulis. Communications Enthusiast | @rizkycsaragih

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Makan Siang ala Humas "PR in The Age of Distruption"

2 Maret 2018   11:42 Diperbarui: 5 Maret 2018   10:02 1387
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Slide presentasi M. Ihsan (CEO&Pimred Warta Ekonomi). dok. /rcs

Apakah ada yang berbeda dengan gaya makan siang seorang PR/humas? Saya rasa tidak, sama saja. Namun bedanya, kali ini saya berkesempatan santap makan siang yang tidak biasa, bukan karena bertempatkan di hotel mewah berbintang namun makan siang tersebut menjadi awalan untuk sebuah seminar kehumasan yang diselenggarakan oleh Perhumas (Perhimpunan Hubungan Masyarakat) bersama dengan Warta Ekonomi. Mengusung tema menarik nan kekinian, yakni "Power Lunch; Public Relations in The Age of Distruption".

Public Relations in The Age of Distruption atau dalam bahasa Indonesia bisa dibilang humas pada masa era disrupsi. Era disrupsi yang dimaksud disini adalah zaman dimana arus informasi semakin deras, pertumbuhan teknologi semakin melesat cepat, perubahan behavior masyarakat pun demikian,  sampai pada titik dimana seorang dokter bisa menjadi PR, tetapi PR tidak bisa menjadi dokter! Inilah apa yang ada di hadapan PR saat ini. 

CEO sekaligus Pemimpin Redaksi Warta Ekonomi Muhammad Ihsan memberikan sambutan pembuka. dok. /rcs
CEO sekaligus Pemimpin Redaksi Warta Ekonomi Muhammad Ihsan memberikan sambutan pembuka. dok. /rcs
Setelah diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Muhammad Ihsan selaku CEO sekaligus pemimpin redaksi Warta Ekonomi memberikan kata sambutan beserta sedikit paparan seputar era disrupsi. Terjadi disrupsi secara global, banyak industri yang berubah peta bisnisnya karena revolusi digital saat ini. Industri apa sajakah yang paling banyak terkena dampak akibat perubahan ini? Ada 5 besar industri dalam paparannya melalui slide presentasi, yakni industri retail sebanyak 57%, industri teknologi 57%, financial service 61%, telekomunikasi 64% dan yang paling besar adalah industri media yaitu 70%. Wow!

Slide presentasi M. Ihsan (CEO&Pimred Warta Ekonomi). dok. /rcs
Slide presentasi M. Ihsan (CEO&Pimred Warta Ekonomi). dok. /rcs
Perubahan tren bisnis akibat revolusi digital yang tergambar dalam slide diatas merupakan apa yang masuk akal saat ini. Owning business sekarang tergerus dengan perusahaan yang menganut asas sharing business. Sebut saja Go-Jek, Bukalapak, Traveloka, Tokopedia dan masih banyak lainnya. Menariknya adalah, dari perusahaan-perusahaan tersebut pada kenyataannya tidak memiliki invetaris mereka sendiri. Apa maksudnya?

The Largest Company HAS NO OWN the Inventories.
The Largest Company HAS NO OWN the Inventories.
Netfix tidak memiliki bioskop, Traveloka tidak memiliki real estate dan Go-Jek kalau kita pikir-pikir mereka tidak memiliki sepeda motor, taksi, restoran, bank, salon dll. Akan tetapi perusahaan tersebut seakan-akan memilikinya. Ya, inilah yang dimaksud sharing economy method. Sungguh inilah yang menggambarkan era revolusi digital saat ini. 

Sambutan dan sedikit gambaran seputar PR di era disrupsi. dok. PERHUMAS
Sambutan dan sedikit gambaran seputar PR di era disrupsi. dok. PERHUMAS
Ketua umum Perhumas, Agung Laksamana menyapa para hadirin sekalian dengan sebuah pertanyaan. Apa yang harus dilakukan PR/humas dalam era disrupsi? Sebelum memberikan jawaban, Agung pun bercerita, 500 tahun sebelum masehi, seorang filosof pernah berkata perubahan terjadi dimana-mana, tren pasti berubah dan pastinya dunia PR/humas pun berubah. Welcome to the age of disruption!

Dunia kerja sudah berubah, karyawan tidak harus pergi ke kantor, cukup bawa laptop saja sudah cukup, bisa bekerja. Milenial di negeri sakura Jepang pun katanya saat ini tidak lagi mau loyal terhadap satu perusahaan saja. Cita-cita seseorang pun berubah, dulu kita masih sangat ingat ketika waktu kecil apabila ditanya apakah cita-citamu? Jawabmu adalah ingin menjadi astronot, dokter, insinyur, tentara, polisi atau guru. Sekarang, ada seorang anak di kota Riau ketika berkesempatan bertemu presiden Jokowi ditanya apa cita-citamu? Jawab anak tersebut adalah ia ingin menjadi Youtuber! 

Semua orang saat ini bisa menjadi PR, PR menjadi generalist, head of public relations di perusahaan-perusahaan tidak lagi harus berlatarbelakang komunikasi. Agung Laksamana pernah berkata kepada mahasiswa/i bahwa saingan mereka bukan lagi kampus UI, UNPAD, LSPR dll, melainkan mahasiswa fakultas kedokteran, teknik, sains bahkan pertanian. Wartawan, arsitek, dokter bisa menjadi humas, namun humas tidak bisa menjadi dokter. 

Jangan jadi PR, berat... (Instagram @rizkaseptiana78)
Jangan jadi PR, berat... (Instagram @rizkaseptiana78)
Oleh karena itu profesi humas menjadi profesi yang paling tinggi level stressnya di dunia versi careercast.com. Maka dari itu terinspirasi dari film Dilan yang sukses dengan 6 juta penontonnya, Agung Laksamana berkata kepada istrinya, "Kamu jangan jadi PR, berat, Nanti kamu ga kuat, Biar aku saja...".

Dunia media pun sudah berubah, masyarakat ingin serba real time. Blogger dan vlogger menjadi "jurnalis" pada saat ini, Anda dengan 1000 followers di medsos sudah menjadi media, Anda adalah media. Konten menjadi independen dan semua tanpa sensor, sehingga membuat news menjadi riskan, yang mana authentic news, fake news, bahkan menjadi banyak hoax. Presiden Obama pernah berkata, "The new media has created a world for everything is true and nothing is true". 

Ada 4 poin yang harus dilakukan PR dalam era disrupsi:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun