Mohon tunggu...
Parlin Pakpahan
Parlin Pakpahan Mohon Tunggu... Lainnya - Saya seorang pensiunan pemerintah yang masih aktif membaca dan menulis.

Keluarga saya tidak besar. Saya dan isteri dengan 4 orang anak yi 3 perempuan dan 1 lelaki. Kami terpencar di 2 kota yi Malang, Jawa timur dan Jakarta.

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Misi Diplomatik AS yang Dipertaruhkan Wapres Kamala Harris

12 Maret 2022   18:46 Diperbarui: 14 Maret 2022   07:06 462
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Wapres AS Kamala Harris dan Presiden Polandia Andrzej Duda. Foto : CBS News.

Biden tak sadar bahwa Saudi Aramco, perusahaan minyak negara Arab Saudi telah mengumumkan pada Kamis lalu bahwa pihaknya akan membantu membangun fasilitas penyulingan baru yang besar di timur laut China. Berita itu muncul sehari setelah Riyadh menolak permintaan Biden untuk memperluas produksi minyak dalam rangka komposisi terbaru larangan AS membeli minyak Russia.

Aramco mengatakan akan bekerjasama dengan Perusahaan dari Grup Industri Kimia Huajin di China utara dan Grup Industri Panjin Xincheng untuk membangun kompleks kilang dan petrokimia terintegrasi besar-besaran di Panjin, Propinsi Liaoning. Fasilitas ini akan mampu memproduksi 300.000 barel minyak per hari dan akan memiliki 1,5 juta metrik ton per tahun ethylene cracker dan 1,3 juta metrik ton paraxylene per tahun.

Pembicaraan untuk membangun kompleks industri minyak ini telah dimulai pada 2019 setelah kunjungan Putera Mahkota Saudi Mohammed bin Salman ke Beijing, tetapi terhenti setelah merebaknya pandemi Covid-19. Pembicaraan itu dihidupkan kembali pada awal Pebruari ketika Saudi berusaha memanfaatkan harga minyak yang meningkat pesat. Pada saat itu telah dicapai kesepakatan bernilai US $ 10 miliar, mengutip sputnik.news edisi 10 Maret 2022.

Pengumuman kesepakatan mengikuti dua perkembangan terkait. Pada 4 Pebruari, perusahaan gas milik negara Russia Rosneft menandatangani perjanjian 10 tahun dengan China National Petroleum Corp (CNPC) untuk mengirimkan 100 juta metrik ton, atau 200.821 barel minyak per hari ke kilang di barat laut China.

Sesuai kesepakatan Rosneft dan CNPC, minyak yang akan dikembangkan adalah yang berkarbon rendah, dalam rangka pengurangan emisi gas rumah kaca, termasuk metana, teknologi efisiensi energi, kata pihak Rosneft.

Kesepakatan itu terjadi dua minggu sebelum Russia meluncurkan operasi khusus di Ukraina  Jelas AS dan sekutu baratnya akan gigit jari sebagaimana dinyatakan Putin belum lama ini bahwa sanksi barat yang agresif justeru akan membuat Russia dkk semakin kuat.

Keterpojokan AS dengan segala sanksinya yang terkesan kalap lantaran faktor deterrent nuclear Russia semakin membuka mata dunia ketika pasukan Russia berhasil menemukan bukti kuat bahwa AS sedang mengembangkan senjata biologi di Ukraina.

spektrum patogen yang disebarkan kalelawar. Foto : Kemhan Russia via sputniknews.com
spektrum patogen yang disebarkan kalelawar. Foto : Kemhan Russia via sputniknews.com

Kemhan Russia menyatakan AS telah menggelontorkan uang ke fasilitas penelitian biologi di Ukraina dan telah menggunakannya untuk membuat senjata biologis dan melakukan eksperimen terkait virus corona kelelawar.

Yang dilakukan di lab itu al penciptaan bioagen yang akan mampu menargetkan kelompok etnis tertentu. Dokumen yang disita pasukan Russia mengkonfirmasi banyak kasus transfer sampel biologis warga negara Ukraina ke luar negeri. Dengan tingkat probabilitas yang tinggi, dapat dikatakan salah satu tugas AS dan sekutunya adalah menciptakan agen hayati yang secara selektif dapat mempengaruhi berbagai kelompok etnis penduduk, demikian Igor Kirillov, Kepala Pasukan Perlindungan Nuklir, Biologis, dan Kimia Angkatan Bersenjata Russia.

Sampai disini kita melihat AS dengan larangan terakhir terhadap pembelian energi Russia malah mendapat pukulan balik dari serangkaian fakta sebagaimana terurai di atas. Ini membuat sebagian sekutu Eropanya mulai berpikir kritis seperti Jerman dan Hungaria. Boleh jadi Perancis akan lebih rasional beberapa saat ke depan. Bukankah sejak zaman Charles de Gaulle Perancis tak pernah suka dengan gaya koboi AS yang tak pernah mau berpikir panjang ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun