Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Jokowi Belajar dari Hillary Clintton, Menyerang untuk Menang dan Menangkis

21 Februari 2019   09:00 Diperbarui: 22 Februari 2019   07:37 2376 47 25 Mohon Tunggu...

Usai debat kemarin, Wapres JK mengatakan, kalau sekarang Jokowi mengubah pola pendekatan di dalam bersikap politik. Belajar dari pengalaman Hilarry Clinton yang hanya bertahan dari serangan Donald Trump. Hal ini ternyata pengulangan dari pernyataan JK akhir tahun lalu. Satu yang sama, bagaimana ini adalah sikap demi kemenangan Jokowi.

Akhir tahun lalu, JK menasihati timses JK-KHMA untuk tidak terbuai dengan hasil survey dan merasa di atas angin dan terlena. Pengalaman pemilu di USA dan pilkada DKI tentu menjadi pelajaran berharga, bahwa survey jelas bukan kemenangan yang sesungguhnya. Masih dalam taraf asumsi dan perkiraan, jelas hasilnya belum sepenuhnya demikian itu.

Dalam konteks pilkada DKI, JK menyiyalir jika pemilih banyak yang tidak datang dan kemenangan ala survey itu tidak terbukti. Konteks berbeda, namun bahwa nasihat ini perlu menjadi perhatian yang serius karena kondisi lapangan bisa saja terjadi. Terutama pemilih  untuk tetap datang dan menggunakan hak pilihnya dengan penuh tanggung jawab.

Pernyataan kedua jauh lebih tepat dan mengena, ketika JK menyatakan pertahanan terbaik itu menyerang. Ada beberapa hal yang layak menjadi bahan ulasan mengenai hal ini.

Sebelum masuk  masa puncak kampanye seperti  hari-hari ini, beberapa kali pernyataan Jokowi cukup memanaskan  kancah perpolitikan. Istilah gendruwo dan sontoloyocukup  membuat politikus yang selama ini merasa di atas angin dengan perilaku seenaknya, kaget. Ingat sepanjang prapilpres 2014 hingga awal 2018, mereka bisa melakukan banyak hal yang sering di luas batas kepantasan.

Sikap tegas dan keras, meskipun dengan nada yang normatif, telah membuat politikus yang berseberangan tetap kaget dan merasa ada sikap yang cukup berbeda, dan itu perlu cara lain. Mirisnya mereka ternyata terlalu asyik memandang sebelah mata Jokowi yang akan dinilai sama dengan pilpres kemarin.

Kondisi yang cukup berbeda dengan 2014. Mengapa demikian? Posisi  Jokowi dulu adalah sama-sama calon dengan capres lain. Sikap apapun itu tidak penting dan berpengaruh bagi keberadaan calon presiden. mengambil sikap diam, mengalah, dan membiarkan hal yang tidak penting, dengan mengatakan, aku ra papa. Hal yang justru menjadi daya tarik luar biasa.

Pilpres 2019 jelas berbeda dengan kedudukan Jokowi sebagai incumbent, yang harus menjaga wibawa sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. 

Dalam arti tertentu toh penegak hukum dengan segala perangkatnya bisa dan boleh berupaya menegakan hukum dan itu dilindungi perundang-undangan yang sah. Dan hal ini yang abai disadari kelompok yang mengaku diri sebagai oposisi dan hanya mampu mendendangkan kriminalisasi, padahal mereka salah sendiri.

Politik itu jelas mencari kemenangan. Menang yang elegan, berkelas, dan berkualitas itu yang menjadi pembeda. Menyerang itu tidak salah dan melanggar hukum, ketika memang itu berdasarkan fakta, bukan fitnah, hoax, dan asal menjatuhkan rival.  Beberapa kali menusuk dengan pernyataan yang dianggap sebagai serangan personal.

Mengenai kegagapan capres 02 menjawab soal unicorn, bagaimana dianggap sebagai menjebak dan membuat capres mereka menjadi bahan tertawaan. Lebih mengerikan mana dengan narasi sekarang yang dikembangkan mengenai kemampuan bahasa Inggris yang rendah. Atau mereka sudah lupa kalau pernah meminta menantang debat dengan bahasa Inggris? Lebih memalukan dan merendahkan mana coba?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x