Mohon tunggu...
Pujakusuma
Pujakusuma Mohon Tunggu... Freelancer - Mari Berbagi

Ojo Dumeh, Tansah Eling Lan Waspodho...

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Pilihan

Dewa Kipas dan Persoalan Nasionalisme Kita

23 Maret 2021   08:07 Diperbarui: 23 Maret 2021   08:24 438
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pertandingan catur Dewa Kipas vs Irene Sukandar. Dok detik.com

Sejak kecil penulis tak suka dengan catur. Beberapa kali belajar, tetap saja tidak jago. Bisa sih, tapi hanya kelas pos ronda. Itu juga sering kalah dengan bapak-bapak lainnya. Alhasil, olahraga ini masuk list aktivitas yang paling tidak penulis suka.

Sebagai wong ndeso yang menumpang hidup di kota, catur bukanlah olahraga favorit. Saat kecil dulu, olahraga paling disuka ya sepak bola, volly, badminton atau baseball 'Jawa'. Kasti.

Praktis selama hidup penulis tak pernah mengikuti perkembangan dunia catur. Baru Senin (22/3) kemarin, entah kenapa penulis merasa ingin sekali menyaksikan pertandingan catur.

Tak lain adalah Dewa Kipas aka Dadang Subur. Pria paruh baya yang viral di media sosial usai mengalahkan Levy Rozman, sang dewa catur berlabel International Master asal Amerika. Katanya, akun Dewa Kipas langsung diblokir usai mengalahkan pemilik akun GhothamChess itu karena dianggap curang.

Usai putra Dewa Kipas mengabarkan hal itu, jagad dunia maya langsung gempar. Netizen Indonesia langsung bersatu menyerang Levy secara membabi buta. Alasannya satu, demi rasa Nasionalisme yang membabi buta.

Publik Indonesia tak terima dengan perlakuan Chess.com, tempat para pecatur berlaga secara online, memblokir akun Dewa Kipas. Mereka menganggap, pemblokiran itu merugikan Dewa Kipas. Karena ia orang Indonesia, maka tak ada alasan untuk membela.

Kisruh berlanjut dan semakin memanas ketika Percasi ikut mengomentari persoalan tersebut. Banyak anggota Percasi yang mengamini Levy, dan menganggap Dewa Kipas curang dalam permainan catur online itu. Mereka menilai, akurasi Dewa Kipas saat melawan Levy memang tak masuk akal, yakni konsisten di angka 95-99 persen itu.

Perseteruan itu ditangkap oleh Dedy Corbuzier. Pemilik podcast ternama di Indonesia itu kemudian menggelar pertandingan offline antara Dewa Kipas dengan Woman Grand Mleaster (WGM) Indonesia, Irene Sukandar. Meski sejak awal banyak pihak yang nyinyir dengan pertandingan bumi langit itu, namun karena iming-iming hadiah besar, pertandingan akhirnya digelar.

Geger pertandingan catur antara Dewa Kipas dan Irene Sukandar langsung menyerot perhatian publik. Bagi yang mendukung Dewa Kipas, pertandingan ini tentu saja pembuktian bahwa Dewa Kipas adalah pecatur handal dan memang layak mengalahkan Levy Rozman. Mereka berharap, Dewa Kipas mampu mengalahkan Irene dan mengatakan pada dunia, bahwa orang Indonesia tidak boleh diremehkan.

Jauh panggang dari api. Dalam pertandingan catur yang disaksikan lebih dari 1,1 juta orang itu, Dewa Kipas alias Dadang Subur kalah telak dengan skor 3-0. Tak hanya kalah, permainannya yang biasa saja bahkan blunder-blunder besar yang dilakukan, seolah membenarkan bahwa ia pantas diblokir dari Chess.com. Secara tidak langsung, tingkat akurasi kurang dari 40 persen selama tiga pertandingan, maka tuduhan curang yang dilontarkan Levy Rozman cukup beralasan.

Melalui berita kompas.com, Levy mengatakan bahwa ia menyaksikan pertandingan antara Irene dan Dewa Kipas. Dengan kekalahan 3-0 dan tingkat akurasi dibawah 40 persen, Levy kemudian mengatakan bahwa orang yang bermain curang juga akan ketahuan.

Meski pertandingan antara Irene dan Dewa Kipas telah berakhir, namun Levy menilai persoalan itu belum usai. Ia menyayangkan, Dewa Kipas tidak mau mengakui kebenarannya bahkan masih dianggap pemberani oleh masyarakat Indonesia.

Disinilah masalah baru muncul. Sindiran Levy seperti tamparan keras bagi Dewa Kipas sekaligus masyarakat Indonesia. Mereka yang menyerang secara membabi buta pada Levy dengan alasan nasionalisme, tak kunjung meminta maaf.

Selain membuat catur lebih populer, Dewa Kipas sebenarnya menyadarkan kita tentang bahaya nasionalisme buta. Sikap kesatria untuk membela tanah air diartikan dangkal, hanya sebatas pembelaan tanpa bisa membedakan mana yang benar, mana yang salah. Pokoknya, kalau ada pihak asing yang menyerang Indonesia, meremehkan orang Indonesia, wajib hukumnya diserang bersama-sama.

Ini pekerjaan rumah yang berat bagi Indonesia. Sudah banyak kasus, bagaimana ulah netijen Indonesia, mengatasnamakan nasionalisme justru memperburuk citra Indonesia di kancah dunia. Sebelum kasus Dewa Kipas, kita tentu tak lupa dengan perseteruan Fiki Naki dan Dayana atau serangan netijen Indonesia usai seluruh pebulutangkis tanah air dipulangkan dari ajang All England.

Kasus-kasus di atas secara tidak langsung membuat stigma masyarakat dunia pada orang Indonesia berubah drastis. Masyarakat Indonesia yang dikenal ramah, penuh sopan santun dan tinggi empati, kini berubah menjadi masyarakat bengis yang menakutkan. Apakah kita rela menjadi seperti itu?

Ingat kata pepatah

Buat apa lawan Dewa Kipas
Kalau ujungnya menang dengan mudahnya
Buat apa nasionalisme diumbar bebas
Kalau ujungnya bikin malu saja

Salam waras netijen Indonesia!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Olahraga Selengkapnya
Lihat Olahraga Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun