Mohon tunggu...
Patricia Larasgita
Patricia Larasgita Mohon Tunggu... Lainnya - Karyawan swasta

You'll find me snacking with my friends, watching crime series, or reading newsletter. ⚠️ Currently obsessed with badminton matches and a Korean actor.

Selanjutnya

Tutup

Pulih Bersama Pilihan

Presidensi G20, Ekonomi, dan Investasi Hijau

28 Juli 2022   08:31 Diperbarui: 28 Juli 2022   08:33 316 10 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sumber: https://www.bi.go.id/id/g20/default.aspx

Dengan memegang Presidensi G20 tahun 2022, Indonesia memiliki kesempatan yang besar untuk merancang dan melancarkan strategi yang disusun untuk memajukkan negara, khususnya dalam bidang perekonomian. Indonesia pun bisa memanfaatkan momentum ini untuk memperkenalkan hingga menyukseskan berbagai program terkait investasi hijau. Mengapa bisa begitu? Apa itu investasi hijau dan bagaimana Presidensi G20 bisa berperan dalam kesuksesannya?

Sebelum berbicara jauh tentang investasi hijau dan manfaat yang didapatkan dari dipegangnya Presidensi G20, kita bisa cari tahu lebih dulu tentang G20.

G20 adalah suatu kelompok yang terdiri dari 19 negara (Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, United Kingdom, India, Indonesia, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Korea Selatan, Meksiko, Prancis, Rusia, Tiongkok, Turki) dan 1 organisasi Uni Eropa. Anggota G20 ini merupakan representasi dari 85% perekonomian dunia, 80% investasi global, 75% perdagangan internasional, serta 60% populasi dunia. Kelompok ini dibentuk untuk membahas isu-isu penting terkait perekonomian dunia setiap tahunnya. Dilihat dari representasi hingga pentingnya isu-isu yang dibahas, pertemuan G20 memiliki dampak besar bagi perekonomian dunia.

Karena G20 tidak memiliki sekretariat tetap, pertemuan tahunannya berlangsung secara berpindah-pindah tempat dari negara anggota yang satu ke negara anggota lainnya, dan tahun ini bertempat di Bali. Itulah yang dimaksud dengan "Indonesia memegang Presidensi G20".

Tahun ini, Presidensi G20 mengusung tema "Recover Together, Recover Stronger". Sementara itu, isu-isu prioritas yang akan dibahas adalah mengenai arsitektur kesehatan global, transformasi digital, dan transisi energi berkelanjutan. Pengusungan tema dan pemilihan isu yang rasanya sangat tepat dalam menghadapi kondisi krisis akibat pandemi dan perubahan iklim. Melalui tema dan prioritas pembahasan tersebut, Presidensi G20 diharapkan dapat merumuskan strategi yang tepat sasaran untuk pemulihan kondisi perekonomian global.

Berkaitan dengan strategi dan kebijakan di bidang perekonomian, Indonesia memiliki Program Pertumbuhan Ekonomi Hijau. Ini merupakan sebuah program di bidang investasi hijau. Investasi hijau adalah investasi yang memperhatikan aspek lingkungan, sosial, hingga tata kelola yang baik. Investasi ini bertujuan menjaga kelangsungan perekonomian, namun tetap memperhatikan berbagai dampaknya terhadap lingkungan. Lebih spesifik lagi, dilansir dari website BKPM, Program Pertumbuhan Ekonomi Hijau bertujuan untuk mengembangkan proyek-proyek yang bankable berdasarkan Nationally Determined Contributions (NDCs) dan Sustainable Development Goals (SDG).

Selama ini, kita seringkali melihat sentimen negatif terhadap pembangunan ekonomi karena memiliki dampak buruk bagi lingkungan. Pembangunan ekonomi pun seringkali dipandang tidak dapat beriringan dengan upaya pelestarian lingkungan. Namun, tidak dengan investasi hijau. Kita justru bisa semakin menggalakan berbagai upaya positif dalam memerangi krisis iklim lewat pembangunan ekonomi, karena berbagai usaha rendah karbon bisa mendapat bantuan pendanaan.

Investasi hijau, atau yang sering disebut juga sustainable investment, sedang populer di negara-negara maju. Hal ini terjadi karena meningkatnya perhatian terhadap kondisi krisis perekonomian dan iklim yang berdampak di seluruh dunia. Perhatian tersebut dan momentum Presidensi G20 ini bisa dimanfaatkan Indonesia untuk lebih memberikan sorotan terhadap investasi hijau, memperkenalkan programnya, menunjukkan komitmen Indonesia terkait program investasi hijau, hingga menggaet investor untuk menanamkan modalnya. Terlebih hal ini berkaitan dengan salah satu pilar Presidensi G20 Indonesia 2022 (memastikan pertumbuhan berkelanjutan dan inklusif), salah satu isu prioritas Presidensi G20 Indonesia 2022 (transisi energi berkelanjutan), serta salah satu agenda prioritas jalur keuangan dalam Presidensi G20 Indonesia 2022 (sustainable finance).

Seminar "Scaling up the Utilization of Sustainable Financial Instruments" yang dibuka oleh Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dan seminar bertajuk "Building a Resilient Sustainable Finance" yang dihadiri oleh Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, yang diadakan pada Februari lalu sebagai salah satu rangkaian kegiatan Presidensi G20 merupakan salah satu langkah awal yang tepat. Melalui seminar-seminar itu, pihak Bank Indonesia, sebagai bank sentral, secara aktif menyampaikan komitmennya dalam mendukung pembangunan ekosistem berkaitan sustainable financial instruments agar dapat bertahan dalam jangka panjang, serta strategi untuk meningkatkan sustainable financial instruments. Tak hanya Bank Indonesia, pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) pun turut serta menyampaikan dukungannya terhadap sustainable financial instruments melalui seminar tersebut. 

Lantas, seperti apa sih keuntungan yang bisa didapatkan dari program-program investasi hijau?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pulih Bersama Selengkapnya
Lihat Pulih Bersama Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan