Mohon tunggu...
Tommy Patrio Sorongan
Tommy Patrio Sorongan Mohon Tunggu... Bocah Kaliabang Dukuh Bekasi

Bukan ahli macem-macem... menulis hanya untuk mempertanyakan sesuatu yang dilihat dan dirasa

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Artikel Utama

Soal Mesin Pompa Cor Saja Ternyata Kita Belum Berdikari

5 Juli 2020   21:30 Diperbarui: 9 Juli 2020   13:09 719 19 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Soal Mesin Pompa Cor Saja Ternyata Kita Belum Berdikari
Mesin Cor Pagi itu | dokpri

Dur Dur Dur... kurang lebih menggambarkan situasi pagi itu di depan rumah saya.

Nyala mesin molen dan pompa cor mewarnai awal hari saya. Trucknya pun pagi itu menutupi jalan depan rumah saya yang tidak terlalu besar di bilangan Harapan Indah.

Ya, memang pada saat ini saya sedang fokus merenovasi rumah dan menambah satu ruangan lagi di atas kamar tidur orangtua saya.

Pompa cor mulai diaktifkan dan molen mulai dihidupkan. Curr... puas rasanya pada saat saya melihat adonan semen mulai membanjir lantai atas yang telah dipasangin bondex and besi-besi penyangga. 

Terbesit di pikiran saya "wah enak juga pakai mesin besar ini. Paling tidak saya tidak perlu berlelah lelahan untuk mengaduk dan mengangkat adukan semen secara manual." 

Maklum hari sebelumnya saya membantu para tukang untuk bekerja rodi mengangkat dan mengecor tiang-tiang tulangan (hanya tiang tulangan) penyangga konstruksi.

Hasilnya, malam itu saya tidak bisa tidur memegangi pinggang saya yang rasanya mau lepas.

Dalam proses pengecoran saya mencoba berbicara dengan pak supir mobil pompa cor itu yang bernama pak Langgan.

Saya memulai cerita dengan bertanya dari mana sebelumnya, dan beliau menjawab, "dari cibubur pak".

Obrolan kita berlanjut terus karena jujur saja saya Kepo tentang cara kerja mesin ini dan juga memang saya dari kecil suka melihat alat-alat berat seperti ini.

Pada saat saya bertanya tentang dimana mesin pompa cor ini dibuat, beliau menjawab "Jepang, mas" sambil menunjuk stempel merek pompa itu yang bertuliskan IHI Corp Japan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN