Mohon tunggu...
Opa Jappy
Opa Jappy Mohon Tunggu... Konsultan - Orang Rote yang Bertutur Melalui Tulisan
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

http://jappy.8m.net

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Protes, Demo, Kerusuhan yang Terulang di AS

8 Juni 2020   12:14 Diperbarui: 8 Juni 2020   12:21 99
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi
Kematian George Floyd memang tragis; ia tewas setelah mendapat pertolongan di RS. Kematian tersebut, langsung menjadi trending, karena sebelumnya vidio penyiksaan terhadapnya beredar di seantero Dumay.

Dalam hitungan menit, berita kematian tersebut berlanjut menjadi aksi demo, protes, dan dilanjutkan dengan kerusuhan sosial. Memang, saat ini sudah mereda, namun kerusuhan tersebut telah memporakporandakan hubungan sosial, menghancurkan properti, penjarahan, bahkan secara sporadis terjadi aksi 'pukul-memukul' antar warga, (dan vidio-vidio dan foto beredar hingga Grup-grup WA di Indonesia. Saya pun melarang anggota Grup Indonesia Hari Ini memposting foto dan vidio kerusuhan di AS).

Namun, di balik itu, ada Warganet, utamanya ABG, melalui akun Medsos mereka, melihat kematian George Floyd sebagai bentuk 'awal pemicu' rasisme di AS, padahal tidak seperti itu. Dari jejak digital, ada sejumlah kematian warga kulit hitam yang memicu aksi protes, demo, rusuh di USA. 

Jika diurut jauh ke belakang, pada konteks sosio-kultural-pol-kum-ham AS, hubungan antar warga tidak lepas dari sejumlah kasus-kasus kekerasan antar warga, bahkan perang saudara, dipicu oleh sentimen perbedaan SARA, utamanya antar warga 'berkulit putih dan hitam atau berwarna;' misalnya kulit putih vs turunan Afrika, Indian, atau pun Amerika Latin.  Walau seperti itu, upaya-upaya untuk menyatukan perbedaan (dan sentiment) SARA, terus menerus dilakukan sebagai upaya bersama. Semuanya bertujuan agar terjadi 'semakin tipisnya' perbedaan sehingga menjadi 'We are American.'

Jadi, kerusuhan pasca kematian George Floyd tersebut, bisa disebut sebagai 'kerusuhan yang terulang;' dalam artian hal yang sama pernah dan sudah terjadi sebelumnya; dan kini terulang kembali. Dengan demikian, walau Warga Amerika, sering terlihat dalam/dan melalui frasa 'Kebanggaan Amerika, I am American,'  tidak bermakna mereka tidak menyimpan perbedaan SARA dalam hidup serta kehidupan mereka.

Mereka tetap menyimpan atau mengarsip hal tersebut dalam hati, tidak pernah dilupakan serta melupakannya, akibatnya, sewaktu-waktu apa-apa yang tersimpan tersebut dapat terekspos keluar. Atau, jika ada pemicunya, maka sentimen SARA yang tersimpan tersebut, dikeluarkan; kemudian memunculkan vandalisme, kekerasan, atau pun kerusuhan.

Sikap Kita

Kenyataan yang tak bisa dibantah bahwa tak seorang pun bisa memilih untuk tidak/dan mau dilahirkan di/dalam batasan etnis, sub-suku, suku, golongan, dan agama tertentu. Dalam perbedaan seperti itu, seseorang lahir, bertumbuh, dan berinteraksi, kemudian secara bersama memasuki dunia dan masyarakat yang lebih luas, misalnya sebagai Bangsa dan Negara.  

Pada sikon itu, sebagai Bangsa dan Negara, semuanya harus bisa, mampu, berupaya menyatukan diri agar menjadi kesatuan dan persatuan besar; kesatuan dan persatuan yang berani melepaskan diri dari sekat-sekat perbedaan, termasuk sentimen SARA. Itu, yang utama dan pertama terjadi pada masyarakat atau Warga Negara di seluruh Dunia, termasuk Indonesia.

Agaknya, apa-apa yang seharusnya terjadi tersebut, hanya 'tipis' di AS, dan mungkin juga Indonesia, Negeri Tercinta ini. Jika benar, masih 'hubungan yang tipis' di Indonesia tersebut, maka perlu terus-menerus melakukan upaya mempererat hubungan antar sesama anak bangsa, misalnya melalui memperlakukan Sumpah Pemuda dan Pilar-pilar Persatuan Bangsa di/dalam hidup dan kehidupan setiap hari.

Cukup lah

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun