Pringadi Abdi Surya
Pringadi Abdi Surya pegawai negeri

Lahir di Palembang. Treasury Analyst. Pernah menulis buku kumpulan puisi, cerpen, dan novel. Kumpulan puisinya memenangkan Anugerah Pembaca Indonesia 2015. Catatan pribadi http://catatanpringadi.com Instagramnya @pringadisurya dan Twitter @pringadi_as

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen: Gadis Jepang

11 September 2017   10:26 Diperbarui: 11 September 2017   10:32 740 8 3
Cerpen: Gadis Jepang
Sumber: Sahabat Baca

Pernah aku berkhayal, suatu saat nanti aku akan ke Jepang dan  menyaksikan dengan mata kepala sendiri gadis-gadis muda berpakaian  pelaut dengan rok yang jauh di atas lutut. Nyatanya, kali pertama aku  melihat gadis Jepang justru ketika aku liburan ke Bali. Gadis-gadis itu  sedang menikmati pantai yang sama denganku, memakai bikini berwarna  cerah yang kepayahan menutupi payudara mereka yang menonjol, dan mendadak bayangan adegan demi adegan film dewasa Jepang yang selalu  kutonton diam-diam berkelebat di kepalaku.

Aku menyadari hal di  atas terjadi hampir sepuluh tahun silam, dan selama itu pula aku masih  menyimpan harapanku dalam-dalam. Jepang masih menjadi tujuan yang terasa  amat jauh bagiku. Aku bahkan belum pernah keluar negeri, meski aku  memiliki paspor yang masa berlakunya tersisa 2 bulan lagi. Paspor yang  menampakkan foto pipiku yang belum bertelur itu memiliki tatapan yang  meledek karena aku malah berkawan dengan kolesterol dalam beberapa tahun  terakhir.

Tentu dua paragraf di atas tak pernah kuungkapkan  kepada Akina. Ia akan memanggilku cowok mesum kalau sampai tahu aku  demikian. Meski sebenarnya aku tak berkeberatan disebut mesum, karena  mesum itu bukan dosa. Mesum boleh-boleh saja, goblok yang jangan. Itu  prinsipku.

"Aku sering membaca Murakami..." kumulai pembicaraan dalam bahasa Inggris yang pas-pasan.
"Murakami?"
 "Haruki Murakami," jelasku. "Kalau Ryu Murakami, aku baru baca 2 judul,  Coin Locker Babies dan In The Miso Soup. Kamu baca juga?"
"Aku baca Haruki, Ryu belum pernah. Wow, aku tidak menyangka kamu membaca mereka berdua."
 "Aku juga banyak membaca yang lain, seperti Akutagawa, Natsuo Kirino,  dan tentu saja komik-komik Jepang. Kamu suka baca komik nggak?"
"Tentu, tentu... kamu lagi baca apa?"
 "Shingeki No Kyojin... aku suka sekali. Menonton para raksasa memangsa  manusia, dan manusia berusaha bertahan hidup dan membasmi para raksasa  itu membuatku berpikir ulang mengenai kemanusiaan. Aku juga baca One  Punch Man, sebuah komik satir yang menyinggung tokoh-tokoh Shonen."
"Aku sebagai Jepang jadi minder bicara dengan kamu. Sepertinya kamu tahu jauh lebih banyak tentang itu daripada aku...."
 Tentu saja, Akina. Aku harus tampak mengagumkan dan berpengetahuan di  hadapanmu. Dengan begitu, kamu baru akan memperhatikan aku, bukan?

Para  pembaca sekalian pasti bertanya-tanya di mana dan bagaimana aku bertemu  Akina, bagaimana perawakan Akina, atau ciri khas yang mungkin dia  miliki. Dialog di atas terlalu tiba-tiba untuk pembukaan cerita sehingga  menuduhku hanya seorang penulis amatir yang picisan yang setiap hari  hanya bisa melamun.

Pelan-pelan dong! Lagian tidak ada salahnya  juga melamun. Melamunnya seorang penulis berbeda dengan melamunnya orang  biasa sama halnya tak dapat kalian samakan dengan melamunnya ilmuwan.  Einstein juga hobinya melamun, dan dalam sebuah lamunannya, ia tak  mempercayai adanya gravitasi. Fisika menyaratkan ada aksi, ada reaksi.  Benda bergerak karena ada gaya dorong, bukan gaya tarik. Jika ada gaya  tarik, maka harus ada exit door energi pada suatu tempat. Pada itu,  Einstein berpendapat, gaya tarik itu tidak ada. Alam semesta (ruang dan  waktu) ini melengkung sehingga planet-planet mengeliling matahari, sama  sekali bukan karena gaya tarik matahari.

Akina juga mungkin  sebenarnya tidak memiliki gaya tarik. Akulah yang terkena gaya dorong  sesuatu bernama hasrat ketika kudengar suaranya yang nyaring, aku malah  membayangkan bagaimana caranya dia mendesah. Matanya tentu sipit,  giginya tak rata, pipinya juga bulat dan kalau ia merasa malu atau  kepanasan, pipi itu akan bersemu merah. Keterbatasan bahasa membuat dia  sering melongo bila ia menemukan kalimat yang tak ia mengerti dari  anak-anak yang mengerumuninya. Akina tampak disukai anak-anak, dan tentu  saja sebagian besar anak lelaki. Aku yakin anak-anak lelaki itu sudah  nonton film dewasa Jepang.

Kami bertemu dalam sebuah program  residensi penulis-penulis ASEAN. Jepang tentu saja bukan ASEAN. Jepang  hanyalah negara yang pernah menjajah beberapa negara di kasawan Asia  Tenggara dan mungkin karena merasa bersalah, mereka rajin berkomunikasi  dengan mereka. Termasuk dalam acara ini, Jepang menjadi salah satu  sponsor. Dan Akina, seorang editor dan penulis buku-buku literatur  pelajaran Bahasa Inggris, mewakili mereka.

Sejujurnya, hampir  sebagian hariku di rumah residensi kuhabiskan dengan memperhatikan  Akina. Dalam sebuah sesi diskusi tentang keberagaman dan marjinalitas,  aku bertanya pada Akina, "Kamu membaca IQ84? Aku penasaran dengan maksud  orang kecil dan fenomena aliran kepercayaan yang dipeluk sebagian  masyarakat Jepang, yang entah kenapa ditulis Murakami: mereka berprofesi  sebagai petani? Selain mim dengan Orwell, 1984, yang kupikir sebuah  propaganda anti komunisme, apakah kelas-kelas pekerja di Jepang juga  telah menjadi sebuah struktur manusia?"

"Saya belum membaca novel itu sih, tapi bagaimana ya aku menjelaskannya..."

Akina  mulai mengucapkan beberapa hal. Tentu saja aku tidak peduli pada apa  yang dia katakan. Aku hanya ingin mendengar suaranya, memperhatikan  setiap ekspresi yang keluar dari wajahnya. Aku suka dia bermimik muka  serius menanggapi pertanyaanku itu.

"Kamu menulis apa?" Tanyanya pada suatu kesempatan.
"Menurutmu?"
"Novel? Cerita pendek?"
"Puisi," jawabku singkat.
"Berarti kamu pria yang manis."
"Apa di Jepang, setiap pria yang menulis puisi, kamu anggap manis?"
"Tidak mudah menulis puisi, bukan? Mereka biasanya pendiam."
 "Aku tak tahu banyak tentang puisi Jepang. Aku hanya tahu Basho..."  kataku sambil mengingat haiku-haiku yang pernah ditulisnya. "Puisiku tak  seperti puisi Basho...."
"Seperti apa?"
"Kamu ingin mendengarnya?"

Akina mengangguk. Tak ada puisiku dalam bahasa Inggris. Aku meminta waktu sebentar untuk menerjemahkan
puisiku.

Kau adalah rahasia yang tak pernah diucapkan musim semi
Setelah setiap helai daun yang pernah mukim di bumi gugur
Tak ada pengetahuan yang dapat kucerna, meski
Terkadang cinta datang sebelum pengetahuan

Kubacakan  lirik itu dengan pelan dengan kepala tertunduk. Aku tak bisa membaca  puisi seperti gaya ala deklamasi puisi, bersuara lantang atau berteriak  penuh semangat. Aku membaca puisi seperti aku membaca segala hal.
Aku tak tahu bagaimana perasaan Akina setelah mendengarku.

"Sudah kuduga..." katanya.
"Apa?"
"Kamu romantis."
"Lalu apa kamu suka pria romantis?"

Tiba-tiba  saja kuucapkan pertanyaan itu. Pipi Akina yang putih tiba-tiba seperti  terlalu banyak dipakaikan make up. Dia tidak menjawabku sama sekali. Dia  malah mengipasi tubunya dengan kencang. Akina pernah bilang Jakarta  begitu panas. Setiap hari yang sudah dia jalani seperti musim panas di  Jepang.

Namun pikiranku malah melayang ke adegan-adegan berbikini.  Musim panas adalah surga bagi pria Jepang, karena mereka akan berlibur  ke pantai, dan di sanalah, para gadis akan memakai bikini...two  pieces...yang dengan sempurna akan menampakkan perut langsing mereka.

Kutatap Akina, dan aku terpaksa meneguk ludah.

Satu  hari. Dua hari. Tiga hari. Hingga tujuh hari berlalu, tetapi tak pernah  ada waktu untuk mengobrol berdua dengan Akina. Para gadis tidur di  lantai atas. Kami tidak punya banyak waktu berinteraksi selain saat  sarapan, atau sesi-sesi diskusi yang harus kami ikuti. Waktu kami hampir  habis.

Akina turun dari tangga. Ia suka sekali memakai kaos putih  dipadukan dengan celana pendek. Rambutnya basah. Tidak perlu kujelaskan  kalau ia pasti habis mandi.

Aku menatapnya lebih lama dari  biasanya. Aku tak tahu apa ia sadar aku menatapnya. Semua pria di  ruangan langsung menggodanya. Terutama seorang pria dari Palembang, yang  rajin sekali menggombalinya. Padahal dia sudah punya istri---ah, sungguh  tak tahu malu. Pria dari Filipina bahkan terang-terangan menyebut  nama-nama seperti Sora Aoi, Miyabi, dan Akina hanya tertawa mendengar  mereka semua.

Aku menyukai tawa itu. Aku ingin memiliki tawa itu.

Yang tak kusangka kemudian adalah Akina malah berjalan mendekati aku.

"Hei, kamu!" sapanya. "Melamunkan apa?"
"Negara. Percaya?" jawabku sekenanya.
"Mana yang lebih rumit, negara atau perempuan?" tanyanya.
"Menurutmu, dirimu rumit?"

Akina  hanya menaikkan bahunya. Lalu pandangan kami bertemu untuk pertama kali  sebelum matanya melarikan diri beberapa detik kemudian.

"Akina..."
"Ya?"
"Jika tahu, besok adalah akhir dari dunia ini, dengan siapa kamu ingin menghabiskan hari ini?"
"Kamu sendiri? Mau dengan siapa?"
"Aku tak pernah menyukai perempuan..."

Dengan cepat Akina memotong kalimatku. "Jadi, kamu menyukai lelaki?"
"Sampai aku bertemu denganmu."
Pipinya memerah lagi.
"Kamu manis sekali, ya...tapi..."
"Tapi?"
"Aku minta maaf, aku baru menanyakan ini sekarang."
"Apa?"
"Namamu siapa? Aku lupa." Akina menyengir.
"Ah... Aku Rio... Rio Johan," jawabku sambil mengulurkan tangan.

Tapi, uluran tanganku itu hanya menemu udara kosong.

(2017)