Rahab Ganendra
Rahab Ganendra Jakarta Worker

demen melekan - suka ngeVlog

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Air Mata Khojaly di Istiqlal

26 Februari 2018   03:01 Diperbarui: 26 Februari 2018   09:20 845 4 4
Air Mata Khojaly di Istiqlal
Topi

Akhir Februari 1992, tepat 26 tahun silam. Tercatat di torehan sejarah kelam di sanubari orang-orang etnik Azeri (Azerbaijan). Catatan peristiwa pahit yang tak mungkin dilupakan dan akan membekas di darah generasi turun temurun. Darah sanak saudara yang tumpah, kehilangan nyawa di pucuk-pucuk senjata tentara Armenia, negara tetangganya sendiri. Diantara ingatan akan kota Khojaly yang menjadi puing-puing serangan senjata yang membabi-buta, hingga detik ini, keadilan atas peristiwa agresi itu terus diperjuangkan oleh Azerbaijan. Pasalnya meski Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional telah memutuskan Armenia melakukan kejahatan kemanusiaan atas kasus Khojaly, namun tangan-tangan hukum keadilan belum menjamah para pelakunya.

Ada yang berbeda dalam acara Kajian Islam Bulanan yang digelar pada Minggu, 25 Februari 2018 kemarin di Masjid Istiqlal, Jakarta. Ada bentangan banner di atas panggung. Kain berlatar belakang warna putih itu bukan kain biasa. Kain itu mengusung pesan kemanusian tentang peristiwa tragedi, 26 tahun silam di Khojaly, Republik Azerbaijan. Gaung kemanusiaan "Justice for Khojaly" yang dikampanyekan untuk memberitahu terjadinya aksi genosida berdarah itu, 26 tahun silam.

Banner
Banner
Gaung kemanusiaan itu tersebar juga di dunia maya, melalui tweet dengan hestek #JusticeForKhojaly. Tweet  sudah bergaung sebelum 25 Februari 2018 di dunia internasional. Hestek sempat menjadi trending topic pada Minggu 25 Februari 2018 itu.

Salah satu tweet dengan hestek #JusticeforKhojaly. (SC twitter)
Salah satu tweet dengan hestek #JusticeforKhojaly. (SC twitter)
Salah satu tweet dengan hestek #JusticeforKhojaly. (SC twitter)
Salah satu tweet dengan hestek #JusticeforKhojaly. (SC twitter)
Gaung tragedi Khojaly dalam acara Kajian Islam Bulanan bersama KH. Yusuf Mansur di Masjid Istiqlal itu dihadiri oleh Ruslan Nasibov, Deputy Chief of Mission Kedutaan Besar Azerbaijan. Minimnya informasi tragedi Khojaly itu membuat banyak kalangan yang belum mengetahuinya. Itulah salah satu tujuan hadirnya perwakilan Kedubes Azerbaijan dalam acara itu.

Tragedi Semalam yang Mengerikan di Khojaly

Perlu diketahui, sekilas apa yang terjadi di Khojaly, Karabakh yang terletak 270 km sebelah barat Baku, ibu kota Azerbaijan itu adalah tentang wilayah. Sejatinya Khojaly masuk ke dalam bagian wilayah negara Azerbaijan. Namun, wilayah tersebut dihuni oleh mayoritas etnik Armenia.  Etnik Armenia setempat memproklamasikan kemerdekaan Republik Nagorno-Karabakh dari Azerbaijan pada 10 Desember 1991, namun kedaulatan negara itu tidak diakui oleh dunia internasional.

Dunia internasional secara de jure, menganggap wilayah itu sebagai bagian dari Azerbaijan. Konflik pun tak terhindarkan. Konflik makin meruncing saat militer Armenia turut campur tangan bersama Rusia. Suhu konflik Azerbaijan dan Armenia memanas. 

Kembali ke acara. Beberapa menit dilakukan pemutaran video tentang tragedi yang terjadi pada malam 26 Februari 1992. Tragedi yang terjadi hanya semalam yang dilakukan ribuan etnik Armenia-Karabakh yang dibantu oleh militer Armenia dan waktu itu Uni Soviet. Serangan itu melumat kota Khojaly, Karabakh yang tengah bergegas untuk beristirahat di malam 26 Februari 1992.

Sebanyak 613 orang, termasuk 63 anak, 106 wanita dan 70 orang tua terbunuh akibat pembantaian tersebut. Delapan keluarga dimusnahkan, 130 anak kehilangan satu orang tua dan 25 anak kehilangan keduanya. Sebanyak 487 warga sipil menjadi cacat seumur hidup. Sekitar 1275 warga tak berdosa disandera, dan nasib 150 orang masih belum diketahui. Sementara bangunan seperti masjid-masjid, rumah, dan bangunan-bangunan kota muslim Khojaly banyak yang hancur tinggal puing-puing.   

Ruslan Nasibov di acara Kajian Islam Bulanan yang digelar di Masjid Istiqlal Jakarta, pada Minggu 25 Februari 2018. (Foto Ganendra)
Ruslan Nasibov di acara Kajian Islam Bulanan yang digelar di Masjid Istiqlal Jakarta, pada Minggu 25 Februari 2018. (Foto Ganendra)
Didampingi oleh KH. Yusuf Mansur, Ruslan Nasibov menjelaskan bahwa sampai saat ini tragedi pembantaian muslim Khojaly seperti terlupakan begitu saja. Orang-orang banyak yang tak mengetahui perihal genosida mengerikan itu. Ruslan menyatakan bahwa agresi Armenia melakukan genosida Khojaly adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional telah memutuskan Armenia melakukan kejahatan kemanusiaan atas kasus Khojaly.

"Hingga kini pelaku genosida Khojaly belum diadili," kata KH. Yusuf Mansur menterjemahkan pernyataan Ruslan dari bahasa Inggris.

KH. Yusuf Mansur menjelaskan bahwa kehadiran Ruslan mewakili negaranya adalah untuk meminta doa bagi penyelesaian kasus Khojaly, di damping menginformasikan kejadian berdarah itu kepada orang-orang yang belum mengetahuinya. Sebagai ungkapan solidaritas umat muslim, KH. Yusuf Mansur mengajak untuk mendoakannya. Doa pun dilakukan sejenak bersama umat muslim yang hadir di acara.

"Kedatangan beliau membuka ladang amal kita. Mudah-mudahan ada hukum yang adil atas peristiwa genosida 1992 itu," kata KH. Yusuf Mansur disamping Ruslan.

KH. Yusuf Mansyur di acara Kajian Islam Bulanan yang digelar di Masjid Istiqlal Jakarta, pada Minggu 25 Februari 2018. (Foto Ganendra)
KH. Yusuf Mansyur di acara Kajian Islam Bulanan yang digelar di Masjid Istiqlal Jakarta, pada Minggu 25 Februari 2018. (Foto Ganendra)
Justice For Khojaly

Khojaly, kota kecil dan bersahaja yang berpenduduk 3 ribu Muslim entik Azerbaijan, sontak menjadi kota yang paling tertekan dan mencekam di Azerbaijan. Konflik yang berkepanjangan dan menelurkan aksi berdarah itu menimbulkan simpati dari kalangan internasional.

Mengutip dari sumber Kedubes Azerbajan, World Assembly of Muslim Youth (WAMY), organisasi pemuda Muslim internasional yang dipayungi oleh Liga Dunia Islam (Rabitah al-Alam al-Islami) menggelar misi internasional dengan tajuk "al-Adalah li Khujali" (Keadilan untuk Muslim Khujali) di Istanbul, Turki. Salah satunya adalah digelarnya pameran fotografi yang akan dibuka hingga 26 Februari 2018 dan diikuti oleh fotografer dari berbagai negara.

Di lain sisi, Leyla Aliyeva selaku Koordinator Pusat Forum Konferensi Pemuda Islam untuk Dialog dan Kerjasama,  memprakarsai kampanye "Justice For Khojaly" sejak 8 Mei 2008.  Kampanye itu adalah kepedulian masyarakat internasional terhadap agresi Armenia atas Khojaly, Azerbaijan.

Situs www.justiceforkhojali.org.
Situs www.justiceforkhojali.org.
Kampanye dimaksudkan untuk membangkitkan kepedulian masyarakat dunia untuk terus melancarkan aksi dengan foto-foto kreatif dan gambar-gambar tentang fakta-fakta penderitaan konflik Karabakh dan pembantaian di Khojaly hingga menjadi wacana secara global melalui media pers, internet dan berbagai even.

Salah satu peringatan tragedi Khojali di Den Haag #JusticeforKhojaly. (SC twitter)
Salah satu peringatan tragedi Khojali di Den Haag #JusticeforKhojaly. (SC twitter)
Kampanye "Justice For Khojaly" juga merupakan upaya-upaya perdamaian, menyuarakan penderitaan korban-korban kepada pemerintah, organisasi-organisasi internasional, media dan para pemegang kebijakan di semua tingkat hingga mengubah  aksi penyangkalan berkepanjangan Armenia serta aksi diam komunitas internasional atas pembantaian di Khojaly. Kampanye itu bisa dilihat di situsnya  www.justiceforkhojaly.org.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2