Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik

Ninoy Karundeng di Antara Gagap Media dan Numpang Tenar

2 Oktober 2019   19:13 Diperbarui: 2 Oktober 2019   20:09 0 28 13 Mohon Tunggu...

Ninoy Karundeng di Antara  Gagap Media dan Numpang Tenar

Kemarin, cukup riuh rendah dengan kisah rekan Kompasianer Ninoy Karundeng yang kena "kasus" dengan kelompok yang masih cukup gelap. Menjadi mendesak untuk diulas karena begitu banyaknya narasi berkembang, lha termasuk grup lingkungan Gereja, seperti grup RT atau RW begitulah, kog ikut-ikut menyebarkan salah satu video pencarian Ninoy, sedang media arus utama sudah menyatakan NK sudah pulang.

Keberadaan Ninoy baik sebagai Kompasianer atau pegiat medsos memang cukup tenar. Pembaca, pembintang, dan pembaginya cukup banyak. Di K-pun dulu demikian, lepas dari banyak pro dan kontra atas gaya penulisan, ataupun model  opininya yang kadang menyerempet lebay, toh pembacanya sangat tinggi, apalagi jika dibandingkan saya yang bukan siapa-siapa.

Ketika era pesan di K lebih menguasai, saat WA belum begitu masif, pernah NK meledek apakah saya berani menulis soal PKS. Dia paling senang menulis dan meremehkan PKS dengan bahasa cenderung merendahkan, pun Demokrat dan SBY. Ada kisah di balik penolakkannya mengakui presiden keenam itu.

Waktu itu, jagoan-jagoan politik di K sangat banyak. Dua kubu yang berseteru seru. Ada Kompasianer Daniel HT, Assaro Lahagu, Mike Reysent, Pebrianov, Suci Handayani, Cyrus Thomson, Elde, dan banyak lagi. Penguasa NT dan GT adalah penulis-penulis itu. Kubu berbeda Erwin Alwasir, ada Rahmat Koto, Sayed, Sartono, JJMJ, era-era pilpres 2014. Masih ada Pak Dhe Kartono dengan segala isunya. Ada pula Agung Soni, penulis-penulis politik yang juga datang meramaikan lapak komentar. Termasuk Gatot Swandito alias Ustad Gaza. Belakangan muncul Roy Kusumo dan lain-lain.

Saya belum apa-apa, dan mereka rata-rata sudah biru, pendatang baru yang belum tahu apa-apa, hanya mengikuti dan sambil ngiler, opininya keren dan bisa mengait-kaitkan banyak hal begitu. Jagad K ya politik. Malang melintang nama-nama itu.

Pilkada DKI mulai muncul pemain-pemain opini baru plus lama, masih ada Ken Hirai, Adyatmoko, YB, dan mulai pula menghilang seperti Mike Reysent, Sayed, Elde, JJMJ, dan banyak lagi. Sudah mulai tidak lagi ramai.

Jauh lebih lagi usai pilpres 2019, wajah-wajah baru dalam peta opini politik K, cenderung sangat-sangat baru, muka-muka lama tidak lagi menghiasi dominan. Dan tiba-tiba terdengar kasus NK. Ia memang berpindah di rumah sebelah usai pilkada DKI 2017, dan aktif di medsos.

Penulis opini politik memang akan cepat mendapatkan tempat di K ataupun media sosial, mengapa? Karena pasti ada pro dan kontra. Pendukung dan bukan pendukung, nah dari sini, jelas susah orang opini politik mendapatkan penghargaan K-nival sebagai favorit, karena pasti dukungan itu hanya sebagian.

Kembali pada kisah NK dengan kekerasan yang ia terima. Ini jelas karena opininya, namun siapa pelakunya masih jauh dari kepastian. Nah karena orang lingkungan, yang kemungkinannya sangat kecil tahu dengan lebih luas, dalam, dan  menyeluruh mengenai persoalan ini. Narasi  dan diskusi yang berkembang pun masih sangat sumir. Bisa siapa saja pelakuknya dan apa saja motivasinya.

Beberapa waktu ini sedang panas dan ramai mengenai isu busser dan keberadaan reporter media arus utama. Level Tempo saja sampai turun tangan membahas itu. Kondisi yang memang harus dialamai media konvensional.  Jadi di sini pun ada pihak yang ikut terusik atas pelaku NK.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x