Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik

SBY, Tour II, MMA, dan Fakta Penyadapan Gak Ada

16 Juni 2017   07:44 Diperbarui: 16 Juni 2017   08:39 444 5 3

SBY, Tour II, MMA, dan Fakta Penyadapannya Gak Perlu

SBY, Tour Jilid II, Mantan, Mualaf, dan Amnesia, serta Fakta Penyadapan yang Tidak Perlu

Pak Beye turun gunung usai kekalahan telak sang putera mahkota yang sangat tidak dikira itu. Belum setahun usai membuat kehebohan lebaran kuda itu, kali ini mulai "serangan mautnya" melalui saluran safari Ramadhan. Mulai dri marah kalau dikatakan mualaf dalam membela Pancasila, hingga soal biasa membandingkan kinerjanya dan pemerintah yang sekarang. Apa yang menjadi kebiasaan yang hari-hari ini belum nampak curhat via medsos, seolah menempatkan diri sebagai mantan, dan menjelaskan tuduhannya kalau disadap sangat tidak beralasan. Mengapa susah-susah menyadap kalau akan ngomong sendiri dengan gamblang?

Tour Jilid II. Usai tour de Javayang hancur lebur karena proyek Hambalang yang dikunjungi Presiden Jokowi, kemudian balik kanan, dan sibuk dengan pilkada gagal totalnya, momentum Ramadhan digunakan untuk kembali eksis dengan cara biasanya.

MMA, Mantan, Mualaf, Amnesia, menarik apa yang disampai sebagai seorang presiden dua periode lagi. Beliau mengatakan banyak hal, terutama kejelekan pemerintah sekarang yang dianggap gagal dalam angka kemeskinan, kembali soal infrastruktur, dan harga BBM, dan tarrif listrik. Aneh dan ajaib,sedang masyarakat saja tidak bergejok dan ramai soal BBM dan listrik mengapa beliau seolah sewot?

Mantan, beliau memposisikan diri sebagai mantan, lihat caranya seperti cowo atau cewe yang ditinggalkan kekasihnya. Menjelek-jelekan apapun capaian pacar dari kekasihnya. Jelas program pemerintah mau mengenjot pembangunan infrastruktur yang tentu dengan dasar dan motivasi yang mendalam oleh pemerintah sekarang. Beliau harusnya ingat, bahwa presiden dan pemerintahan tidak bisa tanpa kesinambungan. Cacat cela dan prestasi itu sebuah karya bersama. Jika beliau bukan sebagai mantan, namun presiden keenam, akan mengatakan bahwa hal ini merupakan kewajiban pemerintah yang sekarang kita tunggu pada pemilu mendatang apa rakyat suka akan pilihan ini. bukan ngrecokin,dan malah membuat gaduh terus begitu. Presiden bukan mantan presiden, memiliki tanggung jawab. Karena nyatanya soal infrastruktur, subsidi, dan sebagainya itu soal lama, bukan hanya kali ini saja yang mengalami. Jika Pak Beye punya ide lebih baik, ya tawarkan saja pemilu mendatang tanpa perlu mengatakan keburukan negara sendiri, seolah paling pintar dan paling berhasil. Akan dibahas pada amnesia.

Mualaf,menarik apa yang beliau sampaikan. Mengapa marah dan tidak ada kog yang mengatakan pemerintahan SBY melupakan atau tidak membela Pancasila, mengaku ya Pak? Mualaf saya terjemahkan sebagai baru membela Pancasila, lha iya nyatanya kog, mengapa dulu begitu menjamurnya kelompok antipancasila dan mengguna Pancasila hanya kedok diam saja. Jangan ngeles ini baru tumbuh lho. Organisasi besar tidak hanya hitungan hari bisa menjadi besar. Perlu waktu memangnya jamur yang hanya hitungan menit tumbuhnya?

Amnesia, anehdan lucu, bagaimana beliau mengatakan kemiskinan sangat tinggi, pembangunan harus seimbang, dan lain sebagainya, tanpa menyebut soal maling berdasi yang menjamur di masa pemerintahan beliau. Hingga hari ini jarang sekali bahkan tidak pernah SBY menyebut-nyebut  korupsi sebagai penyakit bangsa. Mengapa? Karena jelas saja dia malu kalau menepuk air di dulang terpercik muka sendiri. Semua tahu kog muara maling itu ke mana, Hambalang, KTP-El, dan petinggi-petinggi mereka satu persatu disebut.

Gerah karena bersalah.Keyakinan menyerang adalah pertahanan terbaik terus dipakai para terduga maling berdasi ini. Bagaimana usai kasus KTP-El, yang bergulir bak bola salju ini, Pak Beye langsung merdang demikian. orang lingkaran satunya pun disebut marah karena uang malingannya hanya kecil, ketua DPR lagi pas masanya. Belum lagi menteri yang menggawangi soal ini dulu menolak dengan tegas mulai mengakui dengan malu-malu. Jangan lah marah karena gerah menuju ke sana sasarannya, namun gerahlah karena bangsa ini digerogoti lintah macam Andi Malarangeng dan adiknya, Angie dan suaminya, atau Akil Mochtar dan anak buahnya, masih banyak kemarahan yang lebih pas,bagi Pak Beye.

Kemiskinan bukan semata soal kebijakan pemerintah, namun juga perilaku pejabatnya. Pak Beye juga perlu ingat lho, akan slogan yang membahana yang bisa menaikan ke periode kedua, Katakan Tidak pada(hal) Korupsi.Semua bintangnya mendekam di penjara Pak... Coba jika uang itu untuk pembangunan, dana KTP-El tidak dimaling, uang yang untuk urus KTP bisa beli kerupuk sebagai tambahan lauk nasi garam. Subsidi di Jawa kali ini mau didistribusikan juga ke Papua. Wajar kalau panjenenganmarah karena biasa menikmati subsidi, bahkan kalau tidak salah mobil pundiberi negara. Aduh enak ya Pak. BBM yang marah karena biasa dapat bagian upeti dari rakyat yang diperas, eh kini ditendang dan lari lintang pukang entah ke mana.

Presiden itu bukan mantan, di mana sebagai negarawan bukan hanya mencela namun mengritik dengan solusi. Kekuasaan memang  enak baru turun hampir tiga tahun sudah gerah. Masih dua thun lagi Pak, konsolidasi yang baik tanpa perlu menjelekan yang sedang berjalan.

Salam