Mohon tunggu...
Raka Ahmad Valiandra
Raka Ahmad Valiandra Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa

Mahasiswa Hukum yang hobi menulis

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud Pilihan

Politik Dinasti, Tradisi Penguasa yang Sudah Mengakar di Indonesia

29 Desember 2020   17:15 Diperbarui: 29 Desember 2020   17:46 291
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Jika kita berbicara mengenai politik dinasti, maka yang terlintas di pikiran kita adalah langgengnya kekuasaan. Suatu hegemoni yang terus menerus berkuasa dengan pertalian ikatan darah. Dimana pemimpin yang menjabat di suatu daerah meneruskan kekuasaannya kepada anak atau saudaranya. 

Praktik ini berjalan beriringan dengan konflik kepentingan dan potensi nepotisme. Politik dinasti sudah ada sejak era kerajaan, ia terus tumbuh sepanjang zaman mengikuti perubahan, tak terkecuali di masa demokrasi modern seperti sekarang, yaitu Pilkada.

Pilkada 2020

Pilkada 2020 kini telah berlalu, pesta politik yang ada setiap 5 tahun sekali ini berhasil menarik perhatian seluruh masyarakat Indonesia, bukan hanya pelaksanaannya yang terkesan memaksa dikala pandemi, tetapi juga hasilnya yang memuat fakta bahwa politik dinasti semakin berkuasa di negeri ini.

Sejak awal pilkada, sejumlah paslon yang terafiliasi dengan dinasti politik sudah mulai terlihat, yang paling mengundang perhatian adalah putra sulung presiden Jokowi yaitu Gibran Rakabuming Raka yang maju sebagai calon walikota solo menggeser kandidat senior lainnya dari partai PDIP. 

Lalu ada menantu presiden yaitu Bobby Nasution yang maju ke piwalkot medan sebagai calon walikota dari partai PDIP. Selain itu ada pilkada Tangsel yang menjadi tempat pertemuan 3 dinasti politik, yaitu Rahayu Saraswati keponakan Ketum Gerindra Prabowo Subianto, Siti Nur Azizah, putri Ma’ruf Amin, dan Pilar Saga Ichsan, keponakan dari Ratu Atut yang keluarganya menguasai Banten.

Menurut Yoes C Kenawasz kandidat doktor ilmu politik dari Universitas Northwestern, Amerika Serikat mengatakan pada Pilkada 2015 diketahui ada 53 kandidat dinasti politik. Sementara pada 2020, jumlahnya kian merangkak naik menjadi 158 kandidat.

Peningkatan yang tajam itu pula, kata Yoes, berdampak terhadap demokrasi Indonesia yang kian mengkhawatirkan.

"Peningkatannya tuh lebih sedikit dari 300 persen, tiga kali lipat lah penambahannya dari tahun 2015. Jadi di tahun 2020 ini dalam satu putaran kekuasaan itu ada 158 kandidat dinasti yang berpartisipasi dalam pemilu," kata Yoes dalam webinar bertajuk Dinasti Politik Jokowi dan Pandemi Covid-19 yang diselenggarakan Tirto.id, Rabu (16/12/2020).

Dari hasil pilkada tersebut, pilkada Solo dan Medan berhasil dimenangkan oleh anak serta menantu presiden Jokowi, yaitu Gibran Rakabuming Raka dan Bobby Nasution. Sementara di Tangsel, pilkada dimenangkan oleh keponakan dari ratu atut yaitu pilar saga. Jumlah ini belum termasuk kemanangan politik dinasti di daerah lain yang jumlahnya lebih banyak lagi. Fakta ini menjadi pertanda semakin mengkhawatirkannya demokrasi di Indonesia.

Sejarah Politik Dinasti

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun