Bisnis Artikel Utama

Ekonomi Kreatif, Tren Milenial atau Peluang Menuju Kemajuan?

25 April 2019   00:00 Diperbarui: 25 April 2019   08:12 317 4 0
Ekonomi Kreatif, Tren Milenial atau Peluang Menuju Kemajuan?
Ilustrasi ekonomi digital (SHUTTERSTOCK) | Kompas.com

Membicarakan tentang pergerakan kaum millenial memang tidak pernah ada habisnya. Bagaimana tidak, segudang fenomena yang terjadi belakangan ini mulai dari kisah perundungan seorang remaja bernama Audrey yang viral, perbuatan tidak beretika para pelajar terhadap gurunya, juga anak SD yang ketagihan film porno yang dapat dengan mudah diaksesnya melalui koneksi internet, dan lain sebagainya. Dan banyak pihak menuding kemajuan teknologi dan perilaku para milenial lah penyebabnya.

Namun, apakah benar kemajuan teknologi informasi hanya memberi dampak yang buruk? Saya rasa tidak adil, dan kurang cerdas juga jika kita hanya melihat segala sesuatunya dari satu sisi saja.

Sebagai perbandingan atas banyaknya fenomena negatif yang pelakunya adalah para "millenialis", jika kita mau bersikap adil, ada banyak, bahkan sangat banyak prestasi dan kontribusi positif yang juga mereka torehkan.

Rich Brian adalah salah satu contohnya. Seorang Rapper muda yang mampu melesat ke pasar musik internasional dengan karya-karyanya.

Berbagai platform karya anak bangsa pun turut berperan dalam pertumbuhan Product Domestic Bruto (PDB) dimana tercatat Rp 125 Triliun pada tahun 2017 masuk dari kontribusi e-commerse yang mayoritas adalah karya generasi milenial.

Bukan hanya itu saja, berbagai platform yang dibuat untuk tujuan kegiatan sosial seperti reblood, kitabisa.com, dan wecare.id pun turut berperan dalam menyalurkan bantuan dari para dermawan kepada saudara-saudari kita yang membutuhkan bantuan.

Jika dilihat dari usianya, rata-rata pendiri platform-platform tersebut tidak lebih dari 30 tahun. Sebut saja Men's Republic, Crowde, Teralite, PayAccess, Ruang Guru, Sale Stock, Fabelio, dan masih banyak lagi platform lain yang didirikan oleh para generasi muda usia antara 20 hingga 29 tahun.

Jadi, masihkah kita akan menyalahkan kaum millenialis atas segala macam persoalan moral dan etika? Lagi pula, jika berkaca pada masa lalu, di setiap zaman pasti selalu ada tantangan yang harus di hadapi. Masalah moral dan etika pun sudah ada sejak dulu, hanya saja karena teknologi informasi yang sudah sangat maju saat ini membuat segala sesuatunya mudah menyebar dan ter-blowup.

Dampak positif ataupun negatif yang dihasilkan itu tergantung pada bagaimana cara kita memanfaatkan teknologi itu sendiri. Dan yang terpenting adalah bagaimana kita mendidik dan mengedukasi generasi penerus untuk lebih bijak dalam meghadapi tantangan zaman yang serba cepat dan terbuka saat ini.

Ekonomi Kreatif sebagai Sebuah Tren
Belakangan kreativitas anak muda mejadi sangat mudah untuk disalurkan. Terlebih dengan berbagai kemudahan untuk saling terkoneksi dan berbagi, membuat sharing informasi dan implementasi ide-ide kreatif menjadi sangat mungkin untuk direalisasikan. Tanpa melihat batas wilayah dan jarak setiap orang dapat saling terhubung.

Indonesia merupakan sebuah negara kesatuan yang kaya akan budaya. Kreativitas bangsa kita sudah bukan hal yang baru. Bahkan jauh sebelum tahun 1945 bagsa kita mampu menciptakan berbagai karya yang hebat seperti batik, ukiran, bangunan candi, tarian, dan sastra yang unik dan diakui dunia.

Bedanya, jika dulu sharing informasi berjalan lambat, sekarang menjadi sangat mudah dan cepat. Fasilitasnya pun sudah lebih mumpuni. Hal ini pun berdampak pada kondisi sosial dan kebiasaan masyarakat saat ini.

Jika dahulu kita harus berjalan ke ujung gang untuk naik angkot atau ojek, sekarang sudah tidak perlu lagi, cukup dengan membuka aplikasi di smartphone dalam beberapa saat ojek pun akan datang menjemput. Bahkan belanja pun sudah tidak perlu keluar rumah dengan adanya berbagai e-commerse dan e-payment.

Berbagai bidang usaha pun berkembang tidak hanya bergantung pada bahan baku saja, tetapi juga keunggulan yang ditawarkan serta kemudahan transaksi. Added value menjadi sangat penting dalam persaingan pasar saat ini. Disinilah peran kreatifitas bermain.

Ekonomi kreatif adalah suatu konsep perekonomian di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengedepankan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi yang paling utama.

Mengacu pada pengertian tersebut, berbeda dengan bidang usaha lain seperti pertambangan yang bergantung pada ketersediaannya di alam atau bidang manufaktur yang bergantung pada ketersediaan bahan baku, ekonomi kreatif bergantung kepada ide dan pengetahuan yang tidak ada batasnya dan tidak akan habis sampai kapan pun.

Ekonomi kreatif sendiri terdiri dari 16 subsektor, antara lain:
1. Aplikasi dan game
2. Arsitektur
3. Desain Produk
4. Desain interior
5. Desain komunikasi visual
6. Fashion
7. Film, Animasi, dan Video
8. Fotografi dan video
9. Kriya
10. Kuliner
11. Musik
12. Penerbitan
13. Periklanan
14. Seni Pertunjukan
15. Seni Rupa
16. Televisi

Dengan desain produk yang menarik akan memberi added value terhadap suatu produk, yang tentunya akan meningkatkan daya saing dan harga produk tersebut.

Mungkin anda masih ingat dengan sosok Steve Jobs, pendiri Apple. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi yang mempunyai mimpi untuk menggabungkan antara seni dan teknologi. Ya, mimpinya itu dapat terwujud dengan lahirnya machintosh, iPod, iPhone, iPad, dan beberapa produk lain. 

Saya masih ingat sebuah scene dalam film "JOBS", betapa Steve Jobs ngotot saat berdebat dengan salah satu anggota timnya hanya untuk menyematkan berbagai jenis font dalam sebuah aplikasi yang sedang dikembangkannya. Saya paham bagaimana pilihan font yang beragam menjadi sangat penting untuk menambah nilai estetika bagi aplikasi tersebut. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2