Mohon tunggu...
Cahyadi Takariawan
Cahyadi Takariawan Mohon Tunggu... Konsultan - Penulis Buku, Konsultan Pernikahan dan Keluarga, Trainer

Penulis Buku Serial "Wonderful Family", Peraih Penghargaan "Kompasianer Favorit 2014"; Peraih Pin Emas Pegiat Ketahanan Keluarga 2019" dari Gubernur DIY Sri Sultan HB X, Konsultan Keluarga di Jogja Family Center" (JFC). Instagram @cahyadi_takariawan. Fanspage : https://www.facebook.com/cahyadi.takariawan/

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Ibu Mertua Bertingkah Seperti ABG

6 September 2021   06:11 Diperbarui: 6 September 2021   07:18 443
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
https://www.smartparenting.com.ph/

Beberapa waktu yang lalu, saya membuat postingan di instagram dan facebook, terkait persoalan menantu dan mertua. Dalam postingan itu, saya akhiri dengan pertanyaan, apa masalah yang Anda hadapi dalam berinteraksi dengan mertua?

Muncul banyak ungkapan di kolom komentar, baik pada akun instagram maupun di facebook. Dalam dua postingan sebelumnya telah saya sampaikan beberapa dinamika hubungan menantu mertua. Postingan kali ini saya sampaikan lagi salah satu persoalan yang dirasakan menantu dalam berinteraksi dengan mertua.

Ketika Ibu Mertua Seperti ABG

"Saya sudah menikah dan punya mertua, tapi sekarang tinggal ibu mertua saja. Bapak mertua yang sangat baik terhadap saya sudah meninggal dunia. 

Harapan saya, ibu mertua bisa bersikap keibuan yang mengayomi seperti orangtua saya sendiri. Bisa membuat hati senang dan damai saat bersama beliau --seperti ketika bersama ibu saya sendiri. Tidak membandingkan anak-anaknya, bisa lebih dewasa serta giat ibadah. Itu harapan saya, karena saya belum menemukan hal itu pada diri beliau. 

Saya justru melihat dan merasa beliau seperti ABG yang masih suka foto-foto selfie, update curhatan dan sindiran di sosmed. Beliau sulit diajak berdiskusi secara dewasa, masih mementingkan duniawi materi, serta kurang taat beragama. 

Jadi sampai 6 tahun pernikahan saya belum menemukan kenyamanan saat di dekat beliau. Justru saya cenderung was-was jika anak-anak saya diasuh beliau" (Vani).

Memahami Persoalan

Pada usia yang sudah semakin tua, semestinya ibu mertua lebih religius, dan semakin banyak amal kebaikan untuk bekal menuju akhirat. Salah satu yang sangat berpengaruh adalah pertemenan --dengan siapa beliau banyak berteman. Sangat penting untuk mengajak beliau memiliki komunitas religius yang akan memberikan penguatan dari sisi spiritualitas agama.

Adapun ketika ibu mertua bertingkah seperti anak ABG, ada baiknya dipahami sebagai keinginan beliau untuk mengekspresikan dan mendapatkan kebahagiaan. Di usia yang sudah semakin menua, dan ditinggal suami, maka beliau memerlukan ruang-ruang ekspresi diri agar hidup lebih berwarna-warni.

Jika usia dan kondisi beliau masih memerlukan pendamping hidup, perlu untuk dibicarakan baik-baik bersama semua anak. Sebab pada dasarnya semua manusia memerlukan pendamping hidup, untuk menemani dan saling menjaga di masa tua. Memang tidak sederhana untuk membangun kehidupan pernikahan di usia yang sudah tua, namun bukan berarti tidak mungkin.

Mungkin Masih Memerlukan Pendamping Hidup?

Sepanjang seseorang --lelaki maupun perempuan---masih memerlukan penyaluran syahwat seksual, pada dasarnya masih memerlukan pasangan hidup. Dengan menikah, maka syahwat seksual akan tersalurkan secara halal. Pasangan hidup juga akan bisa saling menguatkan satu dengan yang lain dalam kebaikan --termasuk dalam orientasi keberagamaan.

Sebab jika syahwat seksual masih bergejolak, sementara tidak ada penyaluran yang halal karena sudah tidak memiliki suami, bisa melahirkan bahaya. Syahwat seksual yang tidak tersalurkan, bisa memunculkan ekspresi yang cenderung 'aneh-aneh'. Misalnya bergaya seperti ABG, dan suka melakukan tindakan layaknya remaja.

Untuk mengetahui kecenderungan itu, tentu harus ada pembicaraan dengan cara yang baik-baik kepada ibu mertua. Yang paling tepat melakukan ini adalah anak-anak kandung beliau. Diperlukan kelapangan hati dari semua anak-anak kandung untuk melindungi ibu dari hal-hal yang tidak baik. Bicarakan hal ini secara bijak dengan sang ibu.

Jika memang ibu masih menghendaki pendamping hidup, selayaknya semua anak kandung dan menantu mendukung keinginan tersebut. Semua ikut berusaha mengupayakan calon suami yang paling baik bagi sang ibu, yang akan menemani dan mendampingi ibu di masa tua beliau.

Namun jika ibu --dengan kondisi dan usianya---sudah merasa tidak memerlukan suami, maka hendaknya didorong untuk terlibat dalam berbagai komunitas kebaikan. Agar orientasi dan kegiatan sehari-hari bisa mengarah kepada hal yang positif. Semakin mendekat kepada Allah, semakin sayang anak, menantu dan cucu, serta bisa bersikap bijak terhadap semua keluarga.

Senior School, Alternatif Ruang Belajar

Pada usia yang sudah semakin tua, diperlukan pembelajaran untuk melaksanakan tugas perkembangan pada fase kehidupannya. Demikian direkomendasikan dalam teori Duvall-Miller. Menurut Duvall-Miller, manusia akan melewati delapan tahap kehidupan berumah tangga. Pada setiap tahapannya, diperlukan ilmu dan pengetahuan yang spesifik untuk menunjang tugas perkembangan pada fasenya.

Pada contoh seseorang yang sudah memiliki menantu dan cucu, maka mereka telah berada pada fase ke 6 atau ke 7, bahkan pada contoh ibu mertua di atas, mungkin telah berada pada fase ke 8. Sang ibu mertua tinggal sendiri, suami sudah meninggal dunia. Maka tugas perkembangan yang harus dilakukan adalah menjaga agar tetap produktif dalam kebaikan, memiliki hubungan sosial yang positif, dan tentu saja mempersiapkan husnul khatimah.

Diperlukan pembelajaran dalam format "Senior School", yaitu edukasi untuk mereka yang sudah menginjak usia 50 atau 60 tahun ke atas. Pada mereka yang telah berusia 60, umumnya sudah memasuki masa pensiun. Mereka sudah purna tugas formal, maka perlu belajar untuk menyiapkan masa tua yang produktif, bahagia dan mempersiapkan husnul khatimah untuk akhir hidupnya kelak.

Senior School berisi orang-orang yang telah pensiun atau menjelang pensiun. Mereka telah memiliki menantu dan cucu. Berkumpul untuk belajar bersama dengan kurikulum dan modul yang sesuai dengan keperluan fase mereka, Di saat yang sama, memberikan lingkungan serta pertemanan yang positif.

Bentuk Senior School bisa bermacam-macam, tergantung situasi dan kondisi. Namun intinya adalah melakukan pembelajaran kepada para orangtua pada masa tua mereka. Seperti contoh ibu mertua di atas, jelas sangat memerlukan pembelajaran dan lingkunag yang kondusif seperti itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun