Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Muhaimin Iskandar dan Kabinet

4 Juli 2019   10:40 Diperbarui: 4 Juli 2019   11:58 0 17 5 Mohon Tunggu...

Santer  soal isu kabinet mendatang, nama ini dan itu akan menjadi menteri ini atau menteri itu. Dulu, era Pak Harto, di mana alat komunikasi adalah telpon rumah, ada kebiasaan menunggu telpon dari istana. Iya, PakHarto akan menelpon anggota kabinetnya, tidak akan ada yang melepaskan kesempatan itu.

Orang yang  sering masuk TVRI, pemberitaan koran, dan anggota apalagi elit Golkar pasti banyak yang GR dan selalu di samping meja telpon. Anaknya yang sedang ada PDKT bisa kering dalam kerinduan, HP belum ada, jadi satu-satunya itu.

Zaman Pak Beye beda lagi. Era di mana banyak audisi mencari bibit-bibit artis, penyanyi, bahkan pelawak, eh kabinet pun demikian. Dipanggil satu persatu, ada tempat untuk menyatakan sepatah dua patah kata, sebelum dan seusai berbicara di dalam "istana" pribadi SBY. Hampir semua yang dipanggil audisi  lolos, hanya satu dua yang ternyata tidak lolos dan dilantik.

Pertunjukkan yang  apakah berkorelasi dengan kualitas dan prestasi kabinet, toh semua juga tahu seperti apa warna dan capaiannya. Itu sudah lewat.

Kini gaya berbeda ala presiden Jokowi. Keberadaan ponsel jelas sangat memudahkan komunikasi, sehingga bisa sangat private. Tidak heran ketika tiba-tiba saja ada nama-nama yang banyak orang tidak duga, seperti Menteri KKP Susi Pudjiastuti di hampir lima tahun lalu. Kerja di dalam senyap, isu ini dan itu juga relatif sepi.

Pemilihan cawapres kemarin pun demikian. pihak-pihak yang terkait pun kaget. Menit terakhir ada perubahan yang sangat signifikan. Dan itu jelas karena pertimbangan masak dalam banyak segi dan kepentingan yang jauh lebih besar.

Pembicaraan kabinet yang seyogyanya profesional, atau para bos partai politik saling intimidasi soal jatah masing-masing, jelas hal yang wajar dan lumrah, toh gawe orang politik memang. Mau profesional atau politik, atau campuran dengan perhitungan berbagai macam, kembali itu adalah hak presiden terpilih, tentu dengan wakilnya sebagai satu paket.

Ada pula yang cukup menggelikan, ketika yang kemarin berkompetisi, menjadi rival, banyak pula yang memberikan kode cukup terang-terangan untuk ikut dalam gerbong yang sama. Penolakan karena kemungkinan "jatah"nya berkurang jelas wajar jika yang bekerja keras dalam satu jalur merasa sewot.

Lucu juga sebenarnya ketika kampanye menjelek-jelekan, kini mau mendukung yang pernah ia serang baik program atau pribadinya bahkan. Tapi itulah dinamika birokrasi bangsa ini, masih perlu banyak belajar.

Salah satu nama yang cukup menarik perhatian adalah Muhaimin Iskandar. Masih cukup muda, tapi liat dan ulet bak politikus senior. Licin dan cerdik, bahkan almarhum Gus Dur yang demikian piawai bisa ia "kadalin." Sangat menarik satu nama ini, dengan sangat percaya diri mendeklarasikan sebagai bakal calon wakil presiden, jauh sebelum masanya.

Di mana-mana baliho dirinya sebagai cawapres 2019 lebih dulu dari pada Sandi sekalipun. Cukup percaya diri. Bahkan sangat percaya diri. Jokowi cerdik memanfaatkan keberadaan politikus ini, dibawa dalam beberapa acara, tampilah kualitas Imin yang mendasar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN