Mohon tunggu...
Anta Nasution
Anta Nasution Mohon Tunggu... Ilmuwan - Laut Biru

Ocean never betray us! Ocean doesn't need us, indeed we need ocean.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Sebuah Cerpen Mengenai Konflik Kelas : Kapal Merah (1)

5 Januari 2017   19:50 Diperbarui: 5 Januari 2017   20:08 613 1 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Matahari bersinar lebih terik pagi ini, namun tidak mengurangi sedikitpun aktivitas manusia-manusia di desa pesisir Mangur. Ombak tak berhenti terus menerus menghantam karang-karang, menimbulkan bunyi yang sangat khas, mungkin menenangkan jiwa bagi sebagian manusia yang sedang risau. Kapal-kapal ikan mulai bersandar satu-persatu, Tali-tali kapal diikatkan ke tiang pancang dermaga, pertanda kapal sudah bersandar. Para nelayan memulai kegiatan dengan menurunkan ikan-ikan hasil tangkapan. Wajah mereka terlihat lebih ceria dan bersemangat, walaupun tetap tidak bisa menyembunyikan rasa lelah yang ada pada diri mereka setelah berlayar berhari-hari. Maklum, bulan ini sudah masuk ke dalam musim panen. Hasil tangkapan ikan melimpah ruah.

Tidak jauh dari dermaga tempat kapal-kapal ikan bersandar terdapat sebuah bangunan berbentuk persegi tanpa tembok pembatas, dengan empat tiang beton penyangga dan memiliki atap genting, hampir menyerupai pendopo yang ada di kantor-kantor Bupati. Lantainya beralaskan keramik berwarna putih dengan bekas noda darah ikan berceceran dimana-mana, semerbak angin mengantarkan bau amis ke seluruh penjuru ruangan. Ruangan tersebut memiliki timbangan tua yang diletakan di penjuru bagian depan, yang sepertinya sudah ada puluhan tahun jika dilihat dari besi-besinya yang sudah mulai karatan, namun keakuratannya tidak perlu diragukan. Bangunan tersebut merupakan tempat pelelangan ikan desa pesisir Mangur.

Suara-suara manusia saling bersautan di setiap penjuru ruangan, dengan satu suara paling keras berada di tengah ruangan, “Harga dimulai dari delapan ribu perkilo!” Ujar seorang bapa-bapa tua berumur 50 tahunan. Teriakan tersebut seperti pemantik, sesaat setelahnya, semua manusia yang hadir di ruangan tersebut mencoba mengajukan penawaran. Suara semakin riuh. “Ya! Terjual diharga sepuluh ribu.” Menandakan penawaran sudah menemukan harga yang sesuai.

Tepat di sebelah ruangan tersebut, terdapat warung kopi yang sekeliling temboknya terbuat dari anyaman bambu dengan atap menggunakan daun pohon kelapa kering, tidak luas, namun cukup adem. Barang yang didagangkan tidak terlalu banyak, hanya roko, kopi-kopi, dan gorengan. Namun, warung kopi tersebut mempunyai daya tarik tersendiri dilihat dari banyaknya nelayan yang berkumpul di warung tersebut. Pemiliknya seorang perempuan tua berumur 70 an yang selalu menguyah daun sirih, orang-orang sekitar memanggilnya Nek Sinden. Kata orang, Nek Sinden merupakan sinden tersohor, lelaki akan dibuat tergila-gila ketika melihatnya menari, namun itu dulu pada saat ia masih muda. Nek Sinden selalu ditemani cucunya,  seorang gadis berumur 17 tahun, bernama Murni. Gadis ini memiliki mata yang indah, hidung yang mancung, rahangnya simetris, bibirnya tipis, alis matanya beraturan dan hitam, rambutmya panjang dan halus. Hanya orang bodoh yang menganggap murni jelek, bahkan kecantikannya sudah tersebar di seluruh desa pesisir. Walaupun cantik, tapi tidak ada laki-laki yang berani mengganggu Murni atau berlaku tidak sopan padanya. Katanya pernah ada lelaki, anak seorang pengusaha kapal ikan yang mencoba mengganggu Murni, bahkan sampai hendak memperkosanya, untung saja keburu ada yang melihat dan hal itu tidak sampai terjadi. Esok harinya, si lelaki tersebut mati dan mayatnya ditemukan di kapal milik bapaknya, tepatnya di dalam ruang palka tempat penyimpanan ikan.

“Saya bingung, kenapa upah kita segini-gini aja ya?” Ujar Darman, sambil asik menyeruput kopi di warung Nek Sinden. Darman telah menjadi nelayan semenjak ia putus sekolah lima tahun yang lalu, saat ini umurnya 20 tahun. Teman-teman Darman yang sama-sama sedang asik ngopi tidak peduli dengan pertanyaan Darman. Nampaknya mereka lelah. Darman kembali mengulangi pertanyaannya, namun teman-temannya tetap tidak menghiraukan. “Sabar kang, yang penting berkah,” tak disangka, ternyata jawaban tersebut keluar dari mulut Murni yang sedang sibuk membuatkan kopi untuk nelayan-nelayan lain.

“Iya benar sekali mbakyu, tetapi sekarang kan sudah masuk musim panen, tapi tetap saja tidak ada kenaikan upah sedikitpun”.

Murni hanya tersenyum mendengar pernyataan Darman, yang terlihat pasrah tanpa semangat.

“Padahal nelayan-nelayan yang bekerja di kapal lain upahnya sudah pada naik, hanya kapal kita saja yang tidak, pelit betul Pak Gori ini”. Darman melanjutkan keluh kesahnya, walaupun teman-temannya masih tidak peduli. Pagi itu, warung Nek Sinden dipenuhi oleh nelayan-nelayan yang bekerja kapal ikan milik Pak Gori, Darman termasuk salah satunya. “Sabar Kang, mungkin belum, tapi bisa saja besok upah akan dinaikan,” Murni kembali menyaut omongan Darman.

“Iya mudah-mudahan begitu, kalau misalkan besok tidak naik upahnya, berarti si Gori ini memang pelit tidak ketulungan,” ujar Darman, kemudian ia menyalakan rokok untuk menenangkan pikirannya. Darman merasakan bahwa ada ketidakadilan, mengapa hanya kapal milik Pak Gori saja yang upahnya tidak dinaikan. Suasana menjadi hening, hanya terdengar suara riuh orang-orang di pelelangan ikan.

“Mengapa kita tidak membuat kapal ikan sendiri saja ya? Mungkin kita bisa mendapatkan keuntungan yang lebih banyak,” ujar cecep memecah keheningan di warung kopi tersebut.

“Kalau punya duit, sudah dari dulu saya beli kapal ikan, kalau bisa saya sudah buat pelabuhan sendiri,” Ujar Narmo yang duduk di paling pojok dan disambut dengan riuh tawa yang lainnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan