Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja htttps://susyharyawan.com

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kemanusiaan, Egoisme, dan Budaya Adi Luhung yang Memudar

13 Mei 2016   05:16 Diperbarui: 13 Mei 2016   06:53 444 31 30 Mohon Tunggu...

Membaca kisah di Jambi seorang ibu harus meninggal karena ambulans yang membawanya ke rumah sakit harus terhalang oleh blokade warga. Miris ada tetangga yang meregang nyawa mereka tidak juga membuka jalan. Bisa dimengerti bahwa blokade sebagai sarana menyatakan pendapat, namun jika mengorbankan ibu dan istri orang seperti itu?

Mampetnya saluran komunikasi antara masyarakat dan pejabat.Susah memang membuat pejabat menengok kondisi yang terjadi di lapangan. Mereka asyik dengan dunia “atas” mereka dan susah untuk menundukkan kepala sedikit  untuk melihat realitas masyarakatnya sendiri. Ingat ya pas mau pemilu, pilpres, pilkada, dan usai gawai itu, ya lupa lagi. Harus dipangkas pola komunikasi demikian.

Pendekatan instan dari warga, potong kompas dan paling cepat memang model demikian. aksi keras dan nyata bari di dengar. Pengalaman untuk pemerintah dan dewan agar tidak hanya diam saja, namun warga juga bisa bijak sehingga tidak membawa korban seperti itu. Pejabatnya tetap saja tidak merasa bersalah, namun ada keluarga yang kehilangan istri dan ibu. Anak dan menantu yang mereka sayangi lho.

Egoisme beberapa pihak,biasanya  perusahaan, perkebunan, dan mobil berat lewat di sana, namun sama sekali tidak peduli. Persoalan lingkaran setan, ketika pengusaha bisa lewat dengan leluasa karena sudah menyuap pejabat, kalau rusak anggaran negara lagi yang harus keluar. Sikap keras dan tegas tidak bisa diharapkan, karena aparatnya sudah “dikenyangkan”. Pola di mana-mana masih terjadi.

Budaya adiluhung bangsa yang mengedepankan gotong royong, diskusi dan musyawarah, serta rela hati membantu itu telah hilang. Kepentingan diri dan kelompokku yang penting. Kemanusiaan itu musnah karena tertutup oleh keinginan diri yang berlebihan. Dulu, jalan rusak itu akan diatasi dengan kerja bakti, warga sekitar dengan suka rela memperbaiki dengan berbagai bahan yang bisa diuapayakan. Terkikisnya kebaikan hati karena budaya materialisme yang telah menjangkiti hingga ke pelosok-pelosok.

Kebiasaan berkorban untuk kepentingan umum sudah hilang. Alasan sudah membayar pajak, pokoknya urusannya pemerintah, apalagi model pokonya pemerintah salah oleh sebagian pihak masih demikian kuat, berpengaruh pada pola pikir rakyat. Ini  hanya salah satu kasus yang kebetulan di dengar media. Masih berkasus-kasus dengan alasan yang sama karena sikap rakyat yang makin abai.

Keteladanan dari pejabat publik yang berpikir diri sendiri dan golongan. Contoh nyata setiap hari berseliweran di media, bagaimana petinggi saling , saling tuduh, saling menjelekan memutarbalikan fakta demi kekuasaan.  Janganlah dikira bahwa masyarakat masih primitif tidak bisa mebaca mana yang baik dan mana yang jahat. Seolah kata-kata suci, penampilan rapi, dan perilaku alim namun menggunakan kekuasaan sebagai sarana memperkaya diri, rakyat sudah tidak bisa dikelabui.

Egoisme, kepentingan sendiri dan kelompok, kalau orang lain ada jadi korban dinyatakan sebagai apes, korban, dan parahnya tidak peduli. Apakah ini gambaran bangsa bermartabat itu?

Siapa yang bisa mengubah? Kita dengan kemauan dan tentunya pejabat dengan memberi contoh dengan perilaku mereka, bukan perilaku korup, namun tindakan rela berkorban, memberikan diri seutuhnya, dan kerja tana pamrih.

Hal-hal kecil yang mengerikan kalau dihitung, bukan hal yang remeh. Laporan demi laporan memberikan tambahan perasaan miris, dan itu perlu dikikis. Apakah akan kita diamkan saja terus terulang? Sikap kemanusiaan yang ditukar dengan uang dan materi.

Salam

VIDEO PILIHAN