Muda

Sapaan Rindu Dariku

11 Oktober 2017   09:25 Diperbarui: 11 Oktober 2017   09:41 520 1 0

Di hari itu dimana sebuah  bendera lahir dengan harapan yang baru, dengan sebuah tekad yang besar  yang kian mewarnai beragamnya sebuah kultur. Ia ada berangkat dari  sebuah keluh kesah dan kegusaran sehingga ada seorang pemikir  REVOLUSIONER yang berani untuk mendirikan sebuah organisasi pergerakan  yaitu PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) yang  didasarkan pada tekat yang besar untuk perubahan. Mahbub Djunaidi  namanya! Nama yang selalu terngiang-ngiang dalam benak dan pikiran akan  pemikiran uniknya dan gaya apa adanya beliau , nama yang akan trus  diingat dan dikenal oleh seluruh kader-kadernya di seluruh pelosok  nusantara.

Ia bisa dikatakan sebagai pahlawan bagi kaumnya (kaum yang ikut  aliran beliau), dapat juga dikatakan sebagai aktivis dengan pemikiran  yang modern dan revolusioner. Dari jejak perjalanan beliau yang saya  tangkap terlihat tidak mudah beliau membangun sebuah pemikiran baru yang  berbalut dengan keIslaman didalamnya. Pergerakan dengan berlandaskan  pemikiran aswaja. Itulah yang tertuang dalam konsep organisasi PMII ini.

Jika Bung Mahbub masih hidup aku ingin bertemu sosok aktivis yang unik dilihat dan aku pun akan berkata "lihatlah  Indonesia saat ini bung, Indonesia saat ini memerlukan sosok sepertimu  dengan kawan seperjuanganmu dulu yang berani berkata benar jika fakta  membuktikan benar dan berkata salah jika sebaliknya". Tapi itu semua hanya seandainya, hanya awang-awang belaka. Kerinduanku akan sosok aktivis "mbois" ini mungkin tidak dapat  dipertemukan tetapi tak hilang akal untuk mengekspresikan kerinduan itu.

"Dengan cara menulis, cara ini lah yang ampuh untuk mengekspresikan kerinduan akan sosok yang kini akrab kusapa Aktivis "mbois". Dapat kita tuliskan sajak untuknya, sajak kerinduan dari kader untuk akivisnya."

"Dengan cara melihat rekam jejaknya. Dapat di katakan bahwa dengan mengenal sejarahnya maka kita akan mengenal sosoknya."

"Dengan  cara berdo'a, do'a yang akan selalu menyelimuti-nya diatas sana. Dengan  pengharapan semoga kami para kader PMII dapat berjuang dan melanjutkan  rekam jejak yang pernah beliau tapaki."

Tahun 2017 dapat dikatakan bahwa Organisasi PMII adalah salah  satu organisasi besar di Indonesia dan paling banyak pengikutnya. PMII  dapat dikatakan sebagai jiwa yang melekat, pergerakan adalah sebuah  tindakan yang dilakukan dan Aswaja adalah sebuah landasan berpikirnya.  Banyaknya kader PMII ini membuktikan bahwa bung Mahbub telah berhasil  mengajak banyak kader untuk turut berjuang agar tujuan dari PMII ini  dapat tercapai.

Kini tahun ke 3 ku bersama jejakmu, banyak pertanyaan dan  pengduan untuk mu kini bung yang sampai saat ini mungkin belum terjawab!  Tak sedikit yang berkata bahwa "aku tersesat di PMII", "aku masuk PMII  dengan tujuan lain", dan masih banyak lainnya. Aku heran dengan keadaan  ini ketik melihat banyak dari kader-kadermu yang bobrok (menurutku), yang hany bersikp apatis, akan kenyatn sosial sekitarnya, idealis dengn  pemikirnnya, yang berkelakuan hedonis akan kehidupannya, dan dengan  memperbesar eksistensi kemunculannya tanpa ada pergerakannya dan lebih  disayangkan banyak yang hanya menganggap semuanya hanya formlitas  semata, hanya saja aku tidak dapat memukul rata alasan mereka bergabung  dengan PMII dan berproses di PMII. Disisi lain tak sedikit pula  kader-kader MU yang fanatic akan PMII, yang berjuang besar  memperjuangkan dan mempertahankan rumah yang telah kau bangun kokoh ini  yang berlambangkan perisai dengan dasaran warna kuning dan biru. PMII  namanya !

Terlihat  jelas yang tertangkap dalam benak dan pikiranku adalah dipandang  hebatnya ia dengan sastra yang telah tercipta dari pemikiran, perilaku,  dan tulisannya dengan gaya yang kalem, jenaka dan apa adanya, itu  menambah keeksistensian "mbois"nya yang telah melekat dengan  dirinya kini. Tapi julukan itu tak sembarang julukan karena ia berbeda  dan langka akan pemikirnnya, sehingga tergeraklah inginku untuk berbeda  juga akan penyebutan dirinya.

"Jangan  tersinggung bung dengan julukan yang kusematkan untukmu kini, ku hanya  ingin berbeda dari lainnya untuk penyebutan akan sosokmu dan jangan  tersinggung pula dengan hal yang dilakukan dan  dikatakan mereka terhadap mu juga rumah yang kau bangun kokoh ini, kita,  aku dan mereka para kader militan yang akan menjaga dan melindungi  rumah yang kau tinggalkan untuk kami. Kami akan menjaga dan jikalau  Allah berkehendak kami kader pejuang yang kau latih dulu akan  memperbesarnya agar mereka tahu jika kau bukanlah orang yang pantas  untuk diremehkan."

 Kader militant yang kumaksud ialah ia kader yang tahan  banting (tahan banting mentalnya, dan fisknya) dalam arti tahan banting  mental adalah tahan akan semua hasutan-hasutan yang belum tentu benar,  dan dapat bepikir logis dan sistematis. Tahan banting fisik adalah tahan  akan segala benturan dari golongan yang bertolak belakang dan mampu  menjaga apa yang telah diamanahkan padanya.

Terima kasihku untukmu wahai Mahbub Djunaidi yang kini kusapa Aktivis "mbois",  karenamu aku tahu makna dari semua ini, bukan sekedar makna PMII buruk  atau baik, makna yang jauh lebih penting cakupannya dari ke dua kata  itu, aku bersama kader muda masa depan akan berjalan dan mengikuti  langkahmu dengan penuh percaya dan penuh keberanian walau arang  melintang tak jadi sebuah masalah yang tak dapat dipecahkan .

"Sapa hormatku padamu pahlawanku..."