Cahyadi Takariawan
Cahyadi Takariawan Penulis Buku Wonderful Family Series

Penulis Buku Serial "Wonderful Family", Peraih Penghargaan "Kompasianer Favorit 2014"; Konsultan di "Rumah Keluarga Indonesia" (RKI) dan "Jogja Family Center" (JFC). Instagram @cahyadi_takariawan. Fanspage : https://www.facebook.com/cahyadi.takariawan/

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Sediakan 5 Ruang Ini agar Selalu Bahagia dalam Pernikahan

26 November 2018   09:31 Diperbarui: 1 Desember 2018   13:30 2269 10 1
Sediakan 5 Ruang Ini agar Selalu Bahagia dalam Pernikahan
(thebridedept.com)

Menjalani kehidupan pernikahan, bukanlah peristiwa linear "apabila A maka B" atau "apabila B maka C". Pada kenyataannya, terdapat sangat banyak proses yang harus dilewati oleh suami dan istri, guna mencapai penyatuan dan kesejiwaan. 

Proses itu terkadang terasa begitu rumit ---terlebih bagi mereka yang memiliki ekspektasi sangat tinggi dalam kehidupannya. Namun proses itu terkadang begitu simple dan sederhana, bagi yang memiliki ruang cukup luas untuk beradaptasi.

Dialog dan konflik dalam film Hanum dan Rangga, menggambarkan dengan utuh sisi-sisi kerumitan dan sekaligus kesederhanaan itu. Sosok Hanum dalam film itu, saya kira mewakili sangat banyak perempuan muda idealis, dengan ruang ekspektasi sangat tinggi dalam dirinya. 

Hanum ingin meraih mimpi yang dibangun sejak muda. Berkarier, berprestasi, dan berkontribusi bagi kebaikan, melalui jalur media. Kesempatan itu terbuka secara nyata di depan mata, setelah ia menikah. Namun di sisi yang lain, ia adalah istri yang "terikat" pada suami sebagai kepala rumah tangga.

Film Hanum dan Rangga ---yang diangkat dari novel "Faith anda The City" karya mbak Hanum Salsabila Rais--- memberikan sangat banyak pembelajaran untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Apalagi pada keluarga muda, dimana mereka tengah berjuang menjaga dealisme, yang terkadang harus terbentur-bentur pada kerasnya realitas kehidupan nyata.

Sisi 'wonderful family' dari konflik yang dibangun dalam film Hanum dan Rangga, memberikan pelajaran kepada kita, pentingnya menyediakan lima ruang berikut ini, untuk menjaga keutuhan, keharmonisan dan kebahagiaan keluarga. Suami dan istri harus sama-sama memiliki lima ruang ini dalam jiwa mereka.

film rangga dan hanum (medcom.id)
film rangga dan hanum (medcom.id)
Ruang Ekspektasi 

Setiap laki-laki dan perempuan yang hendak menikah, pasti memiliki sejumlah ekpektasi terhadap pasangan, maupun terhadap kehidupan rumah tangganya kelak. 

Pada sisi yang lain, masing-masing dari laki-laki dan perempuan, juga memiliki cita-cita, harapan, dan keingnan akan kehidupannya di masa yang akan datang.

Misalnya seorang lelaki yang bercita-cita ingin menjadi doktor dan bekerja pada sebuah profesi tertentu. Ia memiliki ekspektasi terhadap calon istri, yang bersedia mendukung cita-citanya, mendukung profesinya, dan bersedia menemani prosesnya.

Demikian pula seorang perempuan, yang memiliki cita-cita ingin menempuh pendidikan tinggi, dan bekerja pada suatu profesi tertentu. 

Tentu ia juga memiliki ekspektasi terhadap calon suami yang bersedia mendukung cita-citanya, mendukung profesinya, dan bersedia menemani prosesnya. 

Mereka sama-sama memiliki ekpektasi akan sosok pasangan hidup yang mendukung cita-citanya, dan mendukung profesinya. 

Mereka sama-sama menghendaki calon pendamping yang bersedia menemani proses menuju tercapainya cita-cita tersebut.

Hanum sudah memiliki mimpi yang sangat jelas sejak masih lajang. Pun Rangga, ia sudah memiliki mimpi yang akan diraih dalam kehidupan. Inilah ruang ekspektasi yang sudah mereka ciptakan dalam diri sejak sebelum menikah. 

Tentu saja hal ini menjadi hak bagi setiap diri untuk memilikinya, bahkan dalam batas tertentu bisa dianggap sebagai sebuah 'kewajiban' bagi setiap orang agar bisa disebut sebagai memiliki arah dan gairah hidup. Seseorang bisa disebut sebagai 'tidak jelas', apabila tidak pernah punya mimpi untuk kehidupannya.

Namun, ekspektasi haruslah terukur, jangan sampai berlebihan. Membayangkan kondisi-kondisi ideal pada pasangan dan pada kehidupan keluarga, tidaklah salah. 

Namun harus mampu mengukur diri dengan berbagai potensi, sumber daya dan dukungan yang mungkin diperoleh untuk mewujudkan semua itu. Hendaknya sejak awal selalu menyediakan ruang yang cukup luas untuk berubah dan beradaptasi, menyesuaikan situasi dan kondisi yang akan dihadapi nantinya.

Ruang Dialog

Hendaknya suami dan istri bersedia melakukan dialog atas segala sesuatu yang menjadi impian pribadi masing-masing. Sediakan ruang untuk berdialog dengan berbagai pihak, bahkan mendialogkan hal-hal yang sudah mencai mimpi yang dibangun selama ini. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3