Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Politikus Muda, Belajarlah dari Andi M dan Romy, Respek pada Senior

20 Maret 2019   08:33 Diperbarui: 20 Maret 2019   09:07 0 27 16 Mohon Tunggu...

Gegap gempita OTT Romy belum reda, meskipun telah ada debat cawapres sekalipun. Melebar ke mana-mana karena menyangkut Kemenag yang sudah pengalaman dengan KPK. Miris sebenarnya. pilpres makin dekat, gorengan bisa dimanfaatkan kubu mana saja.

Pengalaman Romy ini mengingatkan publik akan Anas Urbaningrum dan juga Andi Malarangeng. Ada beberapa faktor yang identik. Dekat pada kekuasaan, memegang kendali  partai politik, dan juga muda. Sayangnya jatuh pada kasus yang sama.

Anas Urbaningrum

Sedikit berbeda dengan kedua politikus lain dalam bahasan ini.  Anas hanya salah pada posisi seolah matahari kembar bagi Demokrat. Bukan dalam Jawa kemalan, namun kumowani, terlalu berani bersaing di dalam matahari bernama Yudhoyono, baik susilo ataupun penerusnya Agus, atau Ibas.

Posisi "pemilik" dinasti yang tidak mau ada potensi penghalang yang jauh lebih menjanjikan. Potensi Anas jauh lebih moncer daripada maaf kedua Yudhoyono Jr tetap harus diakui, pun usai lebih ideal AU dari pada keduanya. Ini tentu disadari dengan baik oleh elit Demokrat yang takut sinar AU.

Tentu bukan membela AU ulasan ini, toh masalah korupsi sama saja busuknya. Mau apapun alasannya. Berbeda ketika kasusnya itu bukan maling beginian. Mengerikan penyakit akut yang dioperasi eksponen 98 eh pelakunya juga yang dulu mengutuk keras.

Gaya hidupnya tidak cukup membuktikan kesederhanaan. Sebagaimana dinyatakan Prof. Sahetapy, bau busuk anak ini karena mobilnya. Sepakat dengan pernyataan ini. Mau warisan, mau usaha, kalau sudah gaya hidup tinggi, akan mudah masuk perangkap korupsi.

Andi Malarangeng dan Romy Perlu Belajar Respek pada Senior

Dua politikus muda ini seolah termakan pada ucapannya sendiri  yang bagi saya termasuk kaliber kurang ajar. Meskipun namanya politik sangat mungkin berlaku apa saja. Toh ketika pada senior, sesepuh, dan juga rival tetap perlu sikap respek itu.

Andi Malarangeng ketika 2009, Jusuf Kalla memilih pecah kongsi dan menyalonkan diri jadi presiden, AM mengatakan, potensi dari Sulawesi Selatan menjadi RI-1 itu ada, namun bukan sekarang ini. Tafsiran saya ia hendak menyatakan RI-1 itu bukan Jusuf Kalla, namun saya, sama-sama dari Sulawesi Selatan.

Jatuh pada korupsi, menteri aktif lagi. Sikap respek pada senior yang dalam falsafah timur masih cukup kuat seolah mendapatkan faktualisasi. Politik itu kepentingan, namun sisi etis tetap saja kog perlu. Mengungulkan diri itu penting, namun tidak perlu menjatuhkan pihak lain. Dalam sepak bola saja kartu kuning kog, kalau mau menyundul bola dengan menjatuhkan lawan. He..he.....

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2