Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Makna Pelukan Paloh Mengindikasikan Kelemahan?

7 November 2019   10:12 Diperbarui: 7 November 2019   16:46 0 23 10 Mohon Tunggu...
Makna Pelukan Paloh Mengindikasikan Kelemahan?
Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Surya Paloh (kiri) berpelukan dengan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman usai menyampaikan hasil pertemuan tertutup kedua partai di DPP PKS, Jakarta, Rabu (30/10/2019). Pertemuan tersebut dalam rangka silaturahmi kebangsaan dan menjajaki kesamaan pandangan tentang kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/foc. (ANTARA FOTO/PUSPA PERWITASARI)

Cukup menarik sindiran Jokowi pada aksi Surya Paloh yang menemui presiden PKS. Mengulas mengenai pelukan yang demikian erat, berbeda dengan pelukan kepada Jokowi sebagai calon presiden dan bahkan presiden.

Wajar juga Jokowi menyatakan itu, kenyataannya Surya Paloh dan  Nasdem secara faktual ataupun legal ada dalam gerbong pemerintahan. Dan ini hal yang cukup baru Jokowi mengungkapkan hal yang tidak wajar secara publik.

Lihat bagaimana ia tetap diam seribu bahasa ketika melakukan pergantian kabinet, tentu berbeda jika karena korupsi dan ditangkap KPK.

Soal Anies diam saja, bahkan termasuk ketika Jokowi malah menjadi sasaran tembak. Posisi Anies tetap saja demikian. Padahal satu saja alasan dikemukakan mengapa ia diganti, semua selesai, toh tidak pernah.

Jokowi juga berkomentar mengenai wajar Surya paloh yang lebih cerah usai bertemu PKS, beberapa saat memang wajah SP dalam banyak momen kenegaraan dan peristiwa politis cenderung muram, dan berat dalam menangkat kaki dan kepala. Cenderung diam dan tidak berbahagia, bermuram durja agak berlebihan, tidak cukup gembira dan bahagia pokoknya.

PKS menjadi posisi penguat bagi Surya Paloh dan agenda politiknya. Justru posisi SP yang lemah dan memerlukan dukungan dari PKS. Bahasa tubuh dan politis menyatakan itu dengan gamblang.

Beban yang ia tanggungkan selama ini, entah sakit hati politis, atau iri hati politis, bisa tereduksi dengan adanya pertemuan dengan PKS. Apakah ini cukup baik dan bagus bagi Nasdem?

Blunder yang cukup besar, seperti kiper sudah menangkap bola ketika melemparkannya malah masuk gawang sendiri. Ini sangat berat pukulan dan dampaknya bagi Nasdem? Mengapa?

Nasdem sebagai partai nasionalis malah cenderung tidak nyaman dengan kelompok nasionalis. Jelas ini lucu dan naif. Meskipun terjadi di tengah bangsa yang masih kuat demokrasi latihan dan sentimen agama sangat menentukan itu. langkah taktis politis yang tidak menjamin baik ke depannya.

Posisi Nasdem sebagai bagian pemerintah, namun melangkahkan kaki ke luar, di tengah gencarnya aksi pembersihan anasir Antipancasila, malah berdekat-dekat dengan partai yang tidak setuju Pancasila azas tunggal. Berarti ada agenda pemerintah yang susah dilakukan karena permainan parpol di dalam sendiri.

Berdekatan dengan kelompok  fundementalis, dengan dasar nasionalis, itu hal yang lucu, apalagi ke depan. Lima tahun ke depan, masyarakat jauh lebih cerdas, jauh lebih dewasa dalam berpolitik dan beragama.

Tentu bukan berbicara sekularisme dalam berbangsa, namun sudah makin arif dan bijaksana dalam memilah dan memilih agama dan politik, menempatkan pada porsi yang berbeda.

Surya paloh yang biasa tegas, garang, dan berapi-api kini mulai surut apinya, semangatnya yang berkobar-kobar itu mulai redup. Ternyata mencari kekuatan dan bahan bakar baru, meninggalkan Jokowi dan mencari pada partai politik yang bernama PKS, dan pada sosok Anies Baswedan. Cukup aneh langkah yang dipilih. Mengapa?

Trend Jokowi masih naik, Anies stagnan bahkan cenderung  mundur. Jangan kira serangan bertubi-tubi akhir-akhir ini akan menjadi bahan bakar. Tidak. Kupasan ada pada artikel lain. Namun langkah ini blunder. Bola di tangan malah masuk gawang sendiri.

Pemilih tentu melihat dengan jelas seperti apa warna Nasdem di dalam berpolitik. Kemarin sempat naik karena reputasi sepanjang lima tahun benar-benar berbeda. Mengatakan mendukung dengan tanpa syarat dipertontonkan dengan apa adanya, dan benar demikian.

Hanya ketika usai mendapatkan kenaikan suara cukup baik, berubah dan lucunya total berubahnya.

Malah seperti berbalik arah dan menjadi begitu kasar, ketika mengancam demi kursi kabinet. Mirisnya orang yang ada di kabinet pun bukan menteri yang sukses dan gilang gemilang. Biasa saja, kalau terlalu kasar mengatakan layak dicopot juga sebenarnya.

Wajar orang itu kecewa, menjadi lungkrah dan loyo, namun ketika salah melangkah dan mencari penguat atau  penopang, ya sama dengan ibu rumah tangga sedang galau dan mencari teman yang mau mendengarkan curhatannya dan akhirnya malah hancur berantakan keluarganya.

Dua pilihan yang cukup tidak tepat telah diambil SP, dan itu hal yang sah-sah  saja sebagai politikus dan tinggal menunggu waktu bagaimana sikap pemilih akan menyikapi ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
7 November 2019