Mohon tunggu...
RAUF NURYAMA
RAUF NURYAMA Mohon Tunggu... Pemerhati Masalah Media, Sosial, Ekonomi dan Politik.

Sekjen Forum UMKM Digital Kreatif Indonesia (FUDIKI); Volunteer Kampung UKM Digital Indonesia; Redaktur : tinewss.com

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

Ini Efek Disrupsi Pada Disdukcapil dan Dinkes Sumedang

22 Februari 2019   20:50 Diperbarui: 22 Februari 2019   21:01 0 1 0 Mohon Tunggu...
Ini Efek Disrupsi Pada Disdukcapil dan Dinkes Sumedang
2017-12-20-disruption-era-5c6ffd5a43322f379b3fcad3.jpg

Disruption, atau disrupsi dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), artinya hal tercabut dari akarnya. Jika diartikan dalam kehidupan sehari-hari, disrupsi adalah sedang terjadi perubahan yang fundamental atau mendasar.

Satu di antara yang membuat terjadi perubahan yang mendasar adalah evolusi teknologi yang menyasar sebuah celah kehidupan manusia. Digitalisasi, perubahan tata kelola birokrasi, adalah akibat dari evolusi teknologi (terutama informasi) yang mengubah hampir semua tatanan kehidupan, termasuk tatanan dalam berusaha dan dalam birokrasi. Bahkan digitalisasi sudah banyak memangkas birokrasi.

Media sosial misalnya, ketika ada komplain pembuatan KTP lama, maka tanpa banyak kata, Kadisdukcapil Sumedang langsung menyahut, minta NIK, cek langsung, verifikasi, dan segera ada solusi.

Atau ketika ada masyarakat yang pingsan dipinggir jalan, kontak 119, tidak lama petugas dari Dinas Kesehatan Sumedang langsung ke lokasi. Yang pingsan terlayani, diobati dengan solusi dan tindakan nyata, nyawa terselamatkan.  Masyarakat  mendapatkan layanan, karena negara hadir melayani berkat arus informasi yang di design sehingga memudahkan penggunanya.

Jika dulu Anda melihat antrian berjubel untuk membuat KTP,  KK atau Administrasi Kependudukan (adminduk) lainnya, berkat perubahan mendasar yang dilakukan Bupati Sumedang, H. Dony Ahmad Munir, melalui repormasi yang dilakukannya sekarang tidak tampak lagi masyarakat antri.

Dony, melakukan kebijakan dimana masyarakat yang akan membuat adminduk, cukup datang sekali ke kantor Disdukcapil atau Kecamatan untuk melakukan perekamanan data, selanjutnya KTP, KK atau permintaan masyarakat dikirim langsung melalui Kantor Pos Indonesia.
Juga, bayi yang baru lahir, yang lahir di Rumah Sakit tertentu, pulangnya sudah membawa Akta Kelahiran, Kartu Keluarga Baru, dan sekaligus mendapatkan Nomor Induk Kependududkan (NIK) untuk Sang Bayi.

Tanpa disadari, ternyata perubahan ini telah menghapus praktek yang sebelumnya dikeluhkan warga. Percaloan misalnya, kini tidak lagi terlihat ada calo yang berseliweran di kantor Disdukcapil. Sebagaimana dilansir dalam sebuah media online di Sumedang.

Saya, sebagai pegiat dalam media online. Sering menyampaikan bahwa toko dan kios anda bisa saja sepi, tapi omzet anda harus tetap berjalan bahkan bisa lebih besar. Pasar Batik Trusmi di Cirebon misalnya, walaupun jumlah pengunjung menurun, tapi omzet mereka bisa tetap menggunung. Karena bisnis online nya tetap dijalankan. Disrupsi terjadi dalam bidang ekonomi.

Lalu bagaimana dengan kondisi Sumedang? Atau kota lainnya di Dunia. Perubahan ini akan tetap terjadi. Yang tidak mau berubah akan punah. Yang biasanya dilayani, sekarang harus melayani. Jika tidak,  sebentar lagi anda akan hilang. #serem.

Rheinald Kasali memberikan tiga hal untuk menghadapi era disrupsi ini. Pertama adalah jangan nyaman menjadi "pemenang". Organisasi yang merasa sangat nyaman selalu berasumsi bahwa pelanggan mereka sudah sangat loyal. Padahal, ketika terjadi perubahan fundamental saat ini, perlu ditengok ulang lagi apakah terjadi pergeseran segmen konsumen yang bisa jadi berkarakter lain dengan konsumen lama.

Kedua adalah jangan takut menganibalisasi produk sendiri. Cara ini sepertinya menjadi cara yang sadis karena harus membunuh produk sendiri dan melahirkan produk baru. Inilah yang dikatakan perubahan mendasar dalam organisasi jika menghadapi era disrupsi.

Ketiga adalah membentuk ulang atau menciptakan yang baru. Melakukan inovasi dengan memodifikasi yang sudah ada dalam bentuk lain atau bahkan menciptakan hal baru akan membuat organisasi akan bisa bertahan.

Tiga strategi tersebut akan membuat disrupsi bukan sebagai ancaman, melainkan justru peluang untuk mendapatkan keuntungan dan mengembangkan organisasi. Selain itu, hal yang paling penting adalah mengubah pola pikir para anggota organisasi bahwa saat ini telah terjadi disrupsi.

Memberikan kesadaran tentang ada disrupsi adalah sebuah syarat teori perubahan John P Kotter, yaitu mengomunikasikan visi dan misi serta melakukan koalisi dengan anggota organisasi. Jika ini telah disampaikan ke semua anggota organisasi, upaya untuk mengubah pola pikir para anggota organisasi akan semakin mudah. Selanjutnya langkah melakukan perubahan akan semakin mudah meski ada syarat-syarat lain.

Maka, kejadian yang sudah dilakukan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil serta Dinas Kesehatan Sumedang, semoga bisa di adopsi oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan yang mewadahi pedagang Pasar Sandang, dan Pedagang Kaki Lima yang sampai saat ini, solusinya masih jadi bahan diskusi.

Disrupsi sudah dan akan terjadi. Pola pikir lama, seharusnya tidak lagi menjadi kebanggaan, karena perubahan tidak mengenal siapa Anda, jabatan Anda, pendidikan Anda, harta Anda, darah biru atau bukan. Dia akan hadir. Maka berubahlah! Atau menjadi punah.

*)
Rauf Nuryama
Sekretaris Jendral Forum UKM Digital Kreatif Indonesia
Pemimpin Redaksi TiNEWSS.com