Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara

Kandidat RI-1 atau RI-2 dari Jokowi, Prabowo, hingga Anies Baswedan

21 Januari 2018   18:12 Diperbarui: 21 Januari 2018   18:29 960 7 4

Kandidat RI-1 atau RI-2 dari Jokowi, Prabowo, hingga Anies Baswedan, sudah mulai menggeliat. Baik yang hanya "bawah tanah" dengan gerakan dan pancingan yang samar, atau membuat banner gede-gede, meskipun hilang lagi. Wawancara dan mengeluarkan pernyataan yang mendukung ini dan itu, namun bisa dilihat kalau ada maunya di pilpres mendatang. Memang ada juga yang dikatakan sebagai hasil survey, ataupun sebatas dari gerak lakunya mengindikasikan itu.

Penempatan pada dua kelompok besar ini, kondisional saat ini, bahwa kelompok pertama jelas sudah memperlihatkan termasuk dukungan, keterarahan, dan adanya hasil survey. Berbeda dengan kelompok yang kedua, meskipun sudah dinyatakan, toh tidak akan banyak tindak lanjut dengan berbagai catatannya. Namun bukan tidak mungkin bahwa bisa saja naik dan berpotensi menjadi kuda hitam yang patut diperhitungkan.

Urutan ini jelas bukan soal potensinya, namun urut abjad saja, bukan soal kemungkinan. Penempatan yang tidak berdasar atas pretensi pilihan juga.

Agus Yudhoyono. Jelas partai Demokrat telah menempatkan menjadi salah satu bintang masa depan. Pilkada DKI jelas hanya pemanasan dan pengenalan kepada publik kalau masih ada yang menjanjikan dari Demokrat. Muda, tenar, punya kekuatan dalam partai penguasa dua periode, militansi pemilih dan pendukung bapaknya sebagai presiden keenam. Catatan kekurangan adalah, masih terlalu hijau dalam banyak hal, belum teruji di depan publik baik pernyataan ataupun solusi jitu dalam banyak masalah.

Anies Baswedan. Jelas semua paham, siapa dia. Pilihan ide, perilaku, dan tindakannya sejak pra pilkada hingga hari ini, jelas sangat menjual sebagai bahan maju dalam banyak hal. Pilihan yang membuat jarak dengan "pemerintah pusat" pun dengan Pak Prabowo, bisa menjadi indikasi untuk banyak hal. Salah satunya maju dalam kontestasi pilpres. Kekurangan, jelas soal partai dan reputasi buram selama ini. kecerdikan dalam beretorika namun miskin esensi dan aplikasi, tentu menjadi catatan besar.

Chaerul Tanjung. Sepi sebenarnya, entah mengenai rumah DP 0% melalui medianya kog berkata nyaring berbeda dengan biasanya. Hal yang sangat jauh dibandingkan biasanya. Modal media dan kapital jangan diragukan lagi. Semua bisa dalam tangannya. Pengalaman sebagai menteri juga penting. Namun, masalah partai sebagai kendaraan utama, bisa menjadi masalah.

Gatot Nurmantyo. Jenderal yang pada ujung karirnya menjual diri dengan keren. Meroket tinggi dengan luar biasa. Ekspektasi yang melampuai banyak pihak, isu-isu yang ia angkat menjadi pembicaraan cukup panas. Tidak heran ia ditempatkan oleh banyak survei dan parpol sebagai salah satu bakal calon wakil paling potensial bersama siapapun. Tidak perlu disangsikan lagi soal tenar dan kemungkinan pemilih menyukainya. Catatan soal main politik praktis ketika menjadi panglima semata. Korupsi relatif tidak pernah terdengar.

Joko Widodo. Siapa yang menyangsikan salah satu kandidat terkuat saat ini ya presiden sendiri. Para "pembencinya" pun tidak akan bisa mengelak menyatakan Jokowi merupakan calon terkuat. Kubu yang biasanya keras pun bisa menyatakan susah mencari figur selevel dengan presiden. Fahri, Tanu pun mengatakan yang sama. 

Machfud MD. Mantan ketua MK yang juga politisi ulung ini selalu mendukung kebijakan pemerintah. Mau berdiskusi bahkan debat dengan pihak-pihak yang menyuarakan hal yang berbeda dengan yang dipilih pemerintah. Persinggungan cukup sengit tersebut, susah jika tidak berkaitan dengan posisi tawar berpolitik. Sah-sah saja, toh rekam jejaknya juga baik, lebih baik daripada yang sedang menjabat baik di eksekutif ataupun legeslatif. Catatan soal partai memang susah, namun ormas NU ada di belakangnya tentunya.

Moeldoko. Panglima TNI yang sekaligus politikus Hanura dan ketua HKTI ini sebenarnya sudah lama tidak ketahuan lagi kiprahnya secara langsung. Tiba-tiba dilantik pada ring utama istana, tentu ada hal yang bisa menjadi apa-apa. langsung melejit pula. Memang usianya tidak lagi muda, namun toh langsung ramai juga mengenai keberadaannya.

Muhaimin Iskandar. Ini seolah hanya penggembira, di sebuah daerah banner raksasanya, tiba-tiba hilang lagi. Mirip dengan pileg dan pilpres lalu, menyatakan diri mau nyalon, toh sama saja. Hanya untuk menarik pemilih. Susah untuk berbicara lebih jauh selain wacana dan deklarasi saja.

Prabowo Subianto. Ini sama juga dengan rivalnya pilpres kemarin. Semua paham menjadi salah satu calon terkuat. Faktor usia dan banyaknya anak buah yang bicara asal-asalan malah menjadi blunder tersendiri. Partai jelas cukup, suara pun lumayan signifikan. Sayang kebersamaan dengan partai politik dan ormas yang ada sejak pilkada Jakarta, banyak pemilih dan calon pemilih malah mundur. Jika hal ini bisa dibenahi, tentu pilpres jauh lebih kompetitif dan bagus.

Level berikut yang nampaknya susah. Tidak bisa banyak berbicara, pun belum juga jelas menyatakan diri. Pun bisa saja ngehits tiba-tiba, atau seperti PKS yang sudah menyatakan ada beberapa kader, susah untuk bisa bicara banyak.

Zulkifli Hasan. Modelnya malu malu mau, tahu diri juga bahwa susah untuk bisa bicara banyak. Parpolnya menengah, pun banyak dikatrol artis yang kurang produktif dalam hidup berbangsa. Levelnya kalau ada tawaran menarik, akan diiyakan dan dijalani dengan senang tentunya. Pilihan selama ini main dua kaki juga tidak menguntungkan posisinya jika mau menjadi salah satu kandidat yang cukup kuat.

Sandiaga Uno. Salah satu tokoh muda yang lagi berpolitik dan sukses manjadi wakil gubernur ini, patut juga mendapatkan perhatian. Kemampuan finalsial dan relasinya di dalam Gerindra bisa menjadi nilai tawar plus. Namun susah karena posisinya. Mau maju dengan Pak Prabowo, jelas tidak mungkin, namun entah nanti, setahun ke depan  bisa saja ada lanjutan ide untuk berpindah ke istana.

Nama calon PKS. Kans paling kecil. Suara paling besar memang. Parol besar saja belum banyak mengeluarkan nama dan gagasan, mereka sudah menyatakan  mengajukan nama-nama entah untuk apa. dari deretan nama itupun, tidak cukup menjual, apa ada juga yang mau "melamar" untuk bersama mereka maju. Reputasi dan prestasi mereka yang demikian, susah untuk lebih jauh dalam level capres cawapres. Soal korupsi yang dialami partai lain, tidak setelak menghantam mereka.

Paling banter akan ada empat hingga enam nama yang maju dalam pilpres. Tentu daftar di atas itu banyak   yang akan masuk, namun bukan berarti yang belum ada di sana tidak akan meramaikannya. Semua masih sangat terbuka.

Salam

Artikel ini sudah tayang di:

https://penatajam.com/2018/01/21/kandidat-ri-1-atau-ri-2-dari-jokowi-prabowo-hingga-anies-baswedan/