Pebrianov
Pebrianov Lelaki Pemalu |Suka Gatel pada Isu Politik I Militan pada Timnas Sepakbola

Bersukarialah dengan huruf, kata dan kalimat. Namun jangan ambil yang jadi milik Tuhan, dan berikanlah yang jadi hak kaisar.

Selanjutnya

Tutup

Kandidat Pilihan

Fenomena Status Keimanan Prabowo dan Maraknya Politik Keislaman

4 Maret 2019   09:09 Diperbarui: 4 Maret 2019   10:04 313 11 4
Fenomena Status Keimanan Prabowo dan Maraknya Politik Keislaman
sumber gambar ; kompas.com

"Prabowo akan Salat Jum'at dimana?"

Ketika menjelang hari Jumat tiba, pertanyaan itu semakin gencar dan masif ditujukan kepada Prabowo, sehingga dia bagai sosok "buronan ibadah" yang dikejar-kejar banyak orang.

Padahal tulisan pertanyaan itu "cuma" status atau cuitan setiap hari Kamis dan Jumat di dunia medsos (facebook dan twitter) yang marak beberapa waktu lalu hingga kini. Tulisan pertanyaan itu  sering menjadi trending topik dengan tagar khusus #PrabowoSalatJumatDimana?

Efek pertanyaan itu terhadap citra Prabowo sangat besar mendegradasi eksistensi perpolitikan Prabowo. Apa pasal?

Prabowo bukan anak kecil yang bandel, yang berkali-kali suka mangkir mengikuti jadwal wajib ibadah. Prabowo merupakan tokoh publik dan jadi panutan banyak orang. Prabowo adalah calon presiden di negara yang mayoritas rakyatnya memeluk agama Islam, sehingga rakyat ingin kepastian bahwa Prabowo taat ibadah.

Bila dibandingkan dengan para tokoh satu kubu Prabowo, seperti Amien Rais, Fadli Zon, Zulkifli Hasan, Hidayat Nurwahid,  soal Salat tak menjadi persoalan publik. Namun terhadap Prabowo, Salat menjadi persoalan besar dan sangat serius.

Memaknai Aksi Salat Prabowo

Saking seringnya pertanyaan "Prabowo Salat Jum'at dimana?" membuat kubu pemenangan Prabowo-Sandi gerah, kemudian mereka  "menggelar secara khusus" kegiatan Salat-nya Prabowo di Mesjid Agung Kauman saat berada di Semarang tanggal 15 Februari lalu.

Tak seperti umumnya tokoh saat menjalankan ritual wajib keagamaan yang rutin, kali ini kegiatan salat Prabowo dibuatkan publikasinya beberapa waktu sebelumnya Jumatan. Lewat publikasi itu, publik dan pers "diundang", sekaligus untuk turut serta melakukan salat bersama Prabowo. Publikasi itu juga dimaksudkan menjawab keraguan publik soal keislaman Prabowo.

Bila dibandingkan dengan masa lalu, soal ibadah salat seorang tokoh tidak menjadi persoalan yang mengemuka di ruang publik. Media pun tidak sebebas seperti saat ini untuk "mengkritisi" agama, apalagi soal ibadahnya.

Namun kini, iklim perpolitikan di negeri ini sangat kental dengan politik identitas, khususnya penggunaan agama Islam. Arus politik yang terbentuk sangat masif membawa agama Islam ke kancah politik praktis. Kelompok Islam konservatif mendapatkan ruang ekspresi dan leluasa menunjukkan dirinya di ruang publik untuk mempengaruhi kelompok Islam lainnya--atas nama kebesaran Islam dan bela Tuhan.

Konsekuensi logisnya, demi tujuan politik, para tokoh harus menunjukkan simbol-simbol keislamannya secara terbuka agar bisa diterima masyarakat Islam yang jumlahnya dominan di negara ini. 

Hal itu dilakukan juga untuk "menenangkan" sebagian umat Islam di tanah air yang "terlanjur panas hati" dan "kebingungan" oleh maraknya dinamika politik identitas keislaman yang muncul.

Secara paralel, di sisi lain timbul saling silang pendapat, pertentangan dan klaim kebenaran antar elemen masyarakat Islam berdasarkan penafsiran kitab suci yang digunakan dalam berpolitik, sehingga terbentuk friksi-friksi tersendiri di kalangan umat dan kelompok masyarakat Islam.

Secara keseluruhan masyarakat Indonesia timbul kekhawatiran akan nasib bangsa dan negara Indonesia di masa depan.

Pertanyaan Salat Prabowo sebagai  Satire Aksi dan Reaksi

Bukan hal aneh lagi bila dibalik pertanyaan "Prabowo akan salat di mana?" mengandung makna satire soal status iman Islam Prabowo. Satire itu wujud dari tekanan politik dan reaksi balik (bumerang) terhadap kelompok pendukung Prabowo yang sebelumnya sangat masif mempolitisasi Islam untuk mendapatkan dukungan masyarakat Indonesia.  

sumber gambar ; kompas.com
sumber gambar ; kompas.com
Pertanyaan "Prabowo akan Salat Jum'at di mana?" ingin membentuk opini kolektif  "meragukan keislaman Prabowo". Dan memang nyatanya nihilnya aktivitas ibadah Prabowo dianggap "layak" untuk dipertanyakan publik. Selain itu juga faktor latar belakang keluarga besar Prabowo.

Ada realitas "yang coba disembunyikan" Prabowo dan tim pendukungnya tentang latar belakang keluarga besar Prabowo yang non-muslim (nasrani). Prabowo sendiri menjadi muslim ketika akan menikahi Titiek Soeharto--putri Presiden RI era Orde Baru.

Bandingkan latar belakang Prabowo itu dengan Jokowi yang sejak lahir beragama Islam dan keluarga besarnya merupakan muslim.

Bandingkan dengan para elit politik pendukung Prabowo seperti Amien Rais, Riziek Shihab, Fadli Zon, Hidayat Nurwahid, Zulkifli Hasan yang secara simbolik tampak keimanannya atau keislamannya, dan mereka itu sering berkoar-koar sebagai representasi Islam yang sesungguhnya sangat dibutuhkan bangsa dan negara ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2