Mohon tunggu...
Rahman Arifin
Rahman Arifin Mohon Tunggu... Guru - Guru SMPN 1 CILIMUS

Anggota Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat (KPPJB). Sedang belajar menulis yang bermanfaat bagi semuanya.

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Jeritan Koruptor

27 November 2022   06:32 Diperbarui: 27 November 2022   06:33 115
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Karya Rahman Arifin

AAAAAAAAAA aaaaaaaaaa ..........
UUUUUUUUUU uuuuuuuuu ..........

Sayup sampai suara itu ditelingaku
Silih berganti tak henti-henti
Kadang senyap hawar hawar halon lalu sedikit tarik
Dan akhirnya melolong memekakkan gendang telinga
Seolah sakit tiada terperi

gak tega mendengarnya
Tapi ketika kuingat
mereka perampok dan pembunuh
Orang miskin papa yang kelaparan dan kesakitan

ketika merampok dan membunuh
Mereka tertawa cekakak cekikik sambil terkencing-kencing
Dan air liurnya menetes deras
Mengucuri mulut miskin yang lapar dan kehausan

Aku jadi muak juga
Pingin muntah!!!!!!!!!!!
Dan menyebrotkan muntahku pada pembunuh dan perampok ini

sungguh tak punya otak dan nurani
bebal!
mengaku paling beradab dan paling terhormat

Lihat celana dalamnya harga jutaan
Sepatu kulitnya dari Italia harga puluhan juta
Jam tangannya dari Swiss harga ratusan juta
Tasnya dari Perancis harga milyaran
Silahkan hitung sendiri berapa outfitnya

Tapi tahukah kamu uang yang dibelanjakan itu
adalah jatah Mbah Karto untuk membeli raskin
Bagian Mbah Misjem yang selalu makan tiwul
Milik Ma Uneh yang selalu makan gaplek
Dan uang-uang dari mbah-mbah dan semua orang miskin
puluhan, ratusan, ribuan, jutaan, milyaran bahkan trilyunan

Tak terlihatkah olehmu hai koruptor!
betapa tirus menderita wajah-wajah mereka
dan sakit lambung-lambung mereka karena sering menahan lapar
Sementara kamu sibuk menata rambut di salon dan memanjakan lambung di restoran mewah

AAAAAAAAAA aaaaaaaaaa ..........
UUUUUUUUUU uuuuuuuuu ..........

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun