Mohon tunggu...
Himawan Pradipta
Himawan Pradipta Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Copywriter

Teknisi bahasa di perusahaan konsultasi teknologi di Jakarta Barat. Suka membaca, nonton film, dan berenang.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Sekolah di Inggris? Chevening Jalan Pintasnya!

21 Oktober 2014   01:28 Diperbarui: 17 Juni 2015   20:20 1362
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Siapa yang tak mau sekolah ke luar negeri? Jawabannya saya rasa "hampir semua orang!" Bagaimana tidak? Menimba ilmu di negeri orang, dengan atmosfer yang berbeda, dan gaya hidup yang berbeda tentu menjadi tantangan tersendiri bagi orang di negaranya masing-masing. Tidak hanya itu, prestise yang muncul dari mereka yang kuliah di luar negeri tentu akan berbeda dibandingkan mereka yang kuliah di dalam negeri. Namun begitu, seringkali kendala yang harus dihadapi adalah masalah finansial dan administrasi. Tuition fee-nya yang sulit terjangkau, pembuatan visa, medical check-up, dan hal-hal lainnya seakan menjadi sesuatu yang terlalu menguras kantong dan otak. Untunglah, Chevening Scholarships yang ditawarkan oleh pemerintah Inggris setidak-tidaknya bisa menjadi jawaban dari semua keluhan itu.

Siang 20 Oktober 2014, saya diajak seorang dosen untuk menghadiri seminar Chevening Scholarships di Bale Rucita, Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Seminar yang dihadiri oleh hampir 30 orang dari berbagai strata ini memperkenalkan apa itu beasiswa Chevening dan kiat-kiat apa saja yang harus ditempuh agar bisa lolos beasiswa ini. Fakta-fakta menarik seputar beasiswa ini ternyata membuka mata saya bahwa mendapatkan beasiswa ke luar negeri tidaklah sesulit yang saya bayangkan. Bagaimana bisa?

[caption id="attachment_330125" align="aligncenter" width="614" caption="Mbak Ine sedang presentasi (dok.pri)"][/caption]

Hal pertama yang menarik adalah bahwa beasiswa Chevening hanya menawarkan negara Inggris sebagai destinasi sekolahnya. Tidak seperti Fulbright yang hanya menawarkan universitas di Amerika Serikat, Chevening menawarkan berbagai universitas dari berbagai ranking di negeri Lady Diana. Pemilihan universitasnya juga  menjadi penting, mengingat pelamar beasiswa diperkenankan untuk memilih tiga bidang (subject) di tiga universitas yang berbeda. Satu dari dua pembicara yang hadir, Kang Gusman, yang merupakan penerima alumni Chevening tahun 2004 (beliau mengambil Masters of Law di University College of London), mengatakan bahwa memilih universitas yang kita pilih tidak semata-mata asal memilih hanya karena prestisenya. Universitas yang dipilih juga harus sesuai dengan ranking bidang yang ingin kita ambil. Yah kalau sudah kuliah di London, mau rangkingnya seburuk apapun tetap prestisius, hehehe. Pada tahun 2004, kang Gusman menempatkan University of Oxford di tempat pertama, University of Cambridge kedua, dan University College of London ketiga.

"Waktu itu, kalau kita mau apply ke Oxford, kita harus sudah menyerahkan paper atau jurnal ilmiah. Sementara, pada saat yang sama, saya lagi sibuk mengurus visa dan mengatur pertemuan dengan dekanat Fakultas Hukum Unpad untuk dimintai surat rekomendasi. Jadi, waktunya sudah mepet dan saya gak sempat buat paper, karena harus riset kan, akhirnya Oxford dengan berat hati saya lepas. Begitu juga dengan Cambridge, yang tidak mau menerima mahasiswa Indonesia dengan IPK di bawah 3,7. Sementara IPK saya di bawah itu," tambahnya. Persyaratan yang lainnya berhasil dipenuhi Kang Gusman, seperti skor IELTS-nya yang mencapai 7,5 waktu itu. Sementara itu, untuk tahun depan, skor IELTS standar yang dibutuhkan menjadi menurun,  yaitu 6,5. Kalau disandingkan dengan TOEFL, skor 6,5 dalam IELTS itu sama dengan 580. Berarti, kalau dihitung-hitung, skor TOEFL Kang Gusman waktu itu mencapai hampir 630 atau bahkan lebih!

"Tenang aja, mengingat jarak sekarang dan pendaftarannya bisa dibilang agak panjang, teman-teman bisa terus mengasah dan menantang diri untuk mencapai skor yang diinginkan, kok," kata Kang Gusman sementara kami masih berdecak kagum. Namun begitu, pembicara yang lain, Mbak Ine, mengatakan bahwa untuk mendapatkan nilai kemampuan berbahasa Inggris tidak hanya melalui IELTS tetapi juga bisa melalui IBT. "Saya merekomendasikan teman-teman mengikuti tes yang IELTS karena untuk membuat visa Inggrisnya nanti, skor yang diminta adalah skor IELTS," katanya. Berbicara tentang visa, beliau juga menginformasikan bahwa sekarang ada yang namanya Visa Application Center yang berbasis di Kuningan City Mall. Di sana, setelah informasi yang dibutuhkan untuk membuat visa tersimpan, data tersebut akan dikirim ke Bangkok untuk diproses, dan itu membutuhkan lima belas hari kerja. Itulah mengapa banyak orang yang mengatakan membuat visa Inggris itu susah, mengingat proses pengirimannya tadi yang agak memakan waktu.

[caption id="attachment_330126" align="aligncenter" width="614" caption="Brosur Chevening Scholarships (dok.pri)"]

1413803694949515402
1413803694949515402
[/caption]

Selain memilih universitas dengan bidang yang tepat, memiliki skor IELTS yang dibutuhkan, ternyata Chevening Scholarships juga "hanya" menawarkan program belajar untuk mahasiswa S2. Dengan masa kuliah selama satu tahun penuh, beasiswa ini juga mensyaratkan bahwa pelamar sudah memiliki pengalaman bekerja selama dua tahun. Menariknya adalah beasiswa ini tidak melihat bidang pekerjaan apa yang dilakukan, yang penting sudah bekerja di sana selama dua tahun. Yang dilihat adalah bidang apa yang sebelumnya (di S1) sudah diambil oleh pelamar. Mbak Ine kemudian menambahkan dengan memberikan contoh. Seorang pelamar Chevening mendaftar dengan memilih program studi Strategic Economics di University of Nottingham. Dia sudah bekerja di sebuah perusahaan ekonomi selama empat tahun. Namun begitu, dia tidak diterima karena bidangnya saat sarjana adalah Ilmu Komunikasi. Sayang sekali.

Ini mungkin yang menjadi pemicu seorang penanya, "Lalu, langkah awal yang harus kita lakukan bagaimana, Mbak?" Mbak Ine menjawab, "Lulus dulu!" Asal sudah lulus sarjana dan IPK di atas 3,00, silakan langsung berkunjung ke website www.chevening.org. Di laman itu, ada formulir pendaftaran yang bisa diunduh secara online dan dilengkapi dengan langkah selanjutnya untuk menjalani proses pendaftarannya. Pendaftaran secara online ini perlu diperhatikan mengingat biasanya sehari setelah pendaftaran dibuka, para pelamarnya membeludak hingga ribuan. Meskipun begitu, tambah Mbak Ine, "kalau mau submit, boleh terlambat dari pertama kali dibuka, asal jangan di menit-menit terakhir, karena jam 12 malam Indonesia dengan jam 12 malam di London jauh berbeda. Takutnya, kalo daftarnya di last minute, portalnya sudah tutup di London."

[caption id="attachment_330127" align="aligncenter" width="614" caption="Timeline prosesi beasiswa Chevening (dok.pri)"]

14138037761412895216
14138037761412895216
[/caption]

Akhirnya, Kang Gusman memberikan sedikit tips untuk membuat personal statement. Beliau mengatakan bahwa dalam personal statement kita, jangan hanya mengatakan bidang apa yang ingin kita pelajari dan mengapa kita ingin bersekolah di Inggris, tetapi juga bagaimana keberadaan kita sebagai penerima beasiswa tersebut mampu berkontribusi untuk UK dan Indonesia selama sepuluh tahun ke depan. Apakah kita ingin menjadi dosen? Teknokrat? Ahli teknologi? Ekonom? Atau sekadar mahasiswa S2 lulusan Inggris? Beliau juga menambahkan, "Kalau bisa di situ juga ditulis bahwa gak ada tempat lain selain di Inggris," sehingga menunjukkan bahwa kita memiliki intensi dan dorongan kuat untuk menimba ilmu di sana.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun