Kesehatan Pilihan

Benarkah VCO Bisa Jadi Obat untuk HIV AIDS?

14 Februari 2018   07:15 Diperbarui: 14 Februari 2018   07:27 6452 0 0
Benarkah VCO Bisa Jadi Obat untuk HIV AIDS?
Ilustrasi: Theearthelement.com

Anda pasti tahu tentang VCO. Virgin Coconut Oil. Yakni minyak kelapa asli, yang diproduks hanya dengan mengendapkan santan kelapa. Sebuah proses yang sangat sederhana dari buah yang sangat familier bagi kita masyarakat Indoensia, yakni kelapa.

Tetapi jarang orang yang tahu bahwa, VCO, memiliki sejarah panjang, berabad-abad lamanya, dan dipercaya menjadi obat alternatif untuk banyak ragam penyakit.

Ini dia rangkuman perjalanan VCO, dari 3.900 sebelum masehi, hingga tahun 2000-an, dari berbagai sumber yang saya baca.

Ayurveda

Ali kisah, dalam sebuah kitab kuno Ayurveda, tersebutlah bahwa kelapa menjadi bagian penting bagi masyarakat daerah tropis seperti Mikronesia, Polinesia, Amerika Tengah, Amerika Selatan dan Indonesia.

Di masyarakat daerah tropis ini, kelapa dimanfaatkan kulitnya, daging, bahkan air kelapanya. Ketiganya memilki kandugan zat-zat yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia. Bahkan pengetahuan tentang kehebatan buah kelapa bagi kesehatan tu sudah ada sejak 3.960 Sebelum Masehi.

Hebat bukan? Para leluhur kita, sejak berabad-abad lamanya ternyata tahu bahwa di dalam daging kelapa dan airnya sangat menyehatkan karena mengandung 93 persen lemah jenuh, tetap 47 -- 53 persen lemak jenuh berantai sedang.

Lemak dalam VCO tidak tertimbun di dalam tubuh manusia dan membuat sumber penyakit, tetapi lemak VCO mudah terbakar dan menimbulkan efek yang luar biasa bagi tubuh manusia. Disitulah hebatnya ilmu kesehatan nenek moyang kita, karena telah membuat sebuah kesimpulan yang fenomenal hingga saat ini.

Pada tahun 1945-an, VCO kembali menjadi kabar dunia, karena omoditi ini sangat diunggulkan di Asia -- Pasifik. Pada Perang Dunia II, air kelapa digunakan untuk mengkompres para prajurit yang terluka, dan tentu menyelamatkan ribuan nyawa manusia.

Setelah perang mereda, di Amerika dan Inggris, kelpa kemudian diolah menjadi margarine, dan menjadi komoditi pangan di kleas elite di Eropa. Karena ketakutan akan moncernya VCO, maka banyak kalangan investor menyerukan agar dihentikan penggunaan minyak goreng dari negara tropis ini diganti dengan minyak jagung atau kedelai. Tentu dengan menghembuskan isu negatif, bahwa di dalam minyak goreng kelapa menjadi penyebab tumbuhnya penyakit berat, seperti jantung, diabetes, dan kolesterol.

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi
Perang terhadap minyak kelapa ini bahan terus dilakukan hingga tahun 1954, dan tahun 1965. Dimana banyak peneliti dikerahkan untuk memberi kesimpulan bahwa minyak kelapa asal negara tropis harus dihindari, karena lemaknya  mengakitakan penyumbatan arteri dan memicu penyakit jatung.

Amerika Serikat, bahkan mempropagandakan, minyak kelapa sebagai minyak jahat. Protec dan Gambler meyarankan agar American Heart Association untuk menghndari minyak kelapa dari daftar diet.

Kampanye ini mencapai puncaknya tahun 1984, di mana The New York Time, menyebut, mereka harus menghindari minyak kelapa asal Malaysia dan Indonesia, meski harganya murah tetapi menjadi sumber penyumbatan pembuluh darah. Sedang National Cholesterol Education Program, menyatakan, minyak kelapa dan kelapa sawit harus hindari.

Propaganda ini berhasil mendunia, mengubur hasil "riset" nenek moyang terdahulu, yang menyatakan minyak kelapa murni (VCO) adalah penyembuh ajaib.

Sampai akhirnya muncullah Prof. Dr. Bambang Setiaji, seorang dosen dan peneliti dari Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, yang menyatakan bahwa VCO adalah The Kings, bahkan VCO bisa mengatasi leukimia, HIV dan AIDS.

Di Indonesia, uji klinis terhadap VCO, kemudian banyak dilakukan oleh para ahli. Salah satunya peneliti asal LIPI Dr. Joko Sulistiyo.

Pada seekor mencit ( tikus )  kadar kolesterol mencit yang diberi VCO 50 mikroliter turun 9 mg/dl pada hari ke- 28. Melorotnya kolesterol itu juga diimbangi oleh naiknya HDL ( yang dikenal sebagai kolesterol baik ) pada hari ke-13.

Ini tentu sebuah kesimpulan yang hebat, karena VCO memperkecil risiko beragam penyakit seperti serangan jantung dan arteriosklerosis ( seperti ditulis oleh Majalah Trubus ).

Riset secara klinis efek kolesterol ekstrak Cocos nucifera juga diteliti oleh K.G. Nevin dari Department of Biochemistry, University of Kerala, India.

Nevin menemukan VCO tak meningkatkan kolesterol dalam darah, justeru melindungi jantung. Sebabnya, VCO mampu meningkatkan kolesterol baik dan mengenyahkan kolesterol jahat.

Penelitiannya melibatkan 3 kelompok tikus masing-masing 6 ekor. Selama 45 hari seluruh tikus percobaan itu diberi minyak kacang 8 g/100 g bobot tubuh sebagai kontrol, minyak kelapa asli 8 g/100 g, dan VCO 8 g/100 g.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2