Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Artikel Utama

Wajah-wajah Muda Mulai Menggeliat untuk Pilpres 2019

6 Februari 2018   15:02 Diperbarui: 22 Februari 2018   16:17 3624 13 10
Wajah-wajah Muda Mulai Menggeliat untuk Pilpres 2019
AHY memberikan selamat kepada Anies Baswedan usai dilantik di Istana Negara. Sumber : instagram/@agusyudhoyono/ https://wartakota.tribunnews.com.

Wajah-wajah muda mulai menggeliat untuk pilpres 2019, menarik apa yang dilakukan presiden dengan menggandeng ketua umum PKB dalam sebuah acara di ibukota, kemudian di daerah dengan mengajak ketua umum P3. Sebenarnya biasa saja, wajar, namun mendekati  tahun  politik, apapun akan dikaitkan, ada aroma, dan berkaitan meskipun kadang juga tidak ada hubungan dengan politis.

Hal yang tidak jauh berbeda ditampilkan  geliat PKS yang mengajukan duet Anies Mata dengan Fahri Hamzah. Susah untuk melihat kiprah mereka sebagai duet, namun jika salah satu menjadi bakal calon wakil presiden masih bisa diterima nalar sehat. Reputasi militansi kader PKS dan perolehan suara yang lalu, masih cukuplah kalau mengantar menjadi bakal calon wapres. Mengapa susah satu paket? 

Pertama, siapa yang mau menyalonkan kedua orang dari satu partai, sedangkan suaranya pun tidak cukup. Artinya, sangat berat untuk memikirkannya, apalagi jika sampai ada yang mencobanya. Hitung-hitungannya saja tidak bisa, belum lagi faksi di dalam PKS sendiri apa juga bulat? 

Kedua, dengan PT yang ada, sudah sulit adanya calon alternatif dari dua isu santer antara Pak Bowo dan Pak Jokowi, jika mau memberi calon alternatif, berarti sangat tidak mungkin dua-duanya dari satu partai. Bergabung dengan siapa yang mungkin itu dulu. Misalnya P3, PKB, dan lainnya, apa iya mereka mau hanya mendukung dengan tanpa kader masuk menjadi salah satu kandidat yang memiliki kursi. 

Ketiga, suara mereka, keterpilihan mereka tidak cukup signifikan jika untuk mengusung mereka sendiri, berbeda jika memecah pasangan mereka untuk bersanding dengan salah satu bakal calon  yang relatif kuat saat  ini. kisah yang berbeda dan bisa berharap banyak. Apalagi reputasi keduanya juga tidak menonjol banget. Kecuali soal kotroversi dan cara berpolitik zig zag tidak jelas ala Fahri. Tenar dalam artian yang kurang pas dan ini bukan jaminan pemilih.

Zulkifli Hasan, cukup santer desakan dari internal PAN untuk maju menjadi salah satu kandidat presiden. Sangat berat, bukan hanya berat, apalagi suaranya pun relatif kecil. Artinya ia akan bersaing di dalam "memperebutkan" posisi bakal calon wakil presiden, bisa ikut Pak Prabowo seperti periode lalu, atau ikut Pak Jokowi. PAN ini paling aneh dan terlalu percaya diri. Melihat reputasi dan perolehan suara yang tidak signifikan namun berani mengambil posisi yang cukup tinggi. Memang dalam politik harus demikian. 

Suaranya makin tergerus dengan berbagai pernyataannya mengenai korupsi dan pembelaan bagi kadernya dengan ngawur dan bak babi buta, makin mengecilkan kesempatan itu. Pretasinya pun relatif buruk baik sebagai menteri ataupun sebagai ketua MPR. Belum lagi langkahnya yang main dua dunia dalam politik periode ini, membuat orang enggan untuk meliriknya. Susah melihat ia bisa berkiprah lebih jauh jika sendirian, bersama Gerindra pun rasanya susah karena pengalaman yang lalu.

Cak Imin, mulai tebar banner di mana-mana, tahu diri banget dan menyatakan calon wapres. Pun hal ini sudah dipakai periode lalu, cenderung mencari pemilih saja. Melihat reputasinya, kinerjanya pun partainya, dan keterpilihan dan suara PKB susah mengharapkan ia bisa bersaing baik bersama Pak Jokowi atau Pak Prabowo. Modalnya tidak cukup kuat dan signifikan. Cenderung menjadi penarik massa semata. Toh prestasinya juga tidak menonjol banget.

Gus Romi, mulai ada banner dengan pengenalan dirinya dan diperjelas dengan kebersamaan dengan presiden dalam sebuah acara. PPP cukup strategis, meskipun jika ngarep jadi bakal calon wakil presiden masih terlalu jauh. Modal apapun masih kurang. Reputasinya sebagai ketua umum juga masih kalah dengan ketua umum partai lain. Kinerjanya belum nampak beda dengan era Pak Hamzah Haz yang memiliki suara cukup signifikan kala itu. Kini PPP pun tidak cukup besar untuk bisa bersaing.

AHY, wah ini cukup unik, menarik, dan kuda hitam yang dipersiapkan Demokrat. Bagaimana tidak, gangguan psikologis sangat kuat untuk kedua bakal calon presiden yang terkuat saat ini. Bersama siapa sangat susah, maju sendiri pun tidak cukup menjual baik secara pribadi ataupun partai politik. Demokrat hanya masa lalu yang masih merasa besar. Apalagi ditingkahi perilaku Pak Beye yang maaf kekanak-kanakan. 

Sikap yang tidak jelas selama ini membuat susah sendiri dalam melangkah. Bagaimana mengatakan ini dan itu pada pemerintah yang cenderung tidak berdasar, apa juga tidak akan jadi bahan candaan jika mengajukan diri misalnya dengan Pak Jokowi nantinya. Pun dengan Pak Prabowo. Militernya pun menjadi kartu yang tidak mudah untuk bersama Pak Prabowo, masih cukup banyak yang tidak respek dengan calon yang keduanya militer.

Cukup tragis justru Golkar yang tidak memiliki kandidat yang cukup menjual. Partai besar dan berpengalaman ini ternyata mengalami juga krisis kepemimpinan nasional. Tidak ada satupun yang bisa berbicara banyak, cukup pede untuk menyatakan diri. Yang lalu ada Pak Ical yang meskipun gagal total toh masih memiliki tingkat keterpilihan yang bisa dibicarakan.

Pergerakan kandidat dan partai politik baik yang malu-malu ataupun giat masih sangat cair, bisa apa saja di kemudian hari. Ada waktu untuk bergerak dan menawarkan diri lebih lanjut.

Salam