Mohon tunggu...
Santoso MAHARGONO
Santoso MAHARGONO Mohon Tunggu... Pustakawan

Aku pembelajar yang mencoba masuk pada labirin puisi dan tersesat menghafal rute menuju cintamu

Selanjutnya

Tutup

Puisi Artikel Utama

Puisi | Lelaki Petang yang Rapuh

16 Februari 2020   14:18 Diperbarui: 18 Februari 2020   18:24 214 22 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Puisi | Lelaki Petang yang Rapuh
Photo by GEORGE DESIPRIS from Pexels

Kau coba menulis surat kepada lentera sebelum petang mengetuk pintu kamar. Saat itu pena menari bersama redup di penghujung paragraf. Katamu sulit mendefinisikan rindu melalui surat, sebab terlalu banyak kata yang basah, sisa gerimis yang terbawa senja hari ini.

Butuh anak tangga untuk sampai di ruang pemahaman, seperti ceritamu tentang mendaki bukit mencari sisa kunang-kunang.

Mungkin karena aku sebagai lelaki yang tak pernah melihatmu dalam terang. Aku hanya sanggup memayungimu dari gerimis. Lalu kuberikan jaketku mendekap tubuhmu. Kutinggalkan punggungmu tanpa aksara. Kau tetap berdiri menunggu kepalsuan di atas trotoar. Memeras waktu dari cinta yang beralih rupa menjadi uang. 

Saat kubawa bayangan wajahmu, ada rasa termangu berdiri membeku. Kau perempuan penuh marabahaya, sedangkan aku lelaki petang yang rapuh.

Sekejap lagi malam akan menimbun gelisahku. Kuharap besok kita bertemu lagi. Supaya aku bisa mencari di pupil matamu, berbagai harap yang tak sempat kau tuliskan pada lentera. Bukan uang dan janji, tapi hidup bersama kita jalani.  

SINGOSARI, 16 Februari 2020

"Terkadang siapa yang peduli dengan nista, namun Tuhan membantu kita membersihkan harapan yang sudah berlumpur"

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x