Mohon tunggu...
Pringadi Abdi Surya
Pringadi Abdi Surya Mohon Tunggu... Penulis - Pejalan kreatif

Lahir di Palembang. Menulis puisi, cerpen, dan novel. Instagram @pringadisurya. Catatan pribadi http://catatanpringadi.com Instagramnya @pringadisurya dan Twitter @pringadi_as

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Suasana Penyekatan Arus Balik di Tol Trans Sumatra

20 Mei 2021   17:27 Diperbarui: 20 Mei 2021   18:01 276
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Tol Trans Sumatra. Sumber: Kompas

Tidak ada rencana untuk pulang kampung. Namun, beberapa hari menjelang lebaran, karena Bapak dan beberapa anggota keluarga terpapar Covid-19, akhirnya aku memutuskan pulang darurat. Bapak memang masuk ICU dan tidak ada yang bisa dilakukan selain berdoa dan menyerahkan segalanya kepada tenaga medis. Namun, kondisi Ibu yang harus dijaga. Agar jangan sampai tertekan. Ada kawan bicara. Plus, aku bisa bolak-balik ke rumah sakit untuk berkomunikasi dengan para tenaga kesehatan yang merawat Bapak.

Tapi tulisan ini tidak bercerita banyak tentang itu. Melainkan tentang suasana penyekatan arus balik di tol Trans Sumatra. Sebagaimana kita tahu, penyekatan arus balik diperpanjang hingga 24 Mei 2021. Namun, masih banyak yang menganggap enteng hal itu atau disinformasi, menganggap masa mudik hanya sampai tanggal 17 Mei saja. Ternyata proses penyekatan di Tol Trans Sumatra (Palembang-Bakauheuni) berjalan dengan ketat. 

Berbekal surat jalan darurat, tadinya saya melajukan mobil dengan perasaan tenang. Tes Genose nanti rencananya akan dilakukan di pelabuhan. Selain di pelabuhan, terdapat beberapa check point untuk dilakukan tes swab antigen gratis. Seperti di Km. 87 dan Km. 20. Daripada mahal-mahal tes Antigen duluan, mending manfaatkan momen gratisan itu, pikirku.

Baru sampai di tol Kayu Agung, penyekatan pertama terjadi. Mobil disuruh berhenti. Diperiksa surat jalan. Lalu diperbolehkan lewat.

Perjalanan berlanjut sampai di tol Mesuji. Jalan tol disekat total. Mobil pun disuruh keluar tol. Di pintu keluar, ada pemeriksaan gabungan, bukan cuma polisi, tapi ada seragam-seragam lain juga. Kami ditanya apakah sudah melakukan tes swab mandiri? Kami jawab belum. 

Surat jalan saja tidak berguna di sini. Kami tidak diperbolehkan masuk tol lagi. Katanya, ada tempat tes antigen di dekat situ. Di Simpang Pematang katanya. Ternyata, jauh sekali. Kami melewati lintas timur yang sepi dan hanya ada truk-truk besar. Mobil pribadi melintas sesekali.

Puskesmas, klinik. Semuanya tutup. Tidak melayani tes. Termasuk klinik yang dimaksudkan oleh Pak Polisi yang berbincang dengan kami. Memang, itu sekitar pukul 12 malam. Akhirnya, kami pun terus melaju melewati jalan non-tol dengan modal G-Maps.

Entah kenapa berbeda dengan yang di pemberitaan. Kenapa kami harus disuruh keluar tol padahal ada check point untuk tes antigen di dalam tol?

Dini hari yang sepi itu, kami memutuskan masuk tol kembali setelah di Manggala. Alhamdulillah bisa masuk tol dengan aman di kilometer 160-an. Nanti kami akan berhenti di km. 87 untuk tes.

Suasana swab di Km. 87. Dokumentasi pribadi.
Suasana swab di Km. 87. Dokumentasi pribadi.
Sesampainya di km. 87, antrean kendaraan sudah terjadi. Kami diarahkan untuk tes di tenda yang disiapkan. Tapi apa yang kami lihat sebenarnya sangat mengerikan. Manusia berkerumun tanpa protokol kesehatan yang memadai. 

Tidak antrean yang benar. Semuanya dikerjakan manual. Mulai dari mendaftarkan diri untuk tes hanya dilakukan dengan cara menulis nama dan identitas lainnya di selembar kertas. Lalu kertas tersebut dinomori. Kami dapat nomor 1600-an. Kami tanya, sudah nomor berapa. Tidak tahu. Kertas tersebut kemudian harus diberikan ke petugas berseragam TNI. Untuk meletakkan kertas tersebut saja harus menyempil di tengah kerumunan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun