Mohon tunggu...
Raihan Muhammad
Raihan Muhammad Mohon Tunggu... Mahasiswa - Manusia biasa yang senantiasa menjadi pemulung ilmu dan pengepul pengetahuan.

Manusia biasa yang senantiasa menjadi pemulung ilmu dan pengepul pengetahuan.

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Soe Hok Gie, Mendayung di Antara Dua Rezim

17 Juni 2022   19:26 Diperbarui: 18 Juni 2022   10:50 1014
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar diolah oleh: Raihan M.


Pada era Sukarno, banyak tokoh yang dipenjara tanpa proses pengadilan, seperti Sjahrir, Mochtar Lubis, dan masih banyak lagi yang lainnya. Gie kemudian mengkritisinya lewat tulisannya, ia berpandangan bahwa tindakan tersebut telah melanggar hak asasi manusia—bagaimana bisa negara yang diklaim sebagai demokrasi, tetapi tidak menerapkan sikap demokratis?—sehingga tidak bisa dibenarkan. Gie berpandangan bahwa Sutan Sjahrir merupakan tokoh idealis dan humanis, tetapi sayangnya nasibnya sangat tragis, hidup dalam masyarakat yang kurang menghormati nilai kemanusiaan, sampai akhirnya wafat sebagai status seorang tahanan.


Gie juga merupakan mahasiswa yang paling vokal mengkritik rezim Sukarno, dan menjadi salah satu yang menakhodai aksi demonstrasi pada tahun 1966 yang dikenal dengan Tritura (Tri tuntutan rakyat) atau tiga tuntutan rakyat. Ketika itu situasinya digambarkan dalam buku Zaman Peralihan (2005: 4—5) Terjadi kepanikan yang luar biasa dalam masyarakat—terlebih lagi ketika itu menjelang Lebaran, Natal, dan Tahun Baru Tionghoa—harga melambung tinggi hingga ratusan persen dalam kurun waktu sepekan. Kekacauan ini juga ditambah dengan politik menaikan harga oleh pemerintah, tarif kendaraan umum naik antara 500 persen sampai dengan 1.000 persen, tarif-tarif yang lainnya juga ikut naik.


Tindakan pemerintah ketika itu merugikan masyarakat—terutama rakyat kecil—karena kebutuhan pokok, seperti beras naik rata-rata 300 persen sampai dengan 500 persen. Gie berpandangan bahwa tujuan dari tindakan ini untuk mengacaukan masyarakat untuk mengalihkan dari Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh). Mahasiswa juga sangat keberatan dengan kenaikan-kenaikan harga yang dilakukan oleh pemerintah, akibatnya mereka bersama masyarakat lainnya menggalang kekuatan untuk meminta peninjauan kembali terhadap peraturan yang telah diterbitkan, tetapi sudah berkali-kali dilakukan tetap tak membuahkan hasil—bahkan delegasi pemuda diejek oleh Menteri-menteri yang bersangkutan.


Dikisahkan juga dalam buku Zaman Peralihan (2005), pada 10 Januari 1966 para mahasiswa dari pelbagai almamater melakukan aksi demonstrasi ke Sekretariat Negara dengan tujuan memprotes kenaikan harga kemudian pada tanggal 12 Januari 1966, puluhan ribu mahasiswa jalan kaki dari Kampus UI, Salemba menuju ke Gedung DPR-GR (jaraknya sekitar 15 km) untuk menyuarakan aspirasi kepada wakil-wakil rakyat. Ketika itu mahasiswa terus melakukan manifestasi umum yang diakibatkan oleh pelbagai macam hal, para mahasiswa menuntut pembubaran PKI, rombak kabinet Dwikora dari menteri-menteri yang tidak berkompeten, dan cabut peraturan-peraturan pemerintah yang menyulitkan hidup rakyat. 

Pelbagai aksi dilakukan oleh mahasiswa untuk dapat menyuarakan aksi terhadap pemerintah, seperti yel-yel, menempel plakat, orasi, dan sebagainya. Mahasiswa yang tergabung ke dalam KAMI (Koalisi Aksi Mahasiswa Indonesia) itu kemudian dituduh oleh front anti-KAMI yang didalangi oleh PKI. KAMI dituduh sebagai anti-Sukarno, antek CIA (badan intelijen Amerika Serikat), ditunggangi Nekolim (neokolonialisme dan imperialisme), dan lain-lain.

Pada tanggal 21 Februari 1966, Presiden Sukarno mengumumkan adanya perombakan kabinet dalam pemerintahannya. Hal tersebut membuat para mahasiswa marah, kemudian untuk meningkatkan aksi demonstrasinya, pada tanggal 24 Februari 1966, para mahasiswa memboikot pelantikan menteri-menteri baru yang dilakukan presiden tersebut. Karena Tritura dianggap tidak mendapat respons yang baik dari Presiden Sukarno, demonstrasi-demonstrasi semakin deras dilaksanakan, hingga akhirnya terdapat Surat Perintah 11 Maret 1966 atau biasa disebut Supersemar. Surat tersebut menandai dibubarkannya Partai Komunis Indonesia, mundurnya Sukarno dari jabatannya sebagai presiden Republik Indonesia, serta Soeharto naik menjadi "Nakhoda" Republik Indonesia yang baru.


Rezim Soeharto
Setelah Gie dan kawan-kawan berhasil mengoyak-ngoyak rezim Sukarno hingga runtuh, akhirnya rezim berganti menjadi rezim Soeharto. Pada awal pemerintahan Soeharto, Gie berpandangan bahwa Soeharto lebih baik diterima secara wajar, yang dibiarkan supaya melihat sisi kelam Indonesia pada masa sebelumnya (era Sukarno). Gie juga menulis bahwa setelah pergantian rezim terdapat kemajuan dalam pers, dari yang sebelumnya dibatasi dan media massa dibredel, pada era ini sudah menjadi lebih baik.


Dalam buku Zaman Peralihan (2005: 80), Gie berpandangan bahwa setelah tahun 1966 pemerintah mencoba untuk merumuskan kembali tata masyarakat Indonesia, rumusan tersebut yang kemudian dikenal dengan rezim Orde Baru, yakni sikap mental terhadap pembaruan. Dalam bidang politik dirumuskan pemurnian konstitusi dengan demokrasi Pancasila, dalam bidang ekonomi dirumuskan stabilitas dan pembangunan.targetnya pembangunan pertanian. Dalam bidang hukum dirumuskan prinsip rule of law (negara mesti diperintah oleh hukum, dan bukan sekadar keputusan pejabat-pejabat secara individual). Gie menilai bahwa Orde Baru (Orba) berbeda dengan sistem pemerintahan era Sukarno.


Saat Orde Baru, Presiden Soeharto yang berkepentingan untuk meraih kekuasaan penuh sedang berusaha menarik simpatisan dewan legislatif. Tak cuma orang partai dan tentara yang dirangkul Soeharto untuk menjadi bagian dari kekuasaan, tetapi juga mahasiswa. Para mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) menjadi salah satu target utama Soeharto untuk mencari dukungan. Di dalam buku Zaman Peralihan (2005: 24) Gie menuliskan, "Ujian pertama dari KAMI datang pada saat penawaran menjadi DPR-GR. Golongan moral forces menolaknya karena racun berbungkus madu di atas kursi empuk DPR-GR ...."

Gie tidak tertarik dengan politik karena baginya politik itu kotor, serta mahasiswa cuma bakal dijadikan alat penguasa untuk mempertahankan kekuasaannya, tetapi sebagian kawan-kawannya dari KAMI menerima dengan alasan bahwa suara mahasiswa diperlukan untuk voting anti-Sukarno dan menyusun UU Pemilihan Umum, tetapi pada kenyataannya berbeda, mereka yang sudah menjadi anggota DPR-GR tidak berbicara atas nama mahasiswa, melainkan berbicara atas nama kelompoknya sendiri. Gie berpandangan bahwa kekuasaan Sukarno akhirnya jatuh, dan mahasiswa yang ada di DPR-GR juga jatuh martabatnya di mata mahasiswa biasa. Gie menganggap teman-temannya yang duduk menjabat di DPR-GR sebagai pengkhianat, Gie juga menuliskan, "Sebagian dari pemimpin-pemimpin KAMI adalah maling juga. Mereka korupsi, mereka berebut kursi, rebut-ribut pesan mobil dan tukang kecap pula." 

Dalam Harian Nusantara, Gie juga menulis untuk kawan-kawannya yang telah berkhianat,

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun