Ns.Rahayu Setiawati Damanik, S.Kep, M.S.M
Ns.Rahayu Setiawati Damanik, S.Kep, M.S.M Penulis buku & Wirausaha

1. Do your best and God will do the rest (Lakukan yang terbaik apa yang menjadi bagianmu dan biarkan Tuhan menentukan hasilnya) 2. Penulis lahir di Kabanjahe Sumatera Utara pada tanggal 15 Juni 1983. Menyelesaikan Pendidikan Sarjana Keperawatan di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia dan Pasca Sarjana Manajemen Keuangan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Penulis buku “Sakitnya Membuka Usaha Penitipan Anak” dan “Lepas dari Krisis Asisten Rumah Tangga”. Sejak Tahun 2013 hingga kini mengelola usaha day care (penitipan anak) “Happy Day Care”. Sering menulis artikel mengenai keluarga, pernikahan, perempuan, dan anak-anak. 3. Kini mengelola usaha Daycare dan Homeschooling DeanMores di Jatibening Bekasi 4. Percaya bahwa keluarga adalah kekuatan suatu bangsa. Keluarga yang teguh akan membangun bangsa yang kokoh. 5. Best in Specific Interest Kompasianival 2016 6. Tulisan lainnya bisa dibuka di www.rahayudamanik.com, www.rahayudamanik-inlove.com, dan www.rahayudamanik-children.com

Selanjutnya

Tutup

Wanita Artikel Utama FEATURED

Sebaiknya Hindari Perceraian, Ini Alasannya

16 Agustus 2016   10:58 Diperbarui: 8 Januari 2018   02:35 623 12 7
Sebaiknya Hindari Perceraian, Ini Alasannya
Perceraian menimbulkan risiko yang sangat besar bagi diri sendiri, pasangan, keluarga besar, dan anak-anak (foto: actualite-generale.lalibre.be)

Ketika kerikil tajam menerpa rumah tangga, tidak sedikit yang menempuh perceraian karena menganggap perpisahan sebagai sebuah solusi yang terbaik demi masa depan yang lebih bahagia. Buat apa mempertahankan pernikahan bila sudah tidak ada kenyamanan lagi dengan pasangan?

Bukankah pernikahan demikian tidak sehat dan tiada artinya lagi, jadi lebih baik menyudahi saja dan melepaskan diri dari kegetiran penderitaan yang membuat semakin terluka. Kira-kira demikianlan yang ada di pikiran kita bila sudah sangat ingin berpisah dari pasangan.

Keinginan bercerai mungkin dipicu oleh masalah perbedaan pendapat yang seolah tiada akhir, KDRT, perselingkuhan, kesulitan ekomi, campur tangan keluarga besar, dan lain sebagainya. Kemarahan dan merasa harga diri sudah begitu diinjak-injak membuat kita sedemikian emosi dan dendam sehingga yang terpikir hanya bercerai.

Kita berharap bisa bertemu dengan seorang yang lebih baik dan lebih cocok sebagai pengganti pasangan yang lama. Saat menemukan pasangan baru, kita memulai kehidupan yang bukannya mudah namun juga tidak kalah menguras tenaga, pikiran, hati, dan materi.

Padahal bila pengorbanan yang sama dipersembahkan untuk mempertahankan pernikahan sebelumnya mungkin saja masalahnya sudah selesai. Namun emosi telah menutup logika dan ketenangan berpikir kita. Padahal bila dipikir-pikir, tidak ada satu orang pun yang bisa menjamin kalau pernikahan kedua akan lebih baik daripada yang pertama.

Bila untuk yang pertama kita menyerah maka ada kemungkinan pernikahan kedua juga akan demikian. Saat kita memilih bercerai sejatinya kita sudah melanggar janji setia pernikahan yang dulu kita ucapkan di hadapan pasangan dan Sang Kuasa. Bila kita melanggar janji yang demikian agung maka sebenarnya kita pasti akan lebih mudah ingkar pada janji-janji lain yang kita ucapkan.

Bayang-bayang kegagalan pernikahan masa lalu pun tidak jarang masih meninggalkan trauma yang sedikit banyak akan mempengaruhi pernikahan sekarang. Bila ada masalah dengan pasangan baru bukan tidak mungkin kita membayangkan pasangan sebelumnya khususnya saat menjalani masa indah bersamanya dulu.

Mungkin ada penyesalan karena masalah sekarang pasti tidak jauh dengan yang sebelumnya. Sama-sama berat dan membuat sesak napas. Betapa tidak bahagia menjalani pernikahan dengan rasa sesal. Jangan-jangan timbul keinginan untuk bercerai lagi. Bila demikian kita hanya akan sibuk merencanakan pernikahan-pernikahan baru sampai kehabisan usia sehingga tidak sempat mematangkan hubungan.

Masalah perceraian bukan hanya tidak baik bagi diri kita saja namun juga anak-anak. Hal ini memang bukan hal yang mutlak namun sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan mental dan kepercayaan diri mereka. Kita mungkin sudah merasa terbebas dari penderitaan pernikahan sebelumnya namun ini adalah awal dari penderitaan anak-anak.

Rasa haus kasih sayang dari kedua orang tua harus digantikan dengan raut duka ayah atau ibu yang ditinggalkan. Belum lagi ada luka melihat ayah atau ibu yang sangat sayang dengan pasangannya yang baru. Padahal semua anak membutuhkan kasih sayang kedua orang tua untuk membantu mereka menjadi pribadi yang berkarakter baik.

Perceraian orang tua menimbulkan luka yang tidak sedikit meskipun terkadang tidak mereka ungkapkan. Ada rasa rindu mendapat kasih sayang orang tua apalagi saat melihat teman-teman mereka yang dilimpahi kasih sayang papa mama.

Kehidupan mereka tidak sama lagi setelah perceraian itu digaungkan. Anak-anak harus siap menanggung segala risiko yang tidak seharusnya. Entah bagaimana mereka mampu bertahan dan kelak menjadi orang tua yang bertanggung jawab bila tidak memiliki role model yang harus diteladani?

Ketakutan dan rasa trauma anak akan semakin menjadi bila orang tua mereka bukan hanya bercerai namun juga menyajikan pemandangan yang semakin membuat anak bersedih misalkan dalam permasalahan hak pengasuhan anak dan permbagian harta gana-gini. Lengkaplah sudah penderitaan mereka. Orang tua kita juga pasti tidak kalah sedih melihat perceraian anak-anaknya. Kenyataan ini bisa membuat mereka mudah sakit di usia yang tidak muda lagi.

Perceraian seolah menjadi solusi namun meninggalkan risiko lain yang jauh lebih besar. Sehingga alih-alih menyebutnya sebagai jalan keluar, perceraian sebenarnya wujud dari sikap lari dari kenyataan hidup yang harus dihadapi dan diselesaikan. Bukankah Sang Kuasa tidak pernah menjanjikan jalan pernikahan yang selalu mulus? Namun Dia tidak akan memberikan ujian yang melebihi kekuatan kita. Bila kita tekun menghadapi masalah dan belajar mengambil hikmah maka bukan tidak mungkin kita akan mampu melewati badai pernikahan yang mengantarkan kita pada pernikahan yang lebih kondusif dan mendewasakan karakter.

Saat menjalani terjalnya pernikahan memang waktu terasa berat namun bila menghilangkan kata perceraian dari kamus kita dan memikirkan persoalan dengan hati yang tenang maka kita akan selalu menemukan solusi yang terbaik dan tidak pernah terpikir untuk bercerai.

Salam,

Rahayu Damanik