Mohon tunggu...
SANTOSO Mahargono
SANTOSO Mahargono Mohon Tunggu... Pustakawan - Penggemar Puisi, Cerpen, Pentigraf, Jalan sehat, Lari-lari dan Gowes

Pada mulanya cinta adalah puisi. Baitnya dipetik dari hati yang berbunga

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Jurus Tertinggi

7 Desember 2020   22:34 Diperbarui: 9 Desember 2020   03:03 306
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Pertarungan tak terelakkan. Pendekar perguruan Donowarih melawan pendekar perguruan Mata Macan. Semua jurus dikerahkan. Saling menyerang, menerkam, menangkis, memukul dan bergantian jurus.

Masing-masing memiliki daya linuwih, dan masing-masing juga mulai menata energi yang terkuras. Sebab ini pertarungan tangan kosong, tanpa senjata. Semua hanya mengandalkan jurus-jurus silat yang jitu. Sekali lengah, maka akan fatal akibatnya.

Kedua pendekar masih mengerahkan jurus-jurusnya. Kali ini Respati mengeluarkan jurus kera. Sedangkan lawannya mengerahkan jurus merak. Saling mengimbangi dan tak mau kalah. Menyerang ditangkis. Diserang dan menangkis. Demikian seterusnya.

Alhasil sampai senja tiba, kedua pendekar kehabisan tenaga. Semua jurus telah bergantian dikerahkan. Tubuh mereka basah oleh keringat. Rambut acak-acakan. Berbagai luka juga menghiasi tubuh mereka yang sama-sama telanjang dada.

Lantai rumah yang masih beralas tanah seperti usai terkena badai topan. Suara-suara pukulan yang mengenai tubuh berangsur senyap. Kedua pendekar lemas dengan kakinya masing-masing. Nafasnya tersengal-sengal. Petang merayap, kedua pendekar terhuyung-huyung dan ambruk tak berdaya.

Mereka tertidur pada saat yang bersamaan. Membiarkan istri Respati yang sudah mulai pucat pasi tergolek kehabisan darah.

Kabut pertanda malam menerobos ke dalam rumah. Suasana gelap dan sangat dingin. Suara serangga Tonggaret menyanyikan lagu hutan silih berganti.

Purnama melintas diatas hutan. Beberapa utusan temaram turun ke bumi. Mereka menemukan dua pendekar yang tergolek lemas serta seorang perempuan yang sudah tak bernyawa.

Dibawanya perempuan itu terbang ke langit. Tubuhnya disemayamkan di rembulan. Bintang-bintang ikut melayat. Perlahan tubuh itu berubah menjadi pendar temaram, yang akan terlihat melingkar di bulan saat purnama.
-----*****-----
Keesokan pagi, kedua pendekar disadarkan oleh hangatnya matahari yang masuk melalui celah-celah atap rumbia.

Mereka mencoba bangkit, tapi tak sanggup. Mata mereka berpandangan ingin menyerang kembali, tapi sudah hilang energi yang terkumpul. Tubuh seperti layuh tak mampu berdiri.

Saat kondisi kritis seperti itu, Respati teringat pesan gurunya: "Jangan tidur di pagi hari sampai matahari meninggi"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun