Mohon tunggu...
Ozy V.  Alandika
Ozy V. Alandika Mohon Tunggu... Pengajar, Pembelajar, Pecinta Tilawah

Selalu menanam harapan walau kemarau panjang. Singgah ke: www.ozyalandika.com

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Menanti Ketegasan Nadiem dalam Menghapus 3 Dosa Pendidikan di Sekolah

20 Februari 2020   22:02 Diperbarui: 21 Februari 2020   10:13 3016 39 19 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menanti Ketegasan Nadiem dalam Menghapus 3 Dosa Pendidikan di Sekolah
Mas Nadiem saat memberikan pidato di Upacara Hari Peringatan Sumpah Pemuda di kantor Kemendikbud di Jakarta, Senin (28/10/2019). kompas.com

Sadar atau tidak, Indonesia saat ini sedang mengalami darurat nilai pendidikan. Nilainya terlalu kompleks, tidak hanya sekadar karakter siswa yang butuh pembenahan melainkan juga tentang semua aspek dan hal-hal negatif yang mengiringinya.

Bagaimana tidak darurat, sekolah hari ini sedang dilanda radikalisme, kekerasan seksual dan perundungan. Menurut Mas Nadiem, ketiganya merupakan dosa pendidikan yang harus dihapus dari dunia pendidikan.

"Buat saya ada tiga dosa. Dosa intoleransi, dosa kekerasan seksual, dan dosa bullying," ujar Nadiem di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (20/02/2020).

Baik radikalisme, kekerasan seksual, maupun perundungan ketiganya sama-sama tidak bisa diterima dan tidak pula ada toleransi untuk membiarkannya merajalela bersemayam di sekolah.

Sebagai lingkungan penata keluwesan berpikir, bertindak, bersikap dan berperilaku, sekolah memang mesti bersih dari gangguan-gangguan negatif. Jika tidak, bukan siswa saja yang terdampak melainkan juga sekolah dan guru-gurunya ikut terpengaruh suasana.

Bahaya Radikalisme, Kekerasan Seksual dan Perundungan di Sekolah
Radikalisme, atau yang lebih enak disebut sebagai intoleransi merupakan perilaku berbahaya dan bisa memecahkan persatuan bangsa. Bayangkan saja jika intoleransi masuk ke sekolah, apa jadinya anak-anak kita yang haus pada ilmu namun kurang fondasi keagamaan.

Terlebih lagi hari ini begitu banyak video-video singkat di YouTube yang diedit oleh orang-orang tidak bertanggung jawab dan mengarah kepada pandangan radikalisme.

Jangankan anak sekolah, orang dewasa yang baru-baru hijrah saja sangat mudah termakan dengan radikalisme. Terang saja, mereka juga tidak memiliki fondasi keilmuan agama yang kuat hingganya mudah saja percaya dengan ini dan itu.

Akhirnya, mudah saja terjadi bentrok hanya karena beda dalil, beda agama, beda suku, beda kebiasaan, hingga beda dalam berbuat baik. Karena sudah termakan ilmu tanpa fondasi, akhlak sesama ditinggalkan.

Begitu pula tentang kekerasan seksual di sekolah, sama berbahayanya. Terang saja, belum lama ini kita sempat terkejut dengan kasus guru agama di Empat Lawang, Sumatera Selatan, yang nekat mencabuli 12 pelajar SMP.

Lucunya, guru agama ini mengaku bahwa dirinya sempat kerasukan jin. Sungguh alasan yang benar-benar di luar nalar. Bagaimana bisa kerasukan jin jika modus yang digunakan guru tadi adalah memberikan uang Rp 15 ribu. Guru saja sebegini perilakunya, bagaimana dengan siswa?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN