OtnasusidE
OtnasusidE Pembelajar

Petani literasi I Bertanam kata-kata di Punggung Bukit Barisan Sumatra

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | 2 Perempuan dengan Tiket Sekali Jalan

13 September 2018   21:47 Diperbarui: 13 September 2018   21:54 591 28 15
Cerpen | 2 Perempuan dengan Tiket Sekali Jalan
Espresso I Foto: OtnasusidE

Perempuan Pertama

Apa yang tidak ada padanya. Cantik memiliki penghasilan tetap. Memiliki asuransi kesehatan. Memiliki rumah. Memiliki motor dan mobil. Bodi sehat dan terawat serta terlatih.

Secara umum perempuan ini ada di atas rata-rata. Pendidikannya pun perguruan tinggi ternama di Jawa.

Ramah dan juga jelas menjadi tempat kaum lelaki untuk cuci mata. Tak perlu obat mata kalau kelilipan, cukup arahkan pandangan mata ke si perempuan maka mata perih akan sembuh dengan sendirinya.

Perempuan ini setiap hari menjelajah jalan menikung, jalan di kebun, jalan di persawahan, jalan yang menjadi pemandangan khas Bukit Barisan Sumatra. Seminggu lima kali dilakoni dengan senyum. Kalau terpaksa menginap di tempat tugas karena sesuatu hal, tetap dilakoni dengan cinta.

Semenjak berkenalan, tak pernah berbicara mengenai keluarga, agama ataupun bertanya mengenai hal-hal yang bersifat pribadi. Semua yang dibicarakan lebih banyak ke hal-hal yang berkutatan dengan pekerjaan di lapangan.

Satu waktu di temaram tepian Sungai Lematang. Perempuan ini mengajak bertemu. Pertemuan sempat tertunda beberapa kali karena diriku harus ikut ke kalangan menjual ayam dan telur ayam.

Perempuan ini datang dengan pakaian kasual. Tubuhnya yang terlatih terlihat jelas setelah jaketnya di lepas, tinggal kaos polo saja yang membalut tubuh perempuan yang masih menjomblo ini --gosip yang beredar di kalangan lelaki.

Daku terkejut ketika dari jaketnya dikeluarkan sekotak rokok mentol. Tangannya yang lentik dengan lincah memantikkan api dari pemantik. Satu kali sedotan dalam, dan asap berpola lingkaran keluar dari mulutnya.

Perempuan ini ternyata memiliki rahasia yang tak kuketahui. Aku tak menyangka kalau dia perokok dan pandai merokok. Aku sebut pandai karena dia begitu menikmati setiap tarikan sedotan dari rokok dan mengeluarkannya dengan aneka bentuk.

Seorang perempuan menawarkan aneka kopi dan makanan di pinggiran lematang. Dipesanlah dua gelas, satu kopi hitam dan satu cappucino serta satu piring pisang goreng keju. Daku hanya memesan kopi espresso.

Aliran Sungai Lematang musim kemarau ini terlihat samar dari tempat duduk kami yang berada tepat di garis sepandang sungai. Angin sepoi malam yang menerpa wajah kami pun belum membukakan satu katapun sebagai kata pembukaan pertemuan.

Ketika tadi bertemu pun tidak ada kata yang keluar dari mulutku ataupun mulutnya. Kata yang keluar adalah ketika memesan makanan dan minuman pada pelayan.

Akupun jengah untuk memulai keterkejutanku pada perempuan yang kuanggap sempurna ini. Hal yang sama sepertinya terjadi pada si perempuan. Apakah kesunyian ini akan terus berlanjut sampai pesanan kami datang. Aku tak tahu.

"Terkejutkah kalau aku perokok dan tidak sesempurna seperti perempuan pada umumnya?," tanya si perempuan membuka pembicaraan.

Aku yang bertubuh mbulet, hitam dan jarang gunting rambut serta tak pernah berpakaian yang baik berusaha untuk berkata, tetapi mulutku terkunci.

"Apa komentarmu kalau aku mulai sekarang menunjukkan pemberontakan yang ada dalam diriku yang sebenarnya. Aku bukan perempuan baik-baik seperti yang dibayangkan oleh orang banyak. Aku perempuan yang tak bermoral," katanya nyerocos.

Keningku yang memang sudah berlipat menjadi berkerut. Dan akhirnya aku bisa mengeluarkan keberanian untuk mengatasi keadaan dari keterkejutanku.

"Kamu ngomong apa? Lebih baik kau simpan saja apa yang ingin kau katakana padaku. Janganlah diumbar. Lepaskanlah ketika kau berlari. Lepaskanlah ketika kau aerobik," kataku.

"Aku kira kau lelaki bajingan seperti yang lain. Mau mendengarkan curhatan perempuan dan kemudian mengambil keuntungan dari perempuan yang curhat. Menciptakan ketergantungan curhat dan kemudian cinta-cintaan setepuk dua tepuk kemudian ditinggalkan," kata si perempuan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3